Kota Bandung memiliki luas wilayah administratif 167,31 km² dengan populasi yang diproyeksikan mencapai 2,6 juta jiwa pada tahun 2025. Sebagai ibu kota provinsi, tingkat kepadatan penduduknya sangat tinggi, mencapai rata-rata 15.000 jiwa per km², bahkan lebih padat di kecamatan pusat seperti Andir dan Bojongloa. Keterbatasan lahan di pusat kota (land scarcity) telah mendorong tren pengembangan hunian tapak bergeser secara masif ke wilayah Bandung Timur (Arcamanik, Gedebage) dan Bandung Kidul. Pasar rumah di Bandung sangat unik karena dipengaruhi oleh kontur tanah; rumah di kawasan utara (dataran tinggi) memiliki valuasi premium karena pemandangan dan udara sejuk, sementara wilayah timur menawarkan potensi kenaikan harga (capital gain) tertinggi seiring pengembangan kawasan teknopolis.
Dalam peta pencarian rumah dijual di Kota Bandung, zonasi pasar terbagi sangat tajam berdasarkan prestise dan fungsi. Kawasan Dago, Setiabudi, dan Ciumbuleuit (Bandung Utara) adalah "Menteng-nya Bandung", lokasi absolut untuk pencarian rumah mewah heritage dan villa elit. Wilayah Buahbatu dan Batununggal menjadi favorit hunian keluarga mapan karena akses tol dan tata kota yang rapi. Sementara itu, Arcamanik, Antapani, dan Gedebage mendominasi pasar rumah menengah dan cluster baru yang menjadi incaran milenial karena kedekatan dengan stasiun Kereta Cepat Whoosh (akses Tegalluar) dan Masjid Al-Jabbar.
Sejarah perumahan di Kota Bandung berakar dari konsep perencanaan kota kolonial Thomas Karsten yang merancang Bandung sebagai Tuinwijk (Kota Taman). Kawasan perumahan elit pertama seperti Geger Kalong dan Cipaganti dibangun untuk orang Eropa dengan arsitektur Indische. Pada era 1980-an dan 1990-an, pengembangan meluas ke kawasan Margahayu dan Metro, mengubah lahan persawahan menjadi kompleks perumahan massal yang kini membentuk wajah demografi kota.
