Dengan luas wilayah daratan yang terbatas pada angka 661,52 km² namun harus menampung aktivitas siang hari (daytime population) yang bisa melonjak hingga 13-14 juta jiwa akibat komuter, DKI Jakarta menghadapi tantangan ruang yang masif. Rasio ketersediaan lahan hunian berbanding terbalik dengan pertumbuhan penduduk sebesar 0,8-1% per tahun. Kondisi ini memaksa pergeseran tren hunian dari horizontal ke vertikal. Konsentrasi apartemen tertinggi berada di jalur-jalur transportasi massal dan pusat bisnis (CBD), dirancang untuk mengakomodasi gaya hidup kaum urban yang membutuhkan efisiensi di tengah kemacetan ibu kota.
Peta pasar apartemen dijual di Jakarta dan sewa apartemen terpolarisasi berdasarkan fungsi wilayah. Jakarta Selatan (Kuningan, SCBD) dan Jakarta Pusat (Sudirman-Thamrin) adalah "hotspot" untuk apartemen mewah dan serviced apartment yang menargetkan ekspatriat dan eksekutif. Kawasan Jakarta Barat (Grogol, Tanjung Duren) mendominasi pasar apartemen mahasiswa dan kelas menengah karena kedekatan dengan kampus trisakti/binus. Sementara itu, Jakarta Utara (Pluit, PIK) menawarkan apartemen view laut, dan Jakarta Timur mulai dipenuhi apartemen dekat LRT yang menyasar first-time home buyers dengan harga lebih kompetitif.
Sejarah hunian vertikal di Jakarta dimulai pada akhir dekade 1970-an dan 1980-an dengan berdirinya apartemen-apartemen perintis seperti Ratu Plaza dan Istana Sahid. Awalnya, apartemen adalah simbol kemewahan yang sangat eksklusif. Namun, pasca krisis moneter 1998 dan berlanjut ke era 2010-an, pembangunan rusunami dan apartemen komersial menengah meledak secara masif, mengubah siluet langit Jakarta menjadi hutan beton untuk menjawab kebutuhan tempat tinggal yang mendesak.

Diamong Land Development