Provinsi Banten mencakup wilayah seluas 9.662,92 km² dengan populasi yang diproyeksikan menembus 13,5 juta jiwa pada tahun 2025. Sebagai wilayah penyangga ibu kota (hinterland) paling strategis, Banten mengalami laju urbanisasi yang sangat cepat, terutama di kawasan Tangerang Raya yang berbatasan langsung dengan Jakarta. Kepadatan penduduk di kota-kota satelit seperti Tangerang Selatan telah mencapai 8.000-11.000 jiwa per km², menciptakan permintaan hunian yang masif. Pasar perumahan di Banten sangat unik karena menawarkan spektrum lengkap, mulai dari Kota Mandiri berstandar internasional dengan fasilitas lengkap hingga pengembangan Kota Baru Maja yang berbasis Transit Oriented Development (TOD) untuk segmen terjangkau.
Dalam peta pencarian rumah dijual di Banten, zonasi lokasi sangat menentukan kelas aset. Tangerang Selatan (BSD City, Bintaro Jaya, Alam Sutera) dan Kabupaten Tangerang (Gading Serpong, Citra Raya) adalah episentrum pencarian rumah cluster premium dan hunian kelas menengah atas yang didukung infrastruktur tol. Kawasan Maja dan Tigaraksa kini menjadi primadona untuk rumah subsidi dan rumah harga 200-500 jutaan berkat akses KRL Commuter Line. Sementara itu, Kota Serang dan Cilegon memiliki pasar tersendiri yang didominasi oleh perumahan karyawan industri dan hunian warga lokal yang dekat dengan pusat pemerintahan provinsi.
Sejarah perumahan modern di Banten dimulai pada akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an dengan pembangunan Bintaro Jaya dan kemudian Bumi Serpong Damai (BSD). Para pengembang raksasa ini mengubah ribuan hektar lahan perkebunan karet dan tanah merah menjadi kota-kota terencana (planned cities) yang revolusioner. Konsep ini mengubah wajah Banten dari sekadar daerah pelintas menuju pelabuhan Merak, menjadi destinasi hunian elit yang menyaingi Jakarta Selatan.
