Rooma21 Blog

Belum login? Masuk untuk akses penuh

Pencarian

Akun

Login Daftar
Iklan
Iklan

Silver Economy dan Generasi Muda: Siapa Menggerakkan  Pasar Properti Indonesia 2035 ?

23 February 2026
463 views
Silver Economy dan Generasi Muda: Siapa Menggerakkan  Pasar Properti Indonesia 2035 ?

Apa Itu Silver Economy dan Mengapa Berpengaruh ke Properti?

Istilah silver economy sering terdengar abstrak, seolah hanya istilah akademis tentang populasi menua. Padahal di balik istilah itu ada realitas ekonomi yang sangat konkret: kelompok usia 55 tahun ke atas kini memegang porsi kekayaan terbesar di banyak negara, dan mereka sedang memasuki fase hidup yang mengubah pola permintaan properti.

Secara global, populasi lansia terus bertambah. Menurut United Nations – World Population Prospects 2024, jumlah penduduk usia 65 tahun ke atas meningkat lebih cepat dibanding kelompok usia lain di banyak negara maju. Di Eropa dan Jepang, proporsinya sudah melampaui seperlima populasi. Ini bukan sekadar statistik sosial, tetapi sinyal perubahan struktur pembeli dalam pasar properti.

Skalanya juga sudah diakui lembaga kesehatan dunia. WHO (1 Oktober 2025) mencatat bahwa proporsi penduduk dunia usia 60+ hampir akan berlipat dari 12% (2015) menjadi 22% (2050). Artinya, pasar hunian global makin lama makin banyak digerakkan oleh kelompok usia senior—bukan hanya oleh pembeli rumah pertama.

Konsentrasi Kekayaan pada Usia 55+

Data Federal Reserve – Distribution of Household Wealth 2023 menunjukkan bahwa rumah tangga usia 55 tahun ke atas menguasai sebagian besar kekayaan finansial dan aset properti di Amerika Serikat. Pola serupa terlihat di berbagai negara maju lainnya.

Artinya, ketika kelompok ini membuat keputusan relokasi, downsizing, atau membeli rumah kedua, dampaknya terasa langsung ke pasar. Mereka bukan pembeli spekulatif. Mereka pembeli dengan likuiditas, sering kali tanpa tekanan cicilan, dan memiliki horizon keputusan berbeda dari generasi muda. Kekuatan finansial inilah yang membuat silver economy tidak bisa dianggap sebagai faktor pinggiran.

banner cara cari rumah lebih cepat dan akurat, hanya di rooma21

Relokasi dan Perubahan Pola Hunian

Memasuki masa pensiun, banyak individu tidak lagi terikat lokasi kerja. Sebagian memilih kota dengan biaya hidup lebih rendah, iklim lebih nyaman, atau akses kesehatan lebih baik. Sebagian lagi mencari hunian yang lebih kecil dan praktis.

Relokasi lintas negara juga meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama ke kawasan Asia Tenggara yang relatif lebih terjangkau dibanding Eropa atau Amerika Utara. Ini menciptakan arus modal dan permintaan di lokasi-lokasi tertentu.

Di praktiknya, arus ini sering terlihat paling jelas di destinasi yang punya kombinasi biaya hidup relatif rendah + iklim + layanan gaya hidup—dan Asia Tenggara masuk shortlist itu.

Silver economy bukan hanya tentang jumlah lansia yang bertambah, tetapi tentang mobilitas dan daya beli mereka. Dalam pasar properti domestik, kehadiran kelompok ini bisa menjadi penopang segmen tertentu—terutama premium dan kawasan resort.

Baca Juga: Jakarta Selatan: Identitas Anak Jaksel, Kawasan Hunian Ideal

Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang lebih sensitif: ketika daya beli terbesar berada di generasi senior, bagaimana posisi generasi muda yang baru ingin masuk pasar?

