Pergeseran Mindset: Dari Rumah sebagai “Tujuan Hidup” menjadi “Pilihan Rasional”
Jakarta, rooma21.com – Selama puluhan tahun, kepemilikan rumah dianggap sebagai penanda kesuksesan hidup di Indonesia. Generasi sebelum milenial tumbuh dalam narasi yang sama: bekerja keras, menabung, menikah, lalu membeli rumah sebagai tonggak kedewasaan. Tetapi narasi itu kini runtuh secara perlahan. Bukan karena generasi muda anti terhadap kepemilikan hunian, melainkan karena realitas ekonomi dan sosial berubah lebih cepat daripada struktur pembiayaannya yang belum sepenuhnya mengadopsi skema fleksibel seperti rent-to-own.
Data global memperlihatkan tekanan yang semakin kuat terhadap keterjangkauan rumah. McKinsey Global Institute mencatat bahwa harga rumah di banyak kota di dunia tumbuh dua hingga tiga kali lebih cepat daripada pendapatan generasi muda selama 20 tahun terakhir. Fenomena serupa terjadi di Indonesia. Laporan BPS menunjukkan bahwa pendapatan rumah tangga muda naik jauh lebih lambat dibandingkan kenaikan harga tanah dan rumah di kawasan urban. Kesenjangan ini memperlebar jarak antara “ingin punya rumah” dan “mampu membeli rumah”.
Di sisi lain, Deloitte Millennial Survey 2023 menunjukkan bahwa generasi muda memberi prioritas baru dalam hidup mereka: kestabilan mental, mobilitas, fleksibilitas kerja, dan pengalaman—nilai-nilai yang tidak selalu selaras dengan komitmen kredit jangka panjang 20–30 tahun. Rumah tidak hilang dari radar mereka; rumah hanya tidak lagi ditempatkan sebagai destinasi tunggal, melainkan salah satu pilihan rasional di antara banyak opsi hidup.
Ada pula perubahan nilai sosial yang lebih subtil. Generasi milenial dan Gen Z tumbuh dalam era digital, di mana keterikatan fisik tidak lagi menjadi syarat untuk merasa “bertempat tinggal”. Mereka lebih mudah berpindah kota untuk pekerjaan, belajar, gaya hidup, atau kesempatan baru. Mereka terbiasa dengan konsep “renting by choice”, bukan “renting karena terpaksa”. Dalam konteks ini, rumah tidak lagi menjadi mahkota status sosial, tetapi sekadar aset yang harus masuk akal secara finansial, emosional, dan fungsional.
Perubahan mindset ini bukan berarti generasi muda tidak ingin memiliki rumah; mereka hanya ingin memiliki rumah dengan syarat hidup mereka, bukan syarat yang dipaksakan oleh sistem pembiayaan tradisional. Di sinilah ruang baru terbuka: model rent-to-own menjadi relevan karena menawarkan fleksibilitas di awal, kepastian di akhir, dan waktu yang cukup untuk membangun kemampuan finansial bertahap.
Baca Juga: Rent-to-Own Malaysia: HouzKEY & Islamic Finance
Artikel ini akan membahas secara mendalam bagaimana preferensi, mentalitas, dan perilaku ekonomi generasi muda membentuk ulang peta kepemilikan rumah di Indonesia. Kita akan melihat bagaimana tekanan biaya hidup, gig economy, prioritas gaya hidup baru, hingga kelemahan sistem KPR lama membuka peluang bagi rent-to-own sebagai model kepemilikan hybrid untuk generasi baru.

> “Generasi muda bukan menolak rumah; mereka menolak cara lama yang tidak lagi cocok dengan hidup mereka.”
Tekanan Ekonomi: Ketika Biaya Hidup Naik, Pendapatan Tidak Mengikuti

