Rooma21.com, Jakarta – Di tengah gempuran krisis iklim, ketimpangan sosial, dan hiruk-pikuk pertumbuhan ekonomi yang tak pernah cukup, suara seorang ekonom asal Inggris mulai mengguncang dunia. Bukan dengan jargon rumit, tapi dengan satu metafora sederhana: donat.
Namanya Kate Raworth, dan konsep yang ia bawa—Doughnut Economics—menjadi seruan keras untuk mempertanyakan arah peradaban manusia hari ini.
🌱 Dari Oxford ke Oxfam: Mencari Ekonomi yang Masuk Akal

Raworth tidak datang dari pinggiran. Ia lulusan Oxford University, mengambil jurusan klasik “PPE”, Philosophy, Politics, and Economics. Tapi justru di kampus bergengsi itulah kegelisahannya mulai muncul. Ia merasa ekonomi diajarkan seperti ilmu eksak: fokus pada grafik, model, dan asumsi yang sering jauh dari kenyataan kehidupan.
Setelah lulus, Raworth terjun ke dunia nyata. Ia bekerja di Zanzibar dalam program pengembangan komunitas, lalu masuk ke UNDP dan Oxfam, menyusun laporan pembangunan manusia global. Di sana, ia melihat langsung bahwa banyak kebijakan ekonomi dunia gagal menjawab kebutuhan dasar manusia, dan justru memperparah krisis lingkungan.
📖 Lahirnya “Donat” yang Revolusioner

Pada 2012, Raworth merilis laporan awal berjudul A Safe and Just Space for Humanity, yang kemudian berkembang menjadi buku Doughnut Economics pada 2017. Konsepnya sederhana tapi menggugah:
Bayangkan ekonomi seperti donat. Di tengah (lubang donat) adalah kebutuhan dasar manusia: makanan, air, pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, keadilan sosial. Di luar (batas donat) adalah batas ekologis bumi: perubahan iklim, pencemaran udara, rusaknya keanekaragaman hayati, dan sebagainya.
Tugas ekonomi, kata Raworth, bukanlah tumbuh terus-menerus seperti mesin yang lapar angka. Tapi menjaga agar kita hidup di dalam “ruang aman dan adil” di antara dua batas itu terpenuhi secara sosial, tanpa melanggar batas planet.
🔍 Siapa yang Menginspirasi Gagasan Ini?
Doughnut Economics bukanlah mimpi soliter. Kate Raworth merakit gagasannya dari jejak-jejak pemikiran visioner lain yang lebih dulu menggugat logika ekonomi konvensional.
Salah satunya adalah Elinor Ostrom, peraih Nobel Ekonomi pertama yang perempuan. Ostrom membuktikan bahwa komunitas lokal bisa menjaga sumber daya alam bersama (seperti air, hutan, atau laut) secara berkelanjutan tanpa perlu dikendalikan negara atau korporasi. Gagasan ini menguatkan keyakinan Raworth bahwa sistem ekonomi bisa tumbuh dari bawah—berbasis nilai, bukan angka.
Kemudian ada Tim Jackson, penulis Prosperity Without Growth, yang dengan tegas mempertanyakan: kenapa kita terus memuja pertumbuhan ekonomi, padahal bumi punya batas? Ia membuka jalan bagi logika baru: kemakmuran bukan berarti naik terus, tapi cukup asal bermakna dan adil.
Dari sisi ekologi, Raworth banyak terinspirasi oleh Johan Rockström dan tim dari Stockholm Resilience Centre, yang memperkenalkan konsep planetary boundaries, sembilan batas ekologis bumi yang jika dilanggar, bisa mengubah kondisi planet secara drastis. Inilah cikal bakal lingkar luar dalam diagram donat Raworth.
Dan tentu saja, Amartya Sen, ekonom asal India yang memperkenalkan pendekatan capability. Ia menolak anggapan bahwa kesejahteraan bisa diukur dari uang. Menurut Sen, pembangunan adalah soal memperluas kapabilitas dan pilihan hidup manusia. Gagasan ini memberi kerangka moral bagi bagian dalam donat, yaitu terpenuhinya kebutuhan dasar, bukan sekadar naiknya pendapatan.