Tekanan Keterjangkauan: Tantangan Generasi Muda di Pasar Properti

Silver Economy dan Generasi Muda Siapa Menggerakkan  Pasar Properti Indonesia 2035 (2)

Jika silver economy membawa kekuatan likuiditas dan fleksibilitas relokasi, maka generasi muda memasuki pasar dengan kondisi yang jauh berbeda. Mereka menghadapi harga rumah yang sudah naik lebih dulu, suku bunga yang tidak lagi serendah satu dekade lalu, dan tekanan biaya hidup yang meningkat.

Kontras inilah yang mulai membentuk dinamika baru dalam pasar properti domestik.

Harga Rumah Bergerak Lebih Cepat dari Pendapatan

Di banyak negara, termasuk beberapa kota besar di Asia, kenaikan harga rumah dalam sepuluh tahun terakhir melampaui pertumbuhan pendapatan kelas menengah. Data OECD Housing Affordability Indicators 2023 menunjukkan rasio harga rumah terhadap pendapatan di berbagai negara berada di atas rata-rata historisnya.

Dalam banyak negara OECD, indikator keterjangkauan ini dipakai sebagai alarm: ketika rasio harga rumah terhadap pendapatan naik terlalu jauh dari rata-rata historisnya, kelompok yang paling terdorong keluar pasar biasanya pembeli rumah pertama.

Baca Juga: Harga Rumah Makin Mahal, Tinggal di Apartemen Jadi Pilihan

Ketika rasio ini membesar, akses generasi muda terhadap kepemilikan rumah menjadi lebih sulit. Mereka tidak bersaing dengan generasi sebelumnya di titik harga yang sama. Mereka masuk ke pasar ketika harga sudah terkerek oleh era likuiditas panjang. Di Indonesia, terutama di Jakarta dan sekitarnya, isu keterjangkauan menjadi semakin terasa di kalangan first home buyer.

Cari perumahan di Cinere? Temukan 5 rekomendasi terbaik yang asri dan punya akses strategis dekat Tol Desari & Cijago. Pilihan ideal untuk keluarga modern. Rumah di Cinere | perumahan puri cinere

Penundaan Pembelian oleh Gen Z dan Milenial Akhir

Laporan Deloitte Gen Z and Millennial Survey (Mei 2023) menunjukkan bahwa stabilitas finansial dan fleksibilitas karier menjadi prioritas utama generasi muda. Banyak yang memilih menyewa lebih lama atau menunda pembelian hingga kondisi finansial benar-benar siap. Penundaan ini bukan berarti generasi muda tidak ingin memiliki rumah. 

Namun mereka lebih berhati-hati. Mereka tumbuh di era ketidakpastian ekonomi global, krisis finansial, dan pandemi. Keputusan jangka panjang seperti KPR dipertimbangkan lebih matang dibanding generasi sebelumnya.

Baca Juga: Broker Properti Jakarta Terbaik 2025: Nasional, Local Expert

Ketika penundaan terjadi secara kolektif, permintaan domestik bergerak lebih lambat. Momentum kenaikan harga tidak lagi otomatis seperti era sebelumnya.

Perubahan Prioritas Gaya Hidup

Selain faktor finansial, ada perubahan pola hidup. Generasi muda lebih mobile, lebih terbuka pada kerja fleksibel, dan tidak selalu terikat pada satu kota sepanjang hidupnya. Rumah tidak lagi menjadi satu-satunya simbol stabilitas.

Ini menciptakan jarak psikologis terhadap kepemilikan jangka panjang. Dalam konteks pasar domestik, perubahan ini memperlebar kontras dengan silver economy yang memiliki kebutuhan hunian lebih stabil dan sumber daya finansial lebih besar. Di titik ini, pertanyaan menjadi semakin relevan: apakah kehadiran silver economy memperkuat pasar domestik, atau justru secara tidak langsung menggeser peluang generasi muda?

Lalu bagaimana konteks Indonesia? Apakah silver economy di sini lebih berpotensi menjadi peluang atau justru menciptakan tekanan baru?

Dampak Silver Economy terhadap Harga Properti Domestik

Silver Economy dan Generasi Muda Siapa Menggerakkan  Pasar Properti Indonesia 2035 (2)

Di sinilah konflik mulai terasa lebih nyata. Di satu sisi, silver economy membawa daya beli dan likuiditas yang bisa menjaga stabilitas pasar. Di sisi lain, ketika kelompok usia senior memiliki akses modal jauh lebih besar dibanding generasi muda, muncul pertanyaan tentang keseimbangan akses terhadap hunian.

Apakah kehadiran mereka menjadi penopang pasar domestik, atau justru mempersempit ruang masuk bagi pembeli muda?

Segmen Premium dan Efek Limpahan Harga

Dalam banyak kasus, silver economy tidak masuk ke segmen mass market. Mereka cenderung membeli properti premium, rumah kedua, atau hunian di kawasan dengan kualitas hidup tinggi. Secara langsung, ini tidak selalu bersinggungan dengan pembeli rumah pertama.

Namun pasar properti tidak berdiri dalam ruang terpisah. Ketika permintaan kuat terjadi di segmen atas, harga tanah dan ekspektasi pasar bisa ikut terdorong. Efek limpahan ini kadang membuat harga di sekitar lokasi premium ikut terkerek.

Baca Juga: Rumah Sakit Rujukan di Jakarta Selatan dan Akses Area Hunian

Efek limpahan biasanya terjadi lewat dua jalur: kenaikan harga tanah (karena ekspektasi developer dan investor ikut naik) dan kenaikan sewa (karena demand short/long stay menguat di kantong tertentu). Begitu sewa naik, generasi muda yang masih ‘trial’ tinggal di area itu ikut kena tekan, meski mereka tidak pernah berniat membeli di segmen premium.

Dalam kondisi seperti ini, generasi muda yang ingin masuk pasar di wilayah yang sama bisa menghadapi titik harga yang lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Dampak terhadap Harga Lokal

Banner Lebak Bulus | Cari Rumah Secondary di Lebak Bulus | Di Kawasan Perumahan Mapan Hunian Terawat Siap Huni | KPR Dibantu Sampai Dengan Akad | Lokasi Strategis, Akses Mudah | cari rumah lebak bulus

Jika arus silver economy datang dari luar negeri atau dari kota besar dengan daya beli tinggi, maka pasar lokal di kawasan tujuan bisa mengalami tekanan kenaikan harga yang tidak sepenuhnya ditopang oleh pendapatan penduduk setempat.

Fenomena ini sudah terlihat di beberapa destinasi global, di mana pembeli asing atau pensiunan dari negara maju masuk ke kawasan dengan biaya hidup lebih rendah. Dampaknya bukan hanya pada properti premium, tetapi juga pada biaya sewa dan harga tanah di sekitarnya.

Dalam jangka pendek, ini terlihat positif karena menggerakkan ekonomi lokal. Namun dalam jangka panjang, jika tidak seimbang, bisa memperlebar jarak antara harga properti dan kemampuan beli masyarakat lokal.

Baca Juga: Harga Properti Jakarta Selatan | Analisa NJOP, Prediksi 2026

Ketimpangan Akses Hunian

Kontras antara silver economy dan generasi muda akhirnya bukan hanya soal usia, tetapi soal akses modal. Ketika kelompok senior memiliki akumulasi aset dan likuiditas tinggi, sementara generasi muda masih membangun fondasi finansialnya, pasar domestik bisa menjadi lebih kompetitif.

Ini bukan berarti silver economy adalah ancaman. Mereka juga bisa menjadi penopang stabilitas pasar ketika generasi muda menunda pembelian. Namun tanpa kebijakan dan keseimbangan yang tepat, ketimpangan akses hunian bisa meningkat.

Dampak Silver Economy terhadap Pasar Properti Indonesia

Silver Economy dan Generasi Muda Siapa Menggerakkan  Pasar Properti Indonesia 2035 (2)

Jika silver economy di Eropa dan Amerika membentuk arus relokasi global, maka pertanyaannya sederhana: bagaimana dampaknya bagi Indonesia sebagai pasar domestik?

