Kecamatan Ciputat memiliki luas wilayah 18,38 km² dengan kepadatan penduduk yang sangat tinggi karena posisinya sebagai pintu gerbang utama dari Tangerang Selatan menuju Jakarta Selatan. Jaraknya yang hanya sekitar 3-5 km dari Stasiun MRT Lebak Bulus menjadikan Ciputat wilayah hunian paling realistis bagi pekerja Sudirman-Thamrin yang mencari akses cepat namun dengan harga properti yang lebih terjangkau dibanding Cilandak atau Bintaro. Pasar rumah tapak di sini sangat cair (liquid), didominasi oleh permintaan rumah secondary di lingkungan yang sudah matang dan rumah cluster baru di lahan-lahan sisa (infill development).
Dalam peta pencarian rumah dijual di Ciputat Tangerang Selatan, zonasi pasar terbagi berdasarkan kedekatan dengan perbatasan. Kawasan Cirendeu dan Pisangan adalah zona "Ring 1" paling elite untuk pencarian rumah mewah nuansa Bali dan townhouse eksklusif karena aksesnya yang menempel langsung dengan Lebak Bulus. Kampung Utan dan Rengas mendominasi pasar rumah cluster menengah yang asri. Sementara itu, wilayah Jombang dan Sawah Baru menjadi incaran keluarga muda untuk mencari rumah minimalis modern dan cluster baru yang dekat dengan Stasiun KRL Sudimara.
Sejarah pemukiman di Ciputat bermula dari perkampungan Betawi dan perkebunan karet di tepi jalan raya pos (Grote Postweg). Transformasi besar terjadi pada tahun 1974 dengan berdirinya kampus IAIN (sekarang UIN), yang memicu pembangunan hunian dosen dan kos-kosan mahasiswa. Pada era 1990-an dan 2000-an, pengembang swasta mulai mengubah kebun-kebun luas menjadi kompleks perumahan (seperti Bukit Cirendeu dan Nerada), mengubah wajah Ciputat menjadi kota satelit yang padat.
