Kota Depok memiliki luas wilayah 200,29 km² dengan populasi yang diproyeksikan menembus 2,2 juta jiwa pada tahun 2025. Sebagai kota yang berbatasan langsung dengan Jakarta Selatan (Jagakarsa/Cilandak), Depok memiliki densitas penduduk tinggi mencapai 11.000 jiwa per km². Pasar hunian di sini digerakkan oleh dua mesin utama: permintaan dari kaum komuter yang bekerja di Jakarta dan kebutuhan hunian sewa bagi lebih dari 100.000 mahasiswa (UI, Gunadarma, UIII). Dengan dibukanya Tol Desari (Depok-Antasari) dan Tol Cijago (Cinere-Jagorawi), valuasi properti tapak di Depok mengalami kenaikan signifikan, menjadikannya alternatif utama bagi mereka yang tidak terjangkau harga rumah di Jakarta Selatan.
Dalam peta pencarian rumah dijual di Kota Depok, zonasi pasar terbagi berdasarkan aksesibilitas. Kawasan Cinere, Limo, dan Andara adalah zona premium ("New South Jakarta") yang menjadi incaran selebriti dan eksekutif karena akses langsung ke tol Desari. Grand Depok City (GDC) dan Cilodong mendominasi pasar rumah cluster keluarga dengan tata kota mandiri yang rapi. Sementara itu, Sawangan dan Bojongsari kini menjadi primadona baru untuk pengembangan township modern (seperti Shila at Sawangan) yang menawarkan hunian asri dengan lahan yang lebih luas. Di sisi lain, Citayam dan Cipayung tetap menjadi basis pencarian rumah terjangkau yang padat penduduk.
Baca Juga : Rekomendasi 5 Perumahan di Cinere Lingkungan Asri & Mapan
Sejarah perumahan di Depok dimulai dengan pembangunan Perumnas Depok (Depok 1 dan 2) pada tahun 1976, yang mengubah wajah kota kecamatan ini menjadi kawasan permukiman terencana. Momentum terbesar terjadi pada tahun 1987 saat Universitas Indonesia (UI) pindah dari Salemba ke Depok, memicu ledakan pembangunan hunian di sepanjang Jalan Margonda. Pada era 2000-an, kawasan Kota Kembang bertransformasi menjadi Grand Depok City, menandai era hunian skala kota di wilayah ini.

Vasanta Group