Jika ada satu faktor yang paling kuat membentuk sikap generasi muda terhadap kepemilikan rumah, faktor itu adalah realitas ekonomi sehari-hari. Milenial dan Gen Z hidup di era yang ironis: teknologi membuat hidup lebih cepat dan lebih mudah, tetapi biaya untuk menjalani hidup yang layak justru semakin mahal. Di kota-kota besar Indonesia, kesenjangan ini terasa paling tajam.
Data BPS menunjukkan bahwa harga rumah di wilayah urban naik rata-rata lebih dari 5–10 persen per tahun, terutama di Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya. Pada saat yang sama, pertumbuhan pendapatan riil rumah tangga muda jauh lebih lambat, bahkan stagnan dalam beberapa tahun terakhir. Sementara di sisi lain, Bank Indonesia melaporkan bahwa indeks harga properti residensial terus bergerak naik lebih cepat dibanding kenaikan upah minimum provinsi. Kombinasi ini menciptakan tekanan berlapis: rumah semakin mahal, sementara daya beli tidak meningkat dengan kecepatan yang sama.
Tekanan itu tidak berhenti pada harga rumah. Biaya hidup urban naik lebih cepat daripada gaji, mulai dari transportasi, makanan, utilitas, hingga sewa tempat tinggal. Laporan Indonesia Millennial Report 2022 menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen milenial di kota besar mengalokasikan sebagian besar pendapatan mereka untuk biaya hidup bulanan, bukan tabungan jangka panjang. Dalam kondisi seperti ini, membayar uang muka rumah—yang bisa mencapai 15 hingga 20 persen dari harga properti—menjadi tantangan yang sangat berat.
Akibatnya, generasi muda semakin rasional dalam menentukan prioritas. Mereka memilih tinggal dekat kantor meski harus menyewa, karena jarak memengaruhi kualitas hidup. Mereka lebih memilih mobilitas daripada komitmen jangka panjang. Mereka lebih memilih fleksibilitas keuangan daripada beban cicilan yang mengunci pendapatan selama seperempat abad. Di mata generasi sebelumnya, pilihan seperti ini mungkin dianggap “tidak visioner”. Namun bagi generasi sekarang, ini bukan soal ambisi—ini soal bertahan dan tetap waras secara finansial.

Baca Juga: Rent-to-Own Brunei:Negara Tanggung Risiko, Warga Punya Rumah
Di sinilah rent-to-own mulai menemukan relevansinya. Alih-alih menuntut uang muka besar dan komitmen cicilan jangka panjang, skema RTO memberikan ruang transisi: penyewa dapat tinggal terlebih dahulu, membangun rekam jejak finansial, menyesuaikan anggaran, sambil mengunci harga rumah agar inflasi tidak mengejar mereka dari belakang. Dalam kondisi ekonomi yang serba berat, fleksibilitas seperti ini bukan kemewahan—melainkan kebutuhan struktural.
Tekanan biaya hidup telah memaksa generasi muda menunda kepemilikan rumah. Tetapi itu tidak berarti mereka menyerah. Mereka hanya menunggu model yang lebih realistis.
> “Bukan generasi muda yang berubah; biaya hidup yang melonjaklah yang membuat kepemilikan rumah menjadi perjalanan yang jauh lebih panjang.”
Gig Economy & Kerja Fleksibel: Ketika Slip Gaji Tak Lagi Menjadi Tolok Ukur

Perubahan paling mendasar dalam ekonomi modern Indonesia bukan datang dari teknologi, melainkan dari cara generasi muda bekerja. Milenial dan Gen Z tumbuh di masa ketika pekerjaan tidak lagi identik dengan kantor, kontrak formal, atau gaji tetap. Sebaliknya, mereka masuk ke dunia kerja yang cair, fleksibel, dan berbasis proyek. Fenomena inilah yang mendorong lahirnya gig economy, sistem yang memungkinkan seseorang memiliki banyak sumber pendapatan tetapi tidak memiliki satu pun slip gaji yang dapat memenuhi kriteria bank.
Laporan Google–Temasek–Bain e-Conomy SEA 2023 menegaskan bahwa Indonesia adalah salah satu pasar digital terbesar di Asia Tenggara, dengan ratusan ribu pekerja independen yang mencari nafkah lewat platform online: ojek online, konten kreator, social commerce, desain, coding freelance, hingga jasa profesional berbasis proyek. Di permukaan, ekonomi ini terlihat dinamis; tetapi ketika mereka ingin membeli rumah, sistem finansial tradisional memandangnya sebagai risiko.
Bank di Indonesia masih menggunakan paradigma lama: pendapatan harus stabil, dapat dibuktikan dengan slip gaji, dan berasal dari pekerjaan tetap. Bagi korporasi dan industri manufaktur era 1990-an, standar ini masuk akal. Tetapi bagi generasi muda yang bekerja sambil berpindah antara proyek, startup, freelance, dan side hustle, standar ini menjadi penghalang yang tidak proporsional. Mereka bukan tidak mampu membayar cicilan; mereka hanya tidak muat dalam kotak penilaian tradisional.
Akibatnya, jutaan pekerja yang sebenarnya memiliki pendapatan rutin dianggap “tidak bankable”. Sistem lama gagal menangkap pola pemasukan yang realistik. Bank melihat fluktuasi sebagai risiko; padahal bagi gig workers, fluktuasi adalah pola hidup. Sistem underwriting yang kuno akhirnya memotong akses generasi muda terhadap kepemilikan hunian.
Baca Juga: Ekosistem Mortgage: Developer, Broker dan Bank KPR
Di sinilah rent-to-own memasuki ruang kosong yang ditinggalkan perbankan. Alih-alih meminta slip gaji, RTO menggunakan pendekatan behavioral scoring: membaca histori pembayaran digital, pola transaksi, konsistensi pemasukan dari berbagai sumber, hingga stabilitas rekening e-wallet dan mobile banking. Dengan teknologi ini, pekerja freelance yang tidak punya slip gaji justru bisa dinilai lebih akurat daripada pekerja formal yang hanya mengandalkan dokumen.

