Rooma21 Blog

Belum login? Masuk untuk akses penuh

Pencarian

Akun

Login Daftar
Iklan
Iklan

Apakah Rumah Masih Harus Dimiliki? Ketika Model Hunian Dunia Mulai Berubah

11 March 2026
252 views
Apakah Rumah Masih Harus Dimiliki? Ketika Model Hunian Dunia Mulai Berubah

Series: The Future of Home Ownership

>“Dari rent-to-own hingga co-living, berbagai model hunian baru mulai muncul ketika harga properti, mobilitas kerja, dan perubahan generasi mengubah cara manusia memiliki rumah.”

Apakah Rumah Masih Harus Dimiliki?

Jakarta, Rooma21.com – Dalam artikel sebelumnya dalam series The Future of Home Ownership, kita telah melihat bagaimana krisis keterjangkauan hunian muncul di berbagai kota dunia dan membuat generasi muda semakin sulit membeli rumah pertama. Jika tren tersebut terus berlangsung, maka pertanyaan berikutnya menjadi semakin relevan: apakah kepemilikan rumah akan tetap menjadi model utama dalam sistem hunian di masa depan?

Selama puluhan tahun, memiliki rumah sering dianggap sebagai salah satu tujuan paling penting dalam kehidupan ekonomi seseorang. Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa setelah bekerja beberapa tahun, menabung, dan mencapai stabilitas finansial tertentu, langkah berikutnya adalah membeli rumah pertama. Rumah tidak hanya dipandang sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai simbol kemandirian, keamanan finansial, dan investasi jangka panjang bagi keluarga.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, keyakinan tersebut mulai mengalami perubahan di banyak kota dunia. Di tengah kenaikan harga properti, urbanisasi yang semakin intens, serta perubahan pola kerja dan gaya hidup generasi baru, semakin banyak orang mulai mempertanyakan apakah kepemilikan rumah masih menjadi satu-satunya cara untuk memiliki tempat tinggal yang stabil.

banner cara cari rumah lebih cepat dan akurat, hanya di rooma21

Baca Juga: Global Housing Ownership Models – Seri Rooma21

Di kota seperti London, New York, Seoul, hingga Tokyo, tekanan harga properti membuat akses terhadap kepemilikan rumah semakin sulit bagi banyak generasi muda. Dalam beberapa kasus, harga rumah meningkat jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan masyarakat. Kondisi ini mendorong munculnya berbagai eksperimen dalam model hunian, mulai dari skema shared ownership, rent-to-own, hingga berbagai bentuk hunian kolektif seperti co-living yang menawarkan cara baru untuk mengakses tempat tinggal di kota besar.

Perubahan ini juga menunjukkan bahwa rumah mulai dipahami dengan cara yang berbeda dibanding beberapa dekade lalu. Jika sebelumnya kepemilikan rumah hampir selalu dipandang sebagai tujuan utama dalam perjalanan ekonomi seseorang, kini semakin banyak orang melihat hunian sebagai sesuatu yang dapat diakses melalui berbagai cara yang lebih fleksibel. Dalam konteks kota modern yang semakin dinamis, rumah tidak lagi selalu identik dengan kepemilikan penuh atas sebuah properti.

Berbagai laporan ekonomi dan studi urban development dalam satu dekade terakhir menunjukkan bahwa perubahan ini bukan sekadar fenomena sementara. Laporan World Economic Forum — Making Affordable Housing a Reality in Cities (published 8 June 2019) misalnya mencatat bahwa banyak kota dunia mulai mengembangkan berbagai model kepemilikan hunian yang lebih fleksibel untuk menjawab masalah keterjangkauan rumah di kawasan metropolitan. Model-model tersebut menunjukkan bahwa pasar perumahan global perlahan mulai beradaptasi dengan realitas ekonomi dan sosial yang terus berubah.

Dalam konteks ini, pertanyaan tentang masa depan kepemilikan rumah menjadi semakin relevan. Jika tekanan harga properti, mobilitas kerja, dan perubahan generasi terus berlangsung, maka cara manusia memiliki dan mengakses hunian kemungkinan juga akan ikut berubah.

Artikel ini akan melihat perubahan tersebut secara lebih luas. 

Pertama, kita akan membahas bagaimana konsep kepemilikan rumah mulai dipertanyakan oleh generasi baru di berbagai kota dunia. 

