Kabupaten Bogor memiliki wilayah daratan yang sangat luas (2.710 km²), menjadikannya lumbung tanah terbesar di Jabodetabek. Namun, disparitas harga tanah antar wilayah sangat tajam. Tanah di kawasan sunrise property seperti Sentul dan sekitar pintu tol harganya terus meroket, sementara di wilayah pinggiran (fringe areas) harga masih sangat terjangkau. Pembangunan Jalan Tol JORR 3 (Sentul Selatan-Karawang Barat) dan Tol Tambang diprediksi akan membuka akses dan menaikkan valuasi lahan di wilayah timur dan utara kabupaten secara drastis dalam 5 tahun ke depan.
Optimasi pencarian tanah dijual di Kabupaten Bogor harus membedakan tujuan investasi. Jonggol, Cariu, dan Tanjungsari adalah primadona untuk investasi tanah kavling murah dan land banking masa depan. Kawasan Gunung Putri dan Citeureup selalu dicari untuk tanah industri dan gudang karena akses tol Jagorawi. Di selatan, Puncak dan Megamendung adalah lokasi premium untuk tanah villa dan agrowisata. Sedangkan Parung dan Kemang (Bogor) menawarkan tanah darat siap bangun yang strategis di jalur penghubung Bogor-Jakarta Selatan.
Sejarah pertanahan di sini berakar dari tanah-tanah partikelir luas (Landhuizen) milik tuan tanah Belanda dan perkebunan negara (PTPN). Sejak tahun 1990-an, terjadi konversi lahan masif dari perkebunan teh, karet, dan sawah menjadi kawasan industri dan kota mandiri. Fenomena "kavling kurma" atau "kavling produktif" yang sempat booming di wilayah timur Bogor juga mewarnai dinamika pasar tanah di dekade terakhir.

Kalindo Land
MAS Group