Kecamatan Kebayoran Baru adalah wilayah seluas 12,93 km² yang menyandang status sebagai kawasan hunian paling prestisius dan terencana (well-planned) di Indonesia. Sebagai "Kota Taman" (Garden City) pertama di tanah air, wilayah ini memiliki rasio jalan dan ruang hijau yang sangat ideal, menciptakan lingkungan hunian yang asri, teduh, namun berada tepat di jantung kota. Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dan harga pasar rumah di sini secara konsisten menempati peringkat tertinggi di Jakarta Selatan, menjadikannya aset "trofi" bagi konglomerat, pejabat tinggi negara, dan diplomat asing. Stabilitas nilai properti di Kebayoran Baru sangat tinggi (recession-proof) karena kelangkaan lahan dan gengsi lokasi yang tak tergantikan.
Dalam peta pencarian rumah dijual di Kebayoran Baru Jakarta Selatan, zonasi pasar terbagi berdasarkan tingkat eksklusivitas. Kawasan Dharmawangsa, Kertanegara, dan Pakubuwono adalah zona "Ring 1" untuk pencarian rumah mewah klasik dan mansion dengan harga ratusan miliar rupiah. Wilayah Senopati dan Gunawarman menjadi incaran investor karena potensi alih fungsi menjadi komersial atau hunian sewa ekspatriat. Sementara itu, kawasan Radio Dalam dan Gandaria menawarkan opsi rumah elite yang lebih dinamis, dekat dengan pusat perbelanjaan dan akses MRT.
Sejarah perumahan di Kebayoran Baru dimulai pada tahun 1948 oleh Centrale Stichting Wederopbouw (CSW). Dirancang oleh arsitek H. Moh. Soesilo, kawasan ini dibagi menjadi blok-blok (Blok A hingga S) dengan peruntukan yang spesifik. Arsitektur rumah Jengki (Yankee) yang ikonik pada tahun 1950-an banyak lahir di sini. Hingga kini, tata ruang Kebayoran Baru tetap menjadi benchmark standar permukiman terbaik di Indonesia.

Intiland