Model global seperti Divvy Homes dan Landis telah membuktikan bahwa pendekatan ini berhasil. Mereka dapat memprediksi kemampuan bayar penyewa dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi karena analisis berbasis real-time behavior jauh lebih relevan daripada dokumen statis. Dalam konteks Indonesia, pendekatan ini sangat cocok karena struktur pasar kerjanya memang dominan informal dan fleksibel.
Jika gig economy adalah ekonomi masa depan, maka RTO adalah model pembiayaan masa depan. Sistem RTO tidak memaksa generasi muda untuk menjadi pekerja tetap demi mendapatkan rumah; ia menyesuaikan metode penilaian agar selaras dengan cara generasi ini hidup, bekerja, dan berpenghasilan.
> “Slip gaji mungkin hilang, tetapi jejak digital ekonomi seseorang tidak pernah berbohong—dan di situlah masa depan pembiayaan rumah berada.”
Prioritas Gaya Hidup Baru: Mobilitas, Pengalaman, dan Fleksibilitas Tempat Tinggal

Jika generasi sebelumnya melihat rumah sebagai pusat kehidupan, generasi muda melihat dunia sebagai ruang hidup mereka. Mobilitas, fleksibilitas, dan pengalaman menjadi nilai yang lebih dominan dalam pengambilan keputusan finansial, termasuk keputusan untuk membeli atau menunda membeli rumah. Pergeseran ini bukan sekadar gaya hidup, tetapi refleksi dari cara generasi muda merespons dinamika ekonomi dan sosial yang berubah sangat cepat.
Fenomena ini terlihat jelas dari hasil Deloitte Millennial & Gen Z Survey 2023, di mana lebih dari 60 persen responden global menyatakan bahwa fleksibilitas lokasi dan gaya hidup mobile lebih penting dibandingkan kepemilikan aset besar di usia muda. Temuan serupa juga muncul dalam laporan Indonesia Millennial Report 2022, di mana generasi muda lebih memilih prioritas seperti work-life balance, kesehatan mental, kesempatan kerja jarak jauh, hingga kebebasan untuk berpindah kota jika ada peluang baru.
Mobilitas ini semakin dipertegas oleh munculnya tren digital nomad, remote working, dan coliving. Kota-kota seperti Bali, Yogyakarta, Bandung, dan bahkan Medan mulai menarik anak muda yang bekerja secara digital tetapi tidak terikat pada satu kantor fisik. Bagi mereka, komitmen KPR 20–30 tahun terasa seperti memasang jangkar pada saat dunia menawarkan begitu banyak jalur hidup yang fluid. Rumah tidak lagi dipandang sebagai tujuan utama, melainkan salah satu opsi di antara berbagai kemungkinan hidup.
Beban psikologis juga memainkan peran penting. Gaya hidup minimalis, slow living, serta kecenderungan untuk memilih pengalaman dibanding barang material membuat generasi muda lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial besar. Bagi banyak dari mereka, menyewa bukan tanda kegagalan; justru sebaliknya, itu adalah strategi untuk menjaga fleksibilitas sekaligus menurunkan risiko dalam hidup yang penuh ketidakpastian.

Baca Juga: Rent-to-Own Asia: Pola Besar dan Pelajaran untuk Indonesia
Dalam konteks inilah rent-to-own menemukan tempatnya. Alih-alih memaksa generasi muda memilih antara menyewa atau membeli, RTO memberikan struktur tengah: fleksibel di awal, pasti di akhir. Mereka dapat tinggal di rumah lebih dulu, merasakan lingkungannya, mengevaluasi apakah gaya hidup mereka cocok dengan lokasi tersebut, sembari membangun kemampuan finansial menuju KPR. RTO tidak mengikat secara kaku, tetapi memberikan arah dan pilihan. Ini sangat sejalan dengan karakter generasi yang ingin bergerak bebas, namun tetap ingin memiliki masa depan yang terencana.
Dengan kata lain, RTO bukan solusi yang muncul dari dunia finansial saja; ia muncul dari dunia sosial dan perubahan nilai hidup generasi baru. Bagi generasi muda yang mengutamakan fleksibilitas, RTO terasa jauh lebih logis daripada KPR konvensional yang rigid dan penuh syarat.
> “Generasi muda bukan tidak ingin menetap; mereka hanya ingin memastikan bahwa tempat mereka menetap benar-benar selaras dengan hidup yang ingin mereka jalani.”
Ketimpangan Akses: KPR Formal vs Realitas Penghasilan Generasi Baru

Salah satu jurang terbesar yang memisahkan generasi muda dari kepemilikan rumah bukan terletak pada harga properti itu sendiri, tetapi pada cara sistem perbankan menilai kelayakan pembeli. KPR di Indonesia dirancang berdasarkan asumsi lama: seseorang bekerja di satu perusahaan selama bertahun-tahun, memiliki slip gaji tetap, dan penghasilannya linear. Pola hidup seperti ini semakin jarang ditemukan pada milenial dan Gen Z, yang hidup di tengah ketidakpastian ekonomi dan tren pekerjaan fleksibel.
Menurut OJK dan berbagai kajian industri perbankan, sekitar 60 persen angkatan kerja Indonesia berada di sektor informal atau bekerja tanpa slip gaji teratur. Untuk generasi muda, angka ini bahkan lebih tinggi. Mereka bekerja sebagai freelancer, kontraktor proyek, pekerja kreatif, pelaku ekonomi digital, penjual online, atau pekerja hybrid yang memiliki banyak sumber pendapatan kecil, tetapi stabil. Secara realitas ekonomi, mereka mampu membayar cicilan rumah. Namun bagi sistem KPR formal, mereka jatuh ke dalam kategori “tidak memenuhi syarat”.
Bank masih mengutamakan dokumen formal sebagai tolok ukur utama kemampuan bayar: slip gaji tiga bulan, surat keterangan kerja, dan bukti pendapatan tetap. Akibatnya, generasi muda yang pendapatannya cukup justru tersingkir karena tidak terstruktur sesuai standar lama. Inilah yang menciptakan ketimpangan akses. Rumah bukan tidak terjangkau bagi mereka; rumah hanya tidak terjangkau melalui mekanisme yang disediakan institusi formal.
Baca Juga: BTN kejar target penyaluran KPR FLPP pada sisa tahun 2025
Data lapangan juga menguatkan fenomena ini. Studi e-Conomy SEA 2023 menunjukkan bahwa pola penghasilan generasi muda Indonesia bersifat multi-sumber, dinamis, dan berubah mengikuti peluang ekonomi digital. Tetapi pola ini tidak tercermin dalam dokumen resmi yang bisa diterima bank. Maka muncullah kelompok besar yang sebenarnya layak kredit, tetapi gagal masuk sistem. Bukan karena risiko mereka tinggi, tetapi karena alat ukurnya tidak mampu membaca realitas hidup mereka.
Ketimpangan akses ini menjadi alasan mengapa rent-to-own semakin relevan. Alih-alih menilai seseorang secara kaku berdasarkan slip gaji, RTO menggunakan penilaian perilaku: konsistensi pembayaran sewa, ritme transaksi digital, pola arus kas, stabilitas akun bank atau e-wallet, serta komitmen finansial lainnya. Penilaian ini jauh lebih sesuai dengan struktur penghasilan generasi muda dibanding dokumen formal yang bersifat snapshot.

