Tanah di Jakarta Selatan adalah aset dengan tingkat kelangkaan (scarcity) tertinggi. Hampir tidak ada lagi lahan kosong ("tanah mentah") yang luas, sehingga transaksi didominasi oleh tanah dengan bangunan tua (landed property). Fenomena paling menarik dalam data pertanahan Jaksel adalah Gentrifikasi Komersial, di mana kawasan hunian tenang seperti Senopati, Gunawarman, dan Cikajang berubah fungsi menjadi distrik komersial F&B dengan lonjakan harga tanah mencapai 3-4 kali lipat dalam satu dekade.
Optimasi pencarian tanah dijual di Jakarta Selatan memiliki segmentasi tajam. SCBD dan Lingkar Mega Kuningan adalah zona merah untuk tanah komersial high-rise dengan harga per meter tertinggi di nasional. Kawasan Menteng Dalam dan Tebet menjadi target investor untuk pembangunan kost eksklusif karyawan. Di wilayah selatan (Jagakarsa/Ciganjur), pengembang masih memburu tanah darat luas untuk dipecah menjadi cluster townhouse, satu-satunya wilayah di Jaksel yang masih memungkinkan pengembangan horizontal skala menengah.
Secara historis, Jakarta Selatan adalah daerah resapan air dan kebun buah (seperti Kebun Jeruk, Kebun Baru). Transformasi masif terjadi akibat desentralisasi bisnis dari Jakarta Pusat. Tanah-tanah yang dulunya kebun salak di Condet atau Pasar Minggu kini telah berubah menjadi aset hunian padat bernilai miliaran.

Intiland