Kedua, kita akan melihat berbagai model kepemilikan hunian alternatif yang mulai berkembang di beberapa negara sebagai respons terhadap 

krisis keterjangkauan rumah. 

Ketiga, artikel ini juga akan membahas fenomena generasi yang mulai lebih terbuka terhadap konsep hunian tanpa kepemilikan penuh, serta bagaimana evolusi hunian di kota modern membentuk pola tempat tinggal yang baru. Pada akhirnya, pembahasan ini juga akan mencoba melihat bagaimana perubahan global tersebut mungkin mempengaruhi arah perkembangan pasar properti di Indonesia.

Baca Juga: 7 Model Kepemilikan Rumah Baru: KPR, Rent-to-Own & AI

>”Dalam banyak kota dunia, masalah hunian tidak lagi hanya soal harga rumah, tetapi juga tentang perubahan cara generasi baru memandang kepemilikan itu sendiri.”

Ketika Kepemilikan Rumah Tidak Lagi Menjadi Satu-satunya Pilihan

Masa Depan Hunian Apakah Rumah Masih Harus Dimiliki (3)

Selama sebagian besar abad ke-20, kepemilikan rumah hampir selalu dipandang sebagai standar utama dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Di banyak negara, membeli rumah pertama sering dianggap sebagai langkah penting menuju stabilitas finansial dan pembentukan aset jangka panjang. Rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga instrumen akumulasi kekayaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Namun dalam dua dekade terakhir, pandangan tersebut mulai mengalami perubahan di banyak kota besar dunia. Tekanan harga properti yang meningkat, mobilitas kerja yang semakin tinggi, serta perubahan pola hidup generasi baru membuat konsep kepemilikan rumah tidak lagi selalu dianggap sebagai satu-satunya pilihan yang ideal.

Perubahan Cara Generasi Baru Memandang Hunian

Generasi milenial dan Gen Z tumbuh dalam kondisi ekonomi yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Banyak dari mereka memasuki dunia kerja setelah krisis finansial global 2008 atau pada periode ketika harga properti di kota besar sudah meningkat signifikan. Akibatnya, jalur menuju kepemilikan rumah sering kali terasa lebih panjang dan kompleks dibanding beberapa dekade sebelumnya.

Selain faktor ekonomi, perubahan gaya hidup juga memainkan peran penting. Mobilitas kerja yang tinggi, munculnya pekerjaan berbasis digital, serta meningkatnya peluang bekerja secara remote membuat banyak orang muda tidak lagi merasa harus menetap di satu kota dalam jangka panjang. Dalam situasi seperti ini, fleksibilitas tempat tinggal sering kali menjadi pertimbangan yang sama pentingnya dengan kepemilikan aset.

Baca Juga: Kepemilikan Rumah di Amerika & Kanada: Rent-to-Own, KPR, AI

Laporan McKinsey Global Institute — The Future of Cities (published October 2023) mencatat bahwa perubahan struktur pekerjaan dan meningkatnya mobilitas tenaga kerja global mulai mempengaruhi cara generasi muda memilih tempat tinggal. Bagi sebagian orang, kemampuan untuk berpindah kota atau negara dengan mudah menjadi bagian dari strategi karier dan gaya hidup modern.

Banner Lebak Bulus | Cari Rumah Secondary di Lebak Bulus | Di Kawasan Perumahan Mapan Hunian Terawat Siap Huni | KPR Dibantu Sampai Dengan Akad | Lokasi Strategis, Akses Mudah | cari rumah lebak bulus

Rumah sebagai Tempat Tinggal vs Rumah sebagai Aset

Perubahan berikutnya juga terlihat dalam cara rumah diposisikan dalam sistem ekonomi. Selama beberapa dekade, rumah sering dipandang sebagai investasi jangka panjang yang relatif aman. Kenaikan harga properti di banyak kota membuat kepemilikan rumah tidak hanya memberikan tempat tinggal, tetapi juga peluang peningkatan nilai aset.

Namun ketika harga rumah meningkat jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan, fungsi rumah sebagai aset mulai menimbulkan dilema baru bagi generasi muda. Di satu sisi, kepemilikan rumah tetap dianggap sebagai instrumen pembentukan kekayaan. Di sisi lain, harga yang semakin tinggi membuat akses terhadap aset tersebut menjadi semakin sulit.

Laporan OECD — Brick by Brick: Building Better Housing Policies (published 16 May 2021) menunjukkan bahwa di banyak negara maju, harga rumah telah meningkat lebih cepat dibanding pendapatan rumah tangga selama lebih dari satu dekade. Ketika rasio harga rumah terhadap pendapatan meningkat, kepemilikan rumah menjadi semakin sulit dijangkau oleh rumah tangga yang baru memasuki pasar perumahan.

Mengapa Konsep Kepemilikan Mulai Dipertanyakan

Dalam konteks inilah konsep kepemilikan rumah mulai dipertanyakan kembali di berbagai kota dunia. Bagi sebagian generasi muda, kepemilikan rumah tidak lagi selalu dipandang sebagai tujuan yang harus dicapai dalam usia tertentu. Sebaliknya, hunian mulai dipahami sebagai bagian dari keputusan hidup yang lebih fleksibel, yang dapat berubah mengikuti kondisi ekonomi dan kebutuhan pribadi.

Fenomena ini tidak berarti bahwa keinginan untuk memiliki rumah telah hilang. Berbagai survei menunjukkan bahwa banyak generasi muda masih melihat kepemilikan rumah sebagai tujuan jangka panjang. Namun jalan menuju tujuan tersebut kini sering kali lebih panjang, lebih kompleks, dan tidak selalu mengikuti pola yang sama seperti generasi sebelumnya.

Baca Juga: Rumah di Amerika Latin: Subsidi Negara & Cicilan Bertahap

Perubahan cara pandang ini kemudian membuka ruang bagi munculnya berbagai model hunian baru di berbagai negara. Ketika kepemilikan penuh atas sebuah rumah menjadi semakin sulit dicapai oleh sebagian masyarakat, berbagai eksperimen dalam sistem kepemilikan parsial, skema pembelian bertahap, hingga model hunian kolektif mulai berkembang sebagai alternatif.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa sektor perumahan global tidak hanya mengalami perubahan harga atau siklus pasar semata. Dalam banyak kasus, perubahan ini juga menyentuh aspek yang lebih mendasar: bagaimana manusia memandang rumah, kepemilikan, dan tempat tinggal di tengah ekonomi kota yang terus berubah.

Fenomena Generasi “Anti-Milik”

Masa Depan Hunian Apakah Rumah Masih Harus Dimiliki (3)

Di tengah meningkatnya harga properti dan perubahan gaya hidup urban, muncul fenomena yang cukup menarik dalam beberapa tahun terakhir. Di berbagai kota besar dunia, sebagian generasi muda mulai mempertanyakan kembali apakah kepemilikan rumah harus selalu menjadi tujuan utama dalam kehidupan ekonomi mereka.

Fenomena ini sering disebut oleh beberapa analis sebagai munculnya kecenderungan “anti-ownership” atau generasi yang tidak lagi melihat kepemilikan aset fisik sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan finansial. Istilah ini tentu tidak selalu berarti generasi muda benar-benar menolak kepemilikan rumah. Namun dalam banyak kasus, mereka lebih terbuka terhadap berbagai alternatif tempat tinggal yang tidak selalu berujung pada kepemilikan penuh atas sebuah properti.

Perubahan ini sering muncul dari kombinasi faktor ekonomi, sosial, dan teknologi yang mempengaruhi cara generasi baru memandang pekerjaan, mobilitas, serta hubungan mereka dengan kota tempat tinggalnya.

Ketika Kepemilikan Rumah Tidak Lagi Menjadi Target Utama

Di beberapa negara maju, survei terhadap generasi milenial menunjukkan bahwa banyak dari mereka masih memiliki keinginan untuk membeli rumah. Namun pada saat yang sama, semakin banyak pula yang merasa bahwa kepemilikan rumah bukan lagi prioritas utama dalam tahap awal kehidupan ekonomi mereka.

Sebagian generasi muda memilih untuk menunda pembelian rumah karena berbagai alasan. Harga properti yang tinggi sering menjadi faktor utama, tetapi bukan satu-satunya. Mobilitas kerja yang tinggi, perubahan pola karier, serta keinginan untuk tetap fleksibel dalam memilih tempat tinggal juga memainkan peran penting.

