Kecamatan Cibitung adalah salah satu wilayah terpadat di Kabupaten Bekasi dengan luas wilayah sekitar 45,30 km² dan populasi lebih dari 240.000 jiwa. Sebagai penyangga utama Kawasan Industri MM2100 yang mempekerjakan ratusan ribu karyawan, permintaan hunian di sini sangat masif dan bersifat inelastis. Transformasi infrastruktur terjadi sangat radikal dengan beroperasinya Stasiun KRL Metland Telaga Murni dan Stasiun Cibitung, serta koneksi Tol Cibitung-Cilincing (JORR 2). Hal ini mendongkrak valuasi properti residensial di Cibitung, mengubahnya dari kawasan pinggiran industri menjadi destinasi hunian berbasis Transit Oriented Development (TOD) yang sangat strategis bagi pelaju Jakarta-Bekasi.
Dalam peta pencarian rumah dijual di Cibitung Kabupaten Bekasi, zonasi pasar terbagi sangat tajam antara hunian modern dan perumahan rakyat. Metland Cibitung adalah raja pasar untuk pencarian rumah cluster modern dan premium yang terintegrasi stasiun KRL. Kawasan Wanasari dan Gramapuri mendominasi pasar rumah subsidi & menengah dengan densitas penduduk yang sangat tinggi. Di sisi lain, wilayah Wanajaya dan Muktiwari menjadi target utama pengembang untuk ekspansi perumahan murah dan subsidi baru karena harga tanah yang masih relatif terjangkau dibanding pusat kecamatan.
Sejarah perumahan di Cibitung bermula dari pemukiman buruh pabrik sederhana di sekitar Jalan Teuku Umar dan Pasar Induk. Perubahan besar terjadi pada pertengahan 1990-an dengan pembangunan perumahan skala besar seperti Gramapuri Persada. Namun, revolusi properti sesungguhnya terjadi pada dekade 2010-an ketika PT Metropolitan Land Tbk mengembangkan Metland Cibitung dan membuka akses stasiun KRL di dalam kawasan, menciptakan standar baru hunian kelas menengah di koridor timur Jakarta.
