Tanah di Banten adalah aset dengan nilai strategis tinggi karena posisi geografisnya sebagai jalur logistik utama Jawa-Sumatera. Dengan luas daratan 9.662 km², provinsi ini menjadi tuan rumah bagi ribuan pabrik dan kawasan industri vital. Pembangunan infrastruktur masif seperti Tol Serang-Panimbang yang sedang berjalan diprediksi akan membuka kantong-kantong ekonomi baru di wilayah Banten Selatan (Pandeglang/Lebak), memicu kenaikan harga tanah (land value capture) yang signifikan di area yang dulunya terisolasi. Ini menjadikan tanah di Banten instrumen investasi land banking yang sangat seksi bagi investor jangka panjang.
Optimasi pencarian tanah dijual di Banten harus dipetakan berdasarkan peruntukannya. Kawasan Cikande, Modernland Cilegon, dan Balaraja adalah zona merah untuk pencarian tanah industri dan pergudangan. Wilayah Serpong dan Tangerang Selatan menawarkan kavling komersial premium dengan harga per meter yang sudah setara Jakarta. Di sisi lain, Kabupaten Lebak (Maja) dan Pandeglang menjadi target investor untuk tanah mentah luas dan kavling harga murah yang dipersiapkan untuk pengembangan kota baru masa depan dan pariwisata.
Sejarah agraria Banten sangat kental dengan dominasi Kesultanan Banten sebagai pusat pertanian lada di masa lampau. Transformasi besar terjadi di era Orde Baru dengan penetapan Cilegon sebagai pusat industri baja nasional (Krakatau Steel), yang memicu alih fungsi lahan besar-besaran di pantai utara. Sejak tahun 1990-an, penguasaan lahan oleh pengembang properti besar di Tangerang Raya juga mengubah struktur kepemilikan tanah secara drastis dari agraris menjadi urban real estate.