Dalam skema RTO, periode sewa sebelum pembelian menjadi ruang adaptasi yang penting: penyewa diberi waktu membangun rekam jejak pembayaran yang dapat diterjemahkan menjadi dasar pemberian KPR di akhir periode. Dengan pendekatan seperti ini, akses rumah tidak ditentukan oleh bentuk pekerjaan seseorang, tetapi oleh perilaku finansialnya.
Generasi muda sesungguhnya tidak gagal membeli rumah; mereka gagal masuk ke sistem yang tidak dirancang untuk mereka. Rent-to-own menawarkan pintu alternatif yang lebih adil, lebih fleksibel, dan lebih sejalan dengan cara mereka hidup dan bekerja.
> “Keterjangkauan bukan hanya soal harga rumah; ia juga tentang apakah sistem memberi akses yang sesuai dengan realitas hidup generasi baru.”
Generasi Muda Tidak Anti Rumah — Mereka Anti Sistem Lama

Banyak yang salah membaca generasi milenial dan Gen Z. Mereka sering digambarkan sebagai generasi yang “tidak tertarik membeli rumah”, “lebih memilih gaya hidup”, atau “tidak setia pada komitmen jangka panjang”. Narasi seperti ini muncul bukan karena generasi muda alergi pada konsep memiliki rumah, tetapi karena sistem kepemilikan rumah yang ada sekarang memang tidak dirancang sesuai realitas hidup mereka.
Survei Rumah123 Market Report 2025 menunjukkan fakta yang bertolak belakang dengan mitos tersebut: lebih dari 70 persen responden berusia 25–35 tahun menyatakan ingin memiliki rumah, tetapi mereka menilai proses KPR “mengintimidasi”, “membebani”, dan “terputus dari realitas ekonomi generasi sekarang”. Keinginan memiliki rumah tetap kuat, namun jalur untuk mencapainya dianggap tidak masuk akal.
Generasi muda tumbuh dalam dunia yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka hidup di tengah naik-turunnya ekonomi digital, lonjakan biaya hidup, perubahan pola kerja, dan ketidakpastian pendapatan. Mereka belajar bahwa fleksibilitas adalah bentuk keamanan baru. Mereka belajar bahwa mobilitas adalah bentuk investasi baru. Namun di sisi lain, mereka tetap membutuhkan rumah sebagai jangkar identitas, stabilitas psikologis, dan aset masa depan.
Masalahnya bukan pada kemauan, tetapi pada ketidakcocokan antara cara hidup generasi baru dan cara kerja sistem pembiayaan hunian lama. Sistem KPR formal masih beroperasi dengan logika abad lalu: pendapatan stabil, pekerjaan tetap, masa jabatan panjang, dan struktur keluarga yang konvensional. Realitas hari ini jauh lebih cair. Pekerjaan tidak lagi linear. Pendapatan tidak lagi tunggal. Mobilitas tidak lagi ancaman, melainkan kebutuhan.
Baca Juga: Rent-to-Own Filipina: Pag-IBIG, GSIS dan Sewa Beli Nasional
Inilah ruang di mana rent-to-own menemukan relevansinya. RTO memungkinkan generasi muda memasuki hunian lebih awal tanpa harus menunggu kondisi “sempurna” berdasarkan standar bank. Mereka bisa mulai dari sewa, membuktikan kemampuan bayar melalui catatan perilaku, dan transisi ke kepemilikan ketika kondisi finansial lebih stabil. Bagi banyak anak muda, ini adalah model yang masuk akal: bertahap, adaptif, dan tidak memaksa mereka menyesuaikan hidup dengan sistem yang usianya lebih tua dari mereka sendiri.
Di kota besar seperti Jakarta, Bandung, maupun kota-kota satelit, generasi muda sudah menunjukkan pola ini. Mereka tidak menolak rumah; mereka hanya menolak proses yang membuat rumah terasa tidak mungkin. Mereka tidak menolak komitmen; mereka hanya menolak komitmen yang mengabaikan dinamika hidup mereka. Mereka bukan generasi anti-milik, tetapi generasi anti-kerumitan yang tidak perlu.
Rent-to-own bukan solusi ajaib. Namun ia adalah model yang lebih sejajar dengan aspirasi generasi baru: kepemilikan yang berbasis perjalanan, bukan ujian satu kali. Sistem yang mengenali perilaku, bukan sekadar slip gaji. Jalur yang merangkul transisi, bukan memaksa kepastian instan.
Generasi muda akan membeli rumah—jika sistemnya memberi ruang untuk cara hidup mereka.