Laporan Deloitte — Global Millennial and Gen Z Survey 2023 (published 17 May 2023) mencatat bahwa banyak responden generasi milenial dan Gen Z menempatkan fleksibilitas karier dan gaya hidup sebagai prioritas yang semakin penting dalam keputusan ekonomi mereka, termasuk dalam memilih tempat tinggal.

Kondisi ini membuat sebagian orang muda lebih memilih menyewa atau tinggal dalam berbagai model hunian fleksibel sebelum memutuskan membeli rumah.

Gaya Hidup Fleksibel dan Mobilitas Global

Masa Depan Hunian Apakah Rumah Masih Harus Dimiliki (3)

Perubahan cara pandang terhadap kepemilikan rumah juga berkaitan dengan meningkatnya mobilitas global. Dalam ekonomi modern yang semakin terhubung, banyak pekerjaan tidak lagi terikat pada satu lokasi geografis tertentu.

Kemunculan pekerjaan berbasis digital, meningkatnya praktik kerja jarak jauh, serta berkembangnya komunitas digital nomad membuat sebagian generasi muda lebih terbuka terhadap pola hidup yang berpindah-pindah antar kota atau bahkan antar negara.

Baca Juga: Hunian Afrika: Rumah Tumbuh, Kredit Mikro & Subsidi Negara

Laporan World Economic Forum — Digital Nomads Report (published January 2024) menunjukkan bahwa jumlah pekerja yang mengadopsi gaya hidup digital nomad meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Bagi kelompok ini, fleksibilitas tempat tinggal sering dianggap lebih penting dibanding kepemilikan rumah di satu lokasi tetap.

Dalam konteks seperti ini, menyewa atau tinggal di berbagai kota dalam periode tertentu sering dipandang sebagai pilihan yang lebih sesuai dengan gaya hidup modern.

Antara Pilihan Gaya Hidup dan Tekanan Ekonomi

Meskipun fenomena ini sering dibahas sebagai perubahan preferensi generasi, banyak analis menilai bahwa faktor ekonomi tetap memainkan peran besar di balik munculnya pola tersebut.

Harga rumah yang tinggi di banyak kota dunia membuat kepemilikan rumah menjadi lebih sulit dicapai, terutama bagi generasi yang baru memasuki pasar tenaga kerja. Dalam kondisi seperti ini, pilihan untuk menyewa atau menunda pembelian rumah sering kali bukan hanya keputusan gaya hidup, tetapi juga hasil dari keterbatasan ekonomi.

Penelitian Harvard Joint Center for Housing Studies — The State of the Nation’s Housing 2024 (published 18 June 2024) menunjukkan bahwa tekanan keterjangkauan hunian di banyak kota Amerika Serikat membuat generasi muda harus menunda pembelian rumah lebih lama dibanding generasi sebelumnya.

Dengan kata lain, fenomena generasi yang tampak lebih terbuka terhadap konsep hunian tanpa kepemilikan penuh sering kali berada di persimpangan antara dua faktor besar: perubahan gaya hidup modern dan tekanan ekonomi yang membuat kepemilikan rumah semakin sulit dijangkau.

Fenomena ini kemudian ikut membentuk berbagai eksperimen baru dalam model hunian di kota modern. Ketika mobilitas kerja meningkat dan kepemilikan rumah tidak selalu menjadi pilihan utama, berbagai bentuk hunian fleksibel mulai berkembang sebagai bagian dari evolusi kota-kota besar di seluruh dunia.

Model Kepemilikan Hunian Baru di Berbagai Negara

Masa Depan Hunian Apakah Rumah Masih Harus Dimiliki (3)

Ketika harga rumah di banyak kota dunia meningkat jauh lebih cepat dibanding pendapatan masyarakat, berbagai negara mulai mencari cara baru untuk menjembatani kesenjangan antara kemampuan membeli dan harga properti yang tersedia di pasar. Upaya ini tidak selalu bertujuan menggantikan kepemilikan rumah tradisional, tetapi lebih sering mencoba menciptakan jalur alternatif agar masyarakat tetap memiliki akses terhadap hunian di tengah tekanan harga yang semakin tinggi.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai model kepemilikan hunian baru mulai berkembang di berbagai negara. Model-model ini muncul dari kombinasi kebijakan pemerintah, inovasi sektor keuangan, serta kebutuhan pasar yang terus berubah.