Raworth merajut semua benang ini dalam metafora sederhana, agar bisa dipahami oleh siapa pun. Ia tidak hanya menyusun teori, tapi menciptakan bahasa baru: donat, yang ternyata bisa menyelamatkan dunia.
🏙 Relevansi di Dunia Nyata: Antara Proyek dan Realita
Konsep ekonomi donat bukan sekadar teori buku. Kota Amsterdam telah mengadopsinya secara resmi sebagai fondasi kebijakan kota sejak 2020. Mereka memadukan pembangunan ekonomi dengan target sosial dan lingkungan yang jelas.

Bagaimana dengan Indonesia?
Sayangnya, kita masih terjebak dalam paradigma lama. Pembangunan besar-besaran sering mengorbankan kampung nelayan, merusak hutan, atau memicu ketimpangan. Yang dilihat tetap angka PDB dan jumlah proyek, bukan apakah masyarakatnya hidup layak atau apakah lingkungan bisa pulih.
💡 Gagasan Bagi Masa Depan Peradaban
Kate Raworth tidak anti pertumbuhan. Tapi ia menolak menjadikan pertumbuhan sebagai tuhan tunggal ekonomi.
Menurutnya, yang perlu dipertanyakan adalah:
- Untuk siapa ekonomi ini tumbuh?
- Apa yang dikorbankan?
- Dan apakah kita masih bisa hidup layak 20–30 tahun lagi jika terus begini?
“Dalam konteks penyusunan Manifesto Dunia Baru, pemikiran Raworth menjadi fondasi penting. Bahwa masa depan bukan hanya tentang teknologi, kapital, atau efisiensi, tapi tentang membangun keseimbangan antara manusia dan bumi.”
Doughnut Economics bukan resep mudah. Ia tidak menjanjikan jalan pintas. Tapi ia memberi arah. Sebuah peta moral dan ekologis yang bisa membantu manusia keluar dari krisis besar ini.
Di zaman ketika “lebih cepat, lebih besar, lebih banyak” dianggap satu-satunya arah, mungkin sudah waktunya kita balik bertanya:
Apa artinya maju, kalau bumi tertinggal?
Dan di tengah kebingungan itu, sebuah donat mungkin bisa jadi kompas baru — sederhana, bundar, tapi menyelamatkan.
📉 Jason Hickel dan Gagasan Degrowth: Ketika Maju Itu Artinya Mengurangi

Di dunia yang terus mengejar “lebih” : lebih besar, lebih cepat, lebih produktif, ada satu gagasan yang terdengar nyeleneh tapi justru makin relevan:
“Sudah cukup. Saatnya mengurangi.”
Gagasan ini dikenal sebagai Degrowth, dan salah satu pemikir yang paling vokal menyuarakannya adalah Jason Hickel, ekonom asal Inggris-Wales yang juga antropolog dan penulis. Melalui buku-bukunya seperti The Divide dan Less is More, Hickel menggugat akar terdalam dari krisis global: logika pertumbuhan tanpa batas.
🌍 Mengapa Pertumbuhan Justru Berbahaya?
Bagi Hickel, pertumbuhan ekonomi, seperti yang dipahami dunia hari ini — bukan sekadar angka PDB naik. Ia adalah sistem yang:
- Mengekstraksi sumber daya dari negara-negara Selatan demi konsumsi negara-negara Utara
- Menciptakan ketimpangan masif antar bangsa dan kelas sosial
- Mendorong krisis iklim, kehancuran alam, dan kehampaan sosial
- Menjadikan efisiensi dan keuntungan sebagai tolak ukur utama, mengabaikan nilai, relasi, dan keseimbangan
Di titik ini, Hickel bertanya:
Apakah kemajuan benar-benar berarti terus tumbuh? Atau kita justru butuh berhenti dan merefleksi?
