Dengan pertumbuhan penduduk perkotaan di Tangerang Raya yang mencapai 3-4% per tahun, lahan untuk rumah tapak di lokasi strategis semakin langka dan mahal. Provinsi Banten merespons tantangan ini dengan pembangunan hunian vertikal yang terkonsentrasi di simpul-simpul transportasi. Keberadaan Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan jaringan Tol Jakarta-Merak serta Tol Serpong-Balaraja menjadi katalis utama pertumbuhan pasar apartemen. Segmen pasar di sini sangat beragam, mulai dari kru penerbangan, mahasiswa universitas swasta elit, hingga ekspatriat yang bekerja di kawasan industri Cilegon.
Pemetaan pasar apartemen dijual di Banten terbagi jelas berdasarkan demografi penghuni. Kawasan Lippo Karawaci dan Gading Serpong mendominasi pencarian apartemen dekat UPH/UMN untuk target pasar mahasiswa. Area Kota Tangerang (sekitar Bandara) sangat kuat di segmen apartemen kru bandara dan transit. Bintaro dan BSD City menawarkan apartemen terintegrasi stasiun KRL/Tol untuk para komuter yang bekerja di Jakarta CBD. Di sisi barat, Cilegon mulai mengembangkan apartemen serviced residence untuk melayani tenaga ahli asing di industri baja dan petrokimia.
Tren apartemen di Banten mulai menggeliat pada pertengahan 1990-an dengan hadirnya menara-menara di kawasan Lippo Karawaci yang mengusung konsep superblock (hunian menyatu dengan mal dan rumah sakit). Model pembangunan ini kemudian diadopsi secara masif di Serpong dan Alam Sutera pasca tahun 2000-an, menjadikan Tangerang Raya sebagai wilayah dengan suplai apartemen terbanyak di luar DKI Jakarta.