Shared Ownership dan Kepemilikan Parsial

Salah satu model yang mulai banyak digunakan adalah shared ownership, yaitu skema kepemilikan parsial di mana pembeli hanya memiliki sebagian porsi properti, sementara sisanya dimiliki oleh lembaga perumahan, pemerintah, atau pengembang. Pembeli kemudian membayar cicilan untuk bagian yang dimiliki serta sewa untuk bagian properti yang belum dimiliki.

Model ini cukup berkembang di Inggris. Program shared ownership diperkenalkan untuk membantu rumah tangga dengan pendapatan menengah agar tetap dapat membeli rumah di kota dengan harga properti yang tinggi. Dengan membeli sebagian porsi rumah terlebih dahulu, pembeli dapat memasuki pasar perumahan tanpa harus menanggung seluruh harga properti sejak awal.

Baca Juga: Orang Kaya Jakarta Selatan Tinggal di Mana? Ini Peta nya

Menurut laporan UK Department for Levelling Up, Housing and Communities — Shared Ownership Statistical Data (published 21 December 2023), skema shared ownership telah membantu puluhan ribu rumah tangga di Inggris untuk membeli rumah pertama mereka melalui sistem kepemilikan bertahap.

Model kepemilikan parsial ini menunjukkan bahwa akses terhadap hunian tidak selalu harus dimulai dari kepemilikan penuh atas sebuah rumah. Dalam beberapa kasus, kepemilikan bertahap dapat menjadi jembatan bagi rumah tangga yang sebelumnya tidak mampu memasuki pasar perumahan.

Rent-to-Own sebagai Jembatan Menuju Kepemilikan

Rent-to-own asia (1)

Model lain yang mulai berkembang adalah rent-to-own, yaitu sistem yang memungkinkan penyewa mengubah sebagian pembayaran sewa menjadi kepemilikan rumah di masa depan. Dalam skema ini, penyewa biasanya memiliki opsi untuk membeli rumah setelah periode tertentu, dengan sebagian pembayaran sewa yang telah dibayarkan dihitung sebagai bagian dari harga pembelian.

Model ini mulai berkembang di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Australia sebagai alternatif bagi rumah tangga yang kesulitan mengumpulkan uang muka untuk membeli rumah. Dengan mekanisme ini, penyewa dapat membangun ekuitas secara bertahap sambil tetap menempati rumah yang sama.

Laporan Urban Institute — Expanding the Rent-to-Own Model for Affordable Housing (published 12 April 2022) menyebutkan bahwa skema rent-to-own mulai dipandang sebagai salah satu pendekatan yang dapat membantu rumah tangga berpendapatan menengah memasuki pasar kepemilikan rumah tanpa harus menunggu hingga memiliki uang muka dalam jumlah besar.

Baca Juga: Broker Properti di Era AI: Siapa Bertahan, Siapa Tertinggal?

Meskipun tidak selalu cocok untuk semua kondisi pasar, model ini menunjukkan bagaimana sektor perumahan mulai bereksperimen dengan berbagai mekanisme pembiayaan yang lebih fleksibel.

Peran Pemerintah dalam Menciptakan Model Hunian Baru

Di banyak negara, pemerintah juga memainkan peran penting dalam menciptakan berbagai model kepemilikan hunian baru. Kebijakan perumahan sering dirancang untuk menjaga agar akses terhadap hunian tetap terbuka bagi berbagai kelompok masyarakat, terutama di kota dengan tekanan harga properti yang tinggi.

Singapura sering disebut sebagai salah satu contoh sistem perumahan yang unik. Melalui program Housing and Development Board (HDB), pemerintah menyediakan apartemen yang dapat dibeli oleh warga dengan skema pembiayaan khusus dan harga yang lebih terjangkau dibanding pasar properti komersial.

Menurut laporan Housing & Development Board Singapore — Public Housing in Singapore (published March 2023), lebih dari 80 persen populasi Singapura tinggal di apartemen yang dikembangkan melalui sistem perumahan publik tersebut.

Contoh ini menunjukkan bahwa kebijakan perumahan dapat memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan antara harga properti, akses kepemilikan rumah, dan stabilitas sosial di kota besar.

