Tanah di Kota Depok memiliki karakteristik nilai yang unik. Di pusat kota (Margonda), tanah adalah aset komersial murni dengan harga per meter yang fantastis, cocok untuk pembangunan gedung tinggi. Namun, di wilayah pengembangan baru seperti Sawangan dan Bojongsari, tanah masih menjadi aset land banking yang diburu pengembang besar untuk proyek township. Pembukaan akses tol baru (Desari & Cijago Seksi 3) telah membuka "gembok" isolasi wilayah barat dan timur Depok, memicu lonjakan harga tanah (capital gain) yang signifikan dalam 3 tahun terakhir.
Optimasi pencarian tanah dijual di Kota Depok harus spesifik pada tujuan. Kukusan dan Beji adalah zona merah untuk pencarian tanah kavling kost karena permintaan sewa mahasiswa yang tak pernah surut. Jalan Raya Sawangan dan Muchtar menjadi target investor untuk tanah komersial dan perumahan cluster. Kawasan Tapos dan Cimanggis banyak dicari untuk tanah gudang dan logistik skala kecil karena akses Tol Jagorawi. Sementara Cinere tetap menjadi lokasi premium untuk kavling siap bangun hunian mewah.
Lihat Juga : Tanah Dijual di Depok, Jawa Barat | Siap KPR
Secara historis, tanah di Depok berawal dari tanah partikelir milik tuan tanah Cornelis Chastelein pada abad ke-17 yang diwariskan kepada 12 marga "Kaum Depok". Transformasi agraria besar-besaran terjadi pada tahun 1980-an untuk pembangunan Kampus UI, yang mengubah kebun karet dan belimbing menjadi pusat pendidikan. Kini, sisa-sisa lahan hijau di Sawangan sedang mengalami konversi cepat menjadi kawasan urban modern.