🧠 Dari Antropologi ke Ekonomi Alternatif
Latar belakang Hickel sebagai antropolog memberi sudut pandang unik. Ia mempelajari masyarakat tradisional yang hidup selaras dengan alam dan menemukan bahwa banyak dari mereka hidup cukup — bukan miskin — hanya karena tak masuk sistem ekonomi global.
Ia kemudian mengkritisi cara dunia “mengukur” kemiskinan, yang didasarkan pada standar kapitalisme industri. Menurut Hickel, yang salah bukan orangnya, tapi definisinya.
Hal ini mengantarnya pada gerakan Degrowth, yang bukan berarti “kembali ke zaman batu”, tapi justru:
- Menurunkan produksi dan konsumsi berlebihan di negara kaya
- Menjamin kesejahteraan dengan pendekatan distribusi adil
- Memperpendek rantai kerja, memberi ruang hidup lebih utuh
- Menata ulang ekonomi agar selaras dengan daya dukung bumi
🔄 Degrowth vs Green Growth: Apa Bedanya?
Banyak pemerintah dan korporasi kini berbicara soal “green growth” — pertumbuhan yang katanya ramah lingkungan. Tapi bagi Hickel, ini ilusi.
“Tidak ada pertumbuhan hijau di dunia nyata. Yang ada hanya konsumsi yang terus melonjak, meski efisien secara teknologi.”
Degrowth menawarkan sesuatu yang lebih radikal: bukan memperhalus sistem lama, tapi membangun sistem baru dari fondasi. Sistem yang tidak bergantung pada pertumbuhan, tapi pada keberlanjutan, relasi sosial, dan hidup yang cukup.
📍Apa Relevansinya Buat Kita?
Di Indonesia, kita sering mendengar istilah “pertumbuhan ekonomi nasional” di berita, tapi jarang bertanya:
- Siapa yang menikmati pertumbuhan itu?
- Apakah bumi kita sanggup menopangnya?
- Apakah kita makin sehat secara jiwa, atau justru makin terbakar oleh tekanan hidup?
Gagasan degrowth mengajak kita membayangkan kehidupan yang lebih lambat, lebih sadar, dan lebih cukup. Ia bukan tentang anti-kemajuan, tapi tentang kemajuan yang didefinisikan ulang.
✊ Kontribusinya Dalam Tatanan Dunia Baru
Dalam penyusunan Manifesto Dunia Baru, pemikiran Jason Hickel menjadi jembatan penting:
- Ia menyodorkan kritik mendalam terhadap mitos pertumbuhan
- Ia membongkar logika global yang menindas
- Dan yang paling penting, ia menawarkan jalan keluar: mengurangi, bukan membesarkan
Jika Kate Raworth mengajarkan kita hidup dalam batas aman bumi, maka Jason Hickel mengajarkan kita untuk berani berhenti, demi bisa mulai ulang dengan lebih bijak.
Kalau kemarin donat jadi peta moral, maka degrowth jadi tombol rem.
Karena kadang, langkah paling maju adalah… berhenti berlari.
