Jawa Timur adalah provinsi dengan basis industri terkuat dan lahan pertanian terluas di Jawa. Dengan infrastruktur Tol Trans Jawa yang kini tersambung dari Ngawi hingga Probolinggo (dan berlanjut ke Banyuwangi), valuasi tanah di koridor ini mengalami kenaikan signifikan. Provinsi ini menawarkan ketersediaan lahan industri yang masif dengan upah tenaga kerja yang kompetitif. Selain itu, potensi lahan pariwisata di sekitar lingkar Bromo dan pantai selatan mulai dilirik investor global, menjadikan spektrum investasi tanah di Jatim sangat luas, mulai dari heavy industry hingga eco-tourism.
Optimasi pencarian tanah dijual di Jawa Timur sangat bergantung pada peruntukan zonasi. Gresik (Manyar) dan Mojokerto (Ngoro) adalah target utama investor multinasional untuk tanah industri dan pabrik. Surabaya Pusat dan Barat memiliki harga tanah komersial tertinggi untuk gedung bertingkat. Kawasan Batu dan Prigen diburu untuk tanah villa dan agrowisata. Di ujung timur, Banyuwangi menjadi "bintang baru" dengan lonjakan permintaan tanah pinggir pantai dan area dekat bandara untuk pengembangan hotel resort.
Sejarah pertanahan di Jawa Timur berakar dari sistem perkebunan tebu kolonial (Suikerfabriek) yang mendominasi dataran rendah. Transformasi besar terjadi ketika pemerintah membuka kawasan industri terpadu seperti SIER (Surabaya Industrial Estate Rungkut) pada tahun 70-an, yang kemudian disusul oleh PIER di Pasuruan dan JIIPE di Gresik. Alih fungsi lahan ini menandai pergeseran ekonomi Jatim dari agraris murni menuju industrialisasi modern.