Jawabannya tidak hitam-putih. Ia bisa menjadi peluang sekaligus tekanan—tergantung segmen dan lokasi.

Bali dan Arus Pensiunan Asing

Bali menjadi contoh paling kasat mata. Dalam beberapa tahun terakhir, pulau ini menjadi tujuan pensiunan dan pekerja jarak jauh dari Eropa, Australia, dan Amerika. Faktor biaya hidup yang lebih rendah, iklim tropis, serta ekosistem komunitas internasional menjadi daya tarik utama.

Indikator paling gampang dibaca ada di arus kunjungan. BPS Provinsi Bali (1 September 2023) mencatat wisman langsung ke Bali pada Juli 2023 sebesar 541.353 kunjungan (+13,21% mtm), dengan Australia sebagai kontributor terbesar (24,56%). Angka ini membantu menjelaskan kenapa pasar sewa/vila jangka menengah–panjang di kantong tertentu ikut menguat.

Seiring pemulihan kunjungan tersebut, aktivitas sewa jangka menengah dan panjang di sejumlah kantong vila juga ikut meningkat. Ketika daya beli berasal dari mata uang yang lebih kuat, tekanan harga bisa terjadi di segmen tertentu. Bagi investor lokal, ini peluang. Namun bagi generasi muda lokal, akses terhadap hunian di kawasan premium menjadi semakin berat.

Di sinilah silver economy global bertemu dengan dinamika pasar domestik.

Bonus Demografi Indonesia sebagai Penyeimbang

Namun Indonesia tidak berada pada fase demografi yang sama dengan Eropa atau Jepang. Menurut BPS – Hasil Sensus Penduduk 2020 dan Proyeksi Penduduk 2023, Indonesia masih menikmati fase bonus demografi, di mana proporsi usia produktif (15–64 tahun) masih dominan hingga sekitar 2035.

Artinya, basis permintaan domestik dari generasi muda masih kuat secara jumlah. Ini berbeda dengan negara yang populasinya menyusut. Silver economy di Indonesia belum menjadi mayoritas seperti di Eropa. Struktur umur yang lebih muda menjadi penyeimbang alami terhadap dominasi daya beli lansia.

Baca Juga: Burnout Global: Saat Tubuh Mulai Menagih Utang

Cari perumahan di Cinere? Temukan 5 rekomendasi terbaik yang asri dan punya akses strategis dekat Tol Desari & Cijago. Pilihan ideal untuk keluarga modern. Rumah di Cinere | perumahan graha cinere

Kompetisi Daya Beli di Kota Besar

Di kota-kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya, tekanan bukan hanya berasal dari pensiunan asing, tetapi juga dari kelompok mapan domestik yang sudah memiliki aset.

Ketika generasi senior menjual rumah besar dan membeli properti baru dengan likuiditas penuh, mereka beroperasi di pasar tanpa tekanan pembiayaan. Sementara generasi muda masih bergantung pada KPR dan rasio cicilan terhadap pendapatan.

Bank Indonesia (SHPR Triwulan IV 2023, rilis 19 Februari 2024) mencatat IHPR tumbuh 1,74% (yoy), sedikit melambat dari triwulan sebelumnya. Detail kecil ini penting: pasar primer masih naik, tapi tidak lagi ‘ngebut’—dan ini biasanya terjadi ketika demand ada, tetapi makin selektif.

Di sinilah pertanyaan strategis muncul: apakah pasar domestik Indonesia akan lebih didorong oleh bonus demografi generasi muda, atau oleh konsentrasi aset pada generasi senior?

Jawabannya akan menentukan arah segmentasi properti 10 tahun ke depan.

Strategi Pasar Properti Indonesia Menghadapi Silver Economy 2035

Silver Economy dan Generasi Muda Siapa Menggerakkan  Pasar Properti Indonesia 2035 (2)

Jika kita tarik seluruh benang merahnya, silver economy dan generasi muda bukan sekadar dua kelompok usia berbeda. Mereka adalah dua arus ekonomi dengan karakter daya beli, preferensi hunian, dan prioritas hidup yang sangat berbeda. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang lebih kuat, tetapi apakah keduanya bisa membentuk keseimbangan baru di pasar domestik.