✊ Kontribusinya Dalam Tatanan Dunia Baru
Dalam penyusunan Manifesto Dunia Baru, pemikiran Jason Hickel memainkan peran krusial. Ia bukan cuma mengkritik sistem lama, tapi juga menyusun pondasi baru dari cara berpikir yang lebih manusiawi dan ekologis. Berikut ini esensi kontribusinya yang layak jadi benang merah untuk arah peradaban ke depan:
- Membongkar mitos pertumbuhan sebagai tujuan hidup
Hickel menolak anggapan bahwa ekonomi harus selalu naik agar masyarakat makmur. Baginya, justru obsesi terhadap pertumbuhanlah yang membuat dunia mengalami ketimpangan parah dan kehancuran ekologis. Ini membuka jalan untuk mempertanyakan ulang: apa sebenarnya tujuan kita membangun ekonomi? Kalau bukan sekadar angka, maka harusnya: keadilan, cukup, dan harmoni. - Menyadarkan dunia bahwa “kemiskinan” itu definisi yang bias
Sebagai antropolog, Hickel menunjukkan bahwa banyak masyarakat tradisional yang hidup seimbang dengan alam justru dicap “miskin” oleh standar global. Ia menolak ukuran kemajuan yang hanya berbasis konsumsi. Dalam dunia baru, ukuran kesejahteraan harus dikembalikan ke makna hidup itu sendiri: apakah manusia bisa hidup bermartabat, merdeka, dan terhubung dengan alam? - Mengusulkan redistribusi, bukan eksploitasi ulang dengan nama hijau
Di tengah tren greenwashing dan slogan “ekonomi hijau”, Hickel memberi peringatan keras: efisiensi tidak akan menyelamatkan bumi kalau konsumsi tetap tak terbendung. Ia mengusulkan degrowth terutama di negara-negara maju, sambil menjamin distribusi adil untuk negara berkembang. Dunia baru butuh sistem global yang kolaboratif, bukan kompetitif—dan ini memerlukan etika baru dalam relasi antarbangsa. - Menawarkan visi ekonomi yang manusiawi, pelan, dan cukup
Hickel tidak mengajak kita kembali ke zaman obor. Ia membayangkan dunia di mana manusia bisa bekerja lebih sedikit, mengonsumsi secukupnya, dan punya waktu untuk hidup, bukan sekadar bertahan. Dalam visi ini, kualitas hidup tidak lagi ditentukan oleh seberapa tinggi gaji atau seberapa cepat naik jabatan, tapi oleh seberapa utuh kita bisa menjadi manusia.
Ia membayangkan ekonomi yang memungkinkan:
- 4 hari kerja seminggu
- Jaminan kebutuhan dasar (pendidikan, kesehatan, air, pangan) tanpa harus dikorbankan untuk pertumbuhan
- Sistem lokal yang kuat: pertanian regeneratif, koperasi energi, komunitas berbagi.
Inilah bentuk ekonomi yang lebih lambat, tapi lebih dalam. Ekonomi yang memberi ruang untuk makna, bukan cuma angka.
🔥 Intinya, Hickel memberi kita satu pesan kuat:
Kalau mau membangun dunia baru, kita harus berhenti menyembah pertumbuhan. Degrowth bukan akhir dari peradaban, tapi mungkin satu-satunya cara agar peradaban bisa terus hidup.
🧭 Mengapa Kita Butuh Gerakan Baru?
Degrowth bukan hanya solusi teknis. Ia adalah seruan moral: bahwa kita harus berhenti mengorbankan manusia demi mesin ekonomi. Kita hidup di tengah sistem yang bikin kita terus merasa kurang, terus membandingkan, dan terus lelah mengejar angka. Saatnya ada gerakan baru yang:
- Menempatkan manusia sebagai makhluk bernalar dan berjiwa, bukan sekadar sumber daya
- Menjadikan alam bukan objek eksploitasi, tapi sahabat hidup bersama
- Membangun masa depan bukan di atas deret PDB, tapi di atas relasi, keadilan, dan keberlanjutan
Dan kalau degrowth adalah peta besar, maka gaya hidup slow living adalah jalan kecilnya yang kini makin populer, khususnya di kalangan generasi muda yang mulai lelah dengan budaya hustle.
☯ Degrowth vs Slow Living: Makro & Mikro yang Saling Melengkapi
Generasi sekarang mulai menyadari: “Hidup itu bukan lomba. Kadang yang paling waras adalah yang paling pelan.”
Itulah kenapa gerakan seperti : Digital detox, Work-life balance, Living with less, atau ngopi sore tanpa deadline mulai jadi aspirasi baru.
Dan diam-diam, itu sejalan dengan gagasan Hickel: bahwa kemajuan sejati bukan yang bikin stres, tapi yang bikin kita kembali merasa hidup.
Degrowth memberi kerangka sistem, Slow living memberi napas harian.
Keduanya adalah bagian dari dunia baru yang sedang kita bangun pelan, tapi pasti.
🌿 Bruno Latour – Alam Bukan Sekadar Latar, Tapi Aktor Sