Dengan luas wilayah yang terbatas dan harga tanah di pusat kota (Cikokol/Jend. Sudirman) yang terus meroket, hunian vertikal menjadi kebutuhan primer di Kota Tangerang. Pasar apartemen di sini memiliki captive market yang sangat unik dan kuat, yaitu komunitas pekerja bandara (pilot, pramugari, ground staff) yang jumlahnya puluhan ribu. Permintaan sewa hunian yang dekat dengan bandara sangat tinggi, memberikan rental yield yang stabil bagi investor. Selain itu, kawasan industri di Batuceper dan Jatiuwung juga menyumbang permintaan hunian vertikal untuk level manajerial dan ekspatriat.
Pemetaan pasar apartemen dijual di Kota Tangerang terkonsentrasi di dua poros utama. Poros Bandara (Neglasari & Benda) didominasi oleh apartemen transit seperti Aeropolis yang menyasar kru penerbangan dengan harga terjangkau dan akses shuttle 24 jam. Poros Pusat Kota (Cikokol & Karawaci) menawarkan apartemen superblock seperti Tangcity (Skandinavia) dan Kota Ayodhya yang menyasar keluarga muda dan eksekutif bisnis dengan fasilitas mal terintegrasi. Kata kunci seperti apartemen dekat Bandara Soetta dan sewa apartemen pramugari sangat dominan dalam volume pencarian.
Sejarah apartemen di Kota Tangerang tergolong lebih lambat dibanding Jakarta, namun mulai meledak pasca tahun 2010 seiring dengan ekspansi Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Pengembang mulai menyadari potensi besar dari transit housing, mengubah lahan-lahan kosong di sekitar perimeter bandara dan pusat perbelanjaan menjadi menara hunian yang efisien dan fungsional.