Berbagai eksperimen ini menunjukkan bahwa sektor perumahan global mulai mencari berbagai pendekatan baru untuk menjawab masalah keterjangkauan hunian. Ketika harga rumah meningkat dan pola hidup masyarakat berubah, model kepemilikan rumah juga perlahan ikut berevolusi.

Namun perubahan ini tidak hanya terjadi pada sistem kepemilikan hunian. Di banyak kota dunia, muncul pula fenomena lain yang tidak kalah menarik: sebagian generasi muda mulai mempertanyakan apakah kepemilikan rumah masih harus menjadi tujuan utama dalam kehidupan ekonomi mereka.

Evolusi Hunian di Kota Modern

Masa Depan Hunian Apakah Rumah Masih Harus Dimiliki (3)

Ketika cara manusia memandang kepemilikan rumah mulai berubah, kota-kota besar di berbagai belahan dunia juga mengalami evolusi dalam bentuk hunian yang tersedia. Perubahan ini tidak hanya dipengaruhi oleh harga properti, tetapi juga oleh dinamika urbanisasi, keterbatasan lahan, serta kebutuhan gaya hidup masyarakat yang semakin beragam.

Di banyak kota metropolitan, pembangunan hunian tidak lagi selalu mengikuti pola rumah keluarga tradisional yang dominan pada abad ke-20. Sebaliknya, berbagai bentuk hunian baru mulai berkembang untuk menyesuaikan dengan kondisi kota modern yang semakin padat dan dinamis.

Fenomena ini menunjukkan bahwa sektor perumahan tidak hanya mengalami perubahan dalam sistem kepemilikan, tetapi juga dalam desain, ukuran, dan fungsi hunian itu sendiri.

Baca Juga: Rent-to-Own: Solusi Rumah Pilihan Rasional Milenial

Co-living dan Komunitas Urban

Salah satu model hunian yang mulai berkembang di berbagai kota besar adalah co-living. Konsep ini biasanya menggabungkan ruang tinggal pribadi yang relatif kecil dengan berbagai fasilitas bersama seperti dapur, ruang kerja, ruang rekreasi, dan area komunitas.

Model co-living banyak muncul di kota dengan harga properti tinggi seperti New York, London, dan San Francisco. Bagi sebagian generasi muda, model ini menawarkan solusi yang lebih terjangkau sekaligus memberikan kesempatan untuk tinggal di lokasi strategis di pusat kota.

Selain aspek ekonomi, co-living juga sering dipandang sebagai bentuk hunian yang lebih sesuai dengan gaya hidup urban modern. Banyak penghuni co-living tertarik pada konsep komunitas yang memungkinkan mereka berinteraksi dengan orang lain yang memiliki latar belakang profesional atau gaya hidup yang serupa.

Laporan JLL — Global Co-Living Report (published November 2023) mencatat bahwa minat terhadap konsep co-living terus meningkat di berbagai kota besar dunia, terutama di kalangan profesional muda yang mencari hunian fleksibel dengan akses ke fasilitas kota.

Cari perumahan di Cinere? Temukan 5 rekomendasi terbaik yang asri dan punya akses strategis dekat Tol Desari & Cijago. Pilihan ideal untuk keluarga modern. Rumah di Cinere | perumahan villa cinere mas

Micro-Apartment dan Kepadatan Kota

Selain co-living, bentuk hunian lain yang semakin banyak muncul di kota besar adalah micro-apartment atau apartemen dengan ukuran yang sangat efisien. Unit hunian ini biasanya memiliki luas yang jauh lebih kecil dibanding apartemen konvensional, tetapi dirancang dengan tata ruang yang optimal agar tetap nyaman dihuni.

Micro-apartment banyak berkembang di kota dengan keterbatasan lahan seperti Tokyo, Hong Kong, dan beberapa kota besar di Eropa. Dalam kondisi di mana harga tanah sangat tinggi, unit hunian yang lebih kecil sering menjadi satu-satunya cara untuk menjaga harga properti tetap berada dalam jangkauan sebagian masyarakat.

Laporan Urban Land Institute — Emerging Trends in Real Estate 2024 (published 24 October 2023) mencatat bahwa densifikasi kota menjadi salah satu tren penting dalam perkembangan pasar properti global. 

Ketika populasi kota terus meningkat, pembangunan hunian yang lebih padat sering dipandang sebagai salah satu solusi untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan tempat tinggal dan keterbatasan lahan.