Hunian Multigenerasi dan Penyesuaian Produk

Di beberapa negara, muncul tren hunian multigenerasi sebagai respons terhadap tekanan biaya dan perubahan struktur umur. Laporan OECD – Ageing and Housing Policy, 2023 mencatat peningkatan rumah tangga multigenerasi di sejumlah negara maju sebagai strategi efisiensi ekonomi dan dukungan sosial.

Dalam literatur kebijakan, pola multigenerasi biasanya muncul sebagai respons gabungan antara tekanan keterjangkauan dan kebutuhan perawatan lansia, jadi ini bukan tren gaya hidup semata—melainkan adaptasi ekonomi keluarga.

Baca Juga: Jejak Family Office: Dari Rockefeller, Singapura, Bali & IKN

Di Indonesia, pola ini sebenarnya bukan hal baru. Namun dalam konteks urban modern, desain dan produk properti mulai menyesuaikan. Rumah dengan ruang fleksibel, aksesibilitas lebih baik, atau unit dengan potensi disewakan kembali menjadi lebih relevan.

Jika pengembang mampu membaca perubahan ini, silver economy dan generasi muda tidak harus saling menggeser. Mereka bisa menjadi dua segmen yang saling melengkapi.

Model Kepemilikan yang Berubah

Silver Economy dan Generasi Muda Siapa Menggerakkan  Pasar Properti Indonesia 2035 (2)

Tekanan keterjangkauan juga mendorong eksplorasi model kepemilikan baru. Di berbagai negara, muncul diskusi mengenai shared ownership, co-living, hingga skema pembiayaan alternatif untuk pembeli pertama.

Generasi muda cenderung lebih adaptif terhadap model baru ini. Sementara silver economy, dengan aset yang sudah terkumpul, bisa menjadi sumber likuiditas melalui penjualan, penyewaan, atau investasi ulang. Di titik ini, pasar tidak lagi dibentuk hanya oleh transaksi jual beli konvensional, tetapi oleh diversifikasi strategi kepemilikan.

Baca Juga: Visi Ekonomi Prabowo: BUMN Bersih, Swasta & Koperasi Bangkit

Strategi Jangka Panjang bagi Investor dan Pembeli

Silver Economy dan Generasi Muda Siapa Menggerakkan  Pasar Properti Indonesia 2035 (2)

Menuju 2035, pasar properti domestik Indonesia akan dipengaruhi dua faktor besar: bonus demografi yang masih berjalan dan potensi masuknya arus modal dari kelompok usia senior, baik domestik maupun global.

Investor yang hanya melihat kenaikan harga jangka pendek bisa kehilangan gambaran strukturalnya. Yang lebih penting adalah membaca distribusi umur, pola migrasi, dan daya beli riil. Silver economy tidak otomatis menjadi ancaman bagi generasi muda. Namun tanpa keseimbangan kebijakan dan inovasi produk, ketimpangan akses bisa membesar.

Sebaliknya, jika pasar mampu mengakomodasi kebutuhan kedua kelompok ini, Indonesia justru berada dalam posisi unik: memiliki basis generasi muda yang besar sekaligus menarik arus daya beli senior dari luar. Dan di sinilah pasar properti domestik akan diuji—apakah ia menjadi ruang kolaborasi antar generasi, atau arena kompetisi yang makin tajam.

banner cara cari rumah lebih cepat dan akurat, hanya di rooma21
Iklan
Bagikan:
Avatar Djoko Yoewono
Djoko Yoewono
Penulis Rooma21 189 artikel
Lihat Profil
Djoko Yoewono
+

Komentar

Memuat komentar...

Jangan Ketinggalan Info Properti Terbaru!

Dapatkan berita, tips, dan penawaran eksklusif langsung ke email Anda.