> “Generasi baru tidak menolak rumah; mereka hanya menolak pintu yang selama ini tertutup bagi mereka.”
Dari Mindset ke Model Baru: Rent-to-Own sebagai Titik Temu Generasi Muda dan Sistem Hunian Indonesia

Perjalanan memahami perilaku generasi milenial dan Gen Z dalam konteks kepemilikan rumah membawa kita pada kesimpulan yang jauh lebih dalam dari sekadar isu harga atau pendapatan. Generasi ini bukan kehilangan keinginan untuk memiliki rumah; mereka kehilangan kesabaran terhadap sistem yang tidak bergerak mengikuti realitas hidup mereka. Mereka dibesarkan dalam dunia yang berubah cepat, bekerja dalam pola yang tidak selalu tercatat secara formal, dan membangun masa depan melalui jalur yang tidak selalu linier. Bagi mereka, kepemilikan rumah tetap penting, tetapi cara mencapainya harus selaras dengan ritme kehidupan mereka.
Rent-to-own menghadirkan pendekatan yang lebih manusiawi. Bukan dengan menurunkan standar risiko, tetapi dengan memperluas cara kita menilai kelayakan. Bukan dengan memberi janji kosong, tetapi dengan menyediakan transisi yang wajar dari sewa menuju kepemilikan. Dalam model ini, generasi muda tidak perlu menunggu “sempurna” untuk memulai perjalanan memiliki rumah. Mereka cukup menunjukkan konsistensi perilaku, tanggung jawab pembayaran, dan niat yang jelas. Sistem bekerja bersama mereka, bukan melawan.
Bagi Indonesia, ini membuka peluang besar. Kita memiliki struktur demografis yang muda, pasar kerja yang dinamis, dan teknologi yang semakin matang untuk membaca pola ekonomi generasi baru. Tantangannya bukan pada apakah generasi muda mampu membeli rumah, tetapi apakah kita siap menyediakan model pembiayaan yang menghargai cara hidup mereka. RTO memberi jembatan itu: sebuah ruang di mana aspirasi bertemu realitas, dan sistem bertemu manusia.

Baca Juga: Dari Paylater ke KPR Digital: Masa Depan Mortgage Gen Z
Ke depan, skema rent-to-own bisa menjadi lebih dari sekadar alternatif. Ia bisa menjadi strategi nasional untuk mengembalikan rasa keterjangkauan, menciptakan mobilitas sosial, dan memperluas akses hunian yang layak. Generasi muda tidak perlu dipaksa memilih antara fleksibilitas hidup dan kepemilikan rumah. Mereka bisa memiliki keduanya—selama kita berani meninggalkan pola lama dan membangun ekosistem yang lebih inklusif.
Pada akhirnya, rumah bukan hanya soal bangunan, tetapi juga soal kesempatan. Dan kesempatan itu harus dirancang agar dapat diakses oleh siapa pun yang bersedia merajut masa depannya pelan-pelan.
> “Sistem hunian masa depan tidak menunggu generasi baru menyesuaikan diri; justru sistemnya yang harus tumbuh mengikuti generasi itu.”

Daftar Pustaka
- 1. Rumah123. Indonesia Property Market Report 2025: Tren Pembelian Hunian Generasi Muda. Januari 2025.
- 2. World Bank. Informal Employment in Indonesia: Current Structure and Policy Implications. November 2022.
- 3. Deloitte. Millennial & Gen Z Survey 2022: Navigating Uncertainty and Reinventing the Future of Work. Juni 2022.
- 4. McKinsey & Company. Asian Consumer Insights 2023: The Rise of Multi-Earner Households and Digital Income Streams. Mei 2023.
- 5. Google, Temasek & Bain. e-Conomy Southeast Asia 2023 Report: Digital Participation and Income Fluidity Trends. Oktober 2023.
- 6. Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Statistik Perbankan Indonesia: Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Akses Pembiayaan Generasi Muda. Desember 2023.
- 7. Bank Indonesia. Laporan Stabilitas Sistem Keuangan 2024: Dinamika Pembiayaan Rumah Tangga dan Tren Permintaan KPR. Juni 2024.
- 8. Harvard Joint Center for Housing Studies. The State of the Nation’s Housing 2023: Younger Generations and Barriers to Homeownership. Juli 2023.
- 9. OECD Housing Observatory. Youth Housing Affordability and Changing Economic Structures. Oktober 2023.
- 10. UN-Habitat. Urban Youth and the Future of Housing: Patterns of Access and Financial Exclusion. 2022.
Komentar