Kecamatan Kebayoran Lama memiliki luas wilayah 19,31 km² dengan populasi sekitar 300.000 jiwa. Wilayah ini adalah rumah bagi kawasan hunian dengan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dan harga pasar tertinggi di Indonesia, yaitu Pondok Indah. Densitas hunian di kawasan elite ini sengaja dijaga rendah dengan aturan kavling luas dan Koefisien Dasar Hijau (KDH) yang ketat, menciptakan lingkungan yang eksklusif, tenang, dan rindang. Pasar rumah tapak di Kebayoran Lama tidak hanya didorong oleh kebutuhan tempat tinggal, melainkan sebagai instrumen investasi aset high-end dan penegas status sosial (social currency) bagi konglomerat dan ekspatriat papan atas.
Dalam peta pencarian rumah dijual di Kebayoran Lama Jakarta Selatan, zonasi pasar terpolarisasi sangat tajam. Pondok Indah (Bukit Golf/Metro) adalah zona absolut untuk pencarian rumah mewah "Sultan" dengan arsitektur klasik dan mediterania. Kawasan Simprug dan Permata Hijau mendominasi pasar rumah elite yang lebih dekat ke pusat kota (Senayan). Sementara itu, wilayah Cipulir dan Kebayoran Lama Selatan menjadi basis pencarian rumah secondary yang lebih terjangkau dan padat, sering dicari oleh pedagang Tanah Abang atau pekerja kreatif karena lokasinya yang strategis.
Sejarah hunian di Kebayoran Lama berubah selamanya pada tahun 1970-an ketika Ir. Ciputra menyulap hutan karet dan sawah menjadi Pondok Indah, proyek real estate termewah pada zamannya. Konsep ini meniru kawasan Beverly Hills di California, dengan jalan lebar, tiang listrik bawah tanah, dan sistem keamanan terpadu. Kesuksesan Pondok Indah kemudian diikuti oleh pengembangan Permata Hijau di sisi utara, mengukuhkan Kebayoran Lama sebagai distrik hunian orang kaya lama (old money) Jakarta.
