Kecamatan Limo memiliki luas wilayah 11,84 km² dan kini menjadi salah satu kawasan dengan pertumbuhan nilai properti tertinggi di Kota Depok. Transformasi Limo dari kawasan pinggiran menjadi hotspot hunian dipicu oleh beroperasinya Simpang Susun Limo (Limo Interchange) yang mempertemukan tiga ruas tol utama: Cijago, Desari, dan Serpong-Cinere. Infrastruktur ini membuka aksesibilitas tanpa batas, memungkinkan penghuni Limo mencapai Bandara Soetta atau CBD TB Simatupang dalam waktu singkat. Dengan densitas yang belum sepadat Cinere namun fasilitas yang setara, Limo menjadi pilihan utama bagi first-time home buyers yang menginginkan rumah tapak dengan capital gain agresif.
Dalam peta pencarian rumah dijual di Limo Kota Depok, terjadi pergeseran tren yang signifikan. Kawasan Grogol dan Krukut (dekat gerbang tol) adalah zona premium untuk pencarian rumah cluster akses tol dan hunian dua lantai modern. Meruyung (sekitar Kubah Emas) mendominasi pasar rumah keluarga dengan lingkungan yang asri dan dekat destinasi wisata religi. Sementara itu, wilayah Limo (Jalan Pendowo/Sasak) menjadi basis pencarian rumah minimalis terjangkau yang menawarkan alternatif lebih murah dibandingkan harga properti di sisi Cinere atau Gandul.
Sejarah perumahan di Limo dulunya didominasi oleh pemukiman warga lokal Betawi dan kebun campuran. Pembangunan Masjid Kubah Emas pada tahun 2006 menjadi milestone pertama yang mengangkat nama Limo. Namun, ledakan properti sesungguhnya baru terjadi pasca 2018 saat konstruksi tol dimulai. Pengembang skala menengah mulai membebaskan lahan-lahan kebun untuk diubah menjadi townhouse modern, mengubah wajah Limo menjadi kawasan suburban yang rapi dan strategis.