Hunian Fleksibel di Era Mobilitas Kerja

Masa Depan Hunian Apakah Rumah Masih Harus Dimiliki (3)

Perubahan lain yang mulai terlihat adalah meningkatnya permintaan terhadap hunian fleksibel yang dapat menyesuaikan dengan mobilitas kerja masyarakat modern. Di beberapa kota dunia, muncul berbagai konsep hunian yang dirancang untuk mendukung gaya hidup yang lebih dinamis, termasuk apartemen dengan kontrak sewa yang lebih fleksibel atau hunian yang menggabungkan ruang tinggal dengan ruang kerja.

Perkembangan ini berkaitan erat dengan perubahan pola kerja dalam ekonomi modern. Meningkatnya praktik kerja jarak jauh serta munculnya berbagai profesi digital membuat banyak orang tidak lagi harus tinggal di satu kota yang sama selama bertahun-tahun.

Menurut laporan McKinsey Global Institute — The Future of Cities (published October 2023), perubahan struktur pekerjaan global dan meningkatnya mobilitas tenaga kerja mulai mempengaruhi cara kota merancang ruang hunian dan infrastruktur urban.

Hunian yang fleksibel, terhubung dengan transportasi publik, serta dekat dengan pusat aktivitas ekonomi menjadi semakin penting bagi masyarakat urban modern.

Baca Juga: Kepemilikan Rumah Eropa: Social Housing & Stabilitas Sosial

Perkembangan ini menunjukkan bahwa perubahan dalam pasar perumahan global tidak hanya berkaitan dengan harga atau sistem kepemilikan rumah. Dalam banyak kasus, perubahan tersebut juga mencerminkan evolusi cara manusia hidup di kota modern. Ketika gaya hidup urban terus berkembang dan mobilitas masyarakat meningkat, bentuk hunian yang muncul di berbagai kota dunia kemungkinan juga akan terus beradaptasi dengan kebutuhan generasi baru.

Indonesia di Tengah Perubahan Model Hunian Global

Masa Depan Hunian Apakah Rumah Masih Harus Dimiliki (3)

Perubahan cara manusia memandang rumah yang terjadi di berbagai kota dunia tentu tidak selalu terjadi dengan pola yang sama di setiap negara. Struktur ekonomi, kebijakan perumahan, serta dinamika urbanisasi di masing-masing negara sering kali membentuk karakter pasar properti yang berbeda.

Indonesia, misalnya, masih berada pada tahap perkembangan pasar perumahan yang berbeda dibanding banyak negara maju. Tingkat kepemilikan rumah di Indonesia masih relatif tinggi dibanding beberapa negara Barat, dan keinginan masyarakat untuk memiliki rumah sendiri tetap menjadi salah satu tujuan utama dalam kehidupan ekonomi keluarga.

Namun jika dilihat lebih dekat, beberapa tanda perubahan yang serupa mulai muncul di kota-kota besar Indonesia.

Banner - Perumahan Bona Vista Residence, Cari Rumah Lebak Bulus, Cilandak - Jakarta Selatann - Rooma21

Urbanisasi dan Tekanan Harga Rumah di Kota Besar

Urbanisasi yang terus berlangsung membuat tekanan terhadap harga tanah dan hunian di kawasan metropolitan semakin meningkat. Di Jakarta dan kota penyangganya, harga rumah di lokasi strategis semakin sulit dijangkau oleh banyak generasi muda yang baru memasuki dunia kerja. Kondisi ini membuat sebagian masyarakat mulai mempertimbangkan berbagai alternatif hunian, mulai dari apartemen dengan ukuran lebih kecil hingga tinggal lebih jauh dari pusat kota.

Data Badan Pusat Statistik — Statistik Perumahan dan Permukiman Indonesia (published 2023) menunjukkan bahwa pertumbuhan kawasan perkotaan terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir, terutama di wilayah metropolitan seperti Jabodetabek. Pertumbuhan kota yang cepat ini secara alami meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan lahan hunian di kawasan strategis.

Generasi Muda dan Tantangan Membeli Rumah

Rumah Makin Mahal, Tinggal di Apartemen Jadi Pilihan yang Tak Terelakkan (4)

Di sisi lain, generasi muda Indonesia juga mulai menghadapi dinamika ekonomi yang mirip dengan generasi muda di berbagai negara lain. Harga rumah yang meningkat, biaya hidup di kota besar yang semakin tinggi, serta kebutuhan mobilitas kerja yang lebih fleksibel membuat keputusan membeli rumah sering kali menjadi lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya.

Banyak calon pembeli rumah pertama menghadapi tantangan yang serupa dengan yang dialami generasi muda di kota-kota global, terutama dalam mengumpulkan uang muka dan menyesuaikan kemampuan finansial dengan harga properti yang tersedia di pasar.

Dalam rilis Bank Indonesia — Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Triwulan IV 2025 (published 6 February 2026), harga properti residensial di pasar primer masih menunjukkan tren peningkatan yang terbatas. Namun dinamika tersebut tidak merata di semua segmen. 

Baca Juga: Solusi Backlog Rumah: Kolaborasi Pemerintah, Bank, Developer

Pertumbuhan harga terutama terlihat pada rumah tipe kecil, sementara rumah tipe menengah mengalami perlambatan dan beberapa segmen rumah besar bahkan mencatat kontraksi pertumbuhan.

Pola ini juga mencerminkan bahwa permintaan hunian di pasar primer masih lebih kuat pada segmen rumah yang lebih terjangkau. Jika berbagai perubahan tersebut terlihat jelas di banyak kota dunia, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana posisi Indonesia dalam dinamika yang sama.

Apakah Model Hunian Baru Akan Muncul di Indonesia?

08 Apakah Indonesia Siap dengan Rent-to-Own Nasional Peta Jalan, Tantangan, dan Pelua (-new

Melihat perkembangan global, bukan tidak mungkin berbagai model hunian baru yang berkembang di negara lain juga akan mulai muncul di Indonesia. Konsep hunian berbasis transportasi publik seperti Transit Oriented Development (TOD), apartemen dengan ukuran lebih efisien, hingga berbagai model pembiayaan rumah yang lebih fleksibel dapat menjadi bagian dari evolusi pasar properti di masa depan.

Seiring meningkatnya urbanisasi dan perubahan gaya hidup generasi muda, sektor perumahan kemungkinan akan terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam. Model kepemilikan rumah yang lebih fleksibel, pembangunan hunian vertikal di kawasan perkotaan, serta integrasi antara hunian dan infrastruktur transportasi publik dapat menjadi arah perkembangan yang semakin penting.

Perubahan tersebut tentu tidak akan terjadi secara drastis dalam waktu singkat. Kepemilikan rumah kemungkinan tetap akan menjadi tujuan penting bagi banyak keluarga Indonesia. Namun seperti yang terlihat di berbagai kota dunia, cara manusia memiliki dan mengakses hunian perlahan mulai berevolusi mengikuti perubahan ekonomi, teknologi, dan dinamika generasi.

Pada akhirnya, masa depan kepemilikan rumah mungkin tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan seseorang membeli sebuah properti secara penuh. Di banyak kota dunia, rumah mulai dipahami sebagai sesuatu yang dapat diakses melalui berbagai model yang lebih fleksibel—mulai dari kepemilikan bertahap hingga berbagai bentuk hunian yang menyesuaikan dengan gaya hidup urban modern.

>“Rumah mungkin tetap menjadi impian banyak orang. Namun cara manusia mencapainya, memilikinya, dan memaknainya kemungkinan tidak lagi sama seperti generasi sebelumnya.”

banner cara cari rumah lebih cepat dan akurat, hanya di rooma21

Daftar Pustaka : 

  1. World Economic Forum — Making Affordable Housing a Reality in Cities, 8 June 2019. 
  2. OECD — Brick by Brick: Building Better Housing Policies, 16 May 2021. 
  3. McKinsey Global Institute — The Future of Cities: How Urbanization Is Changing the Way People Live and Work, October 2023. 
  4. Harvard Joint Center for Housing Studies — The State of the Nation’s Housing 2024, 18 June 2024. 
  5. Bank Indonesia — Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Triwulan IV 2025, 6 February 2026.
Iklan
Bagikan:
Avatar Djoko Yoewono
Djoko Yoewono
Penulis Rooma21 189 artikel
Lihat Profil
Djoko Yoewono
+

Komentar

Memuat komentar...

Jangan Ketinggalan Info Properti Terbaru!

Dapatkan berita, tips, dan penawaran eksklusif langsung ke email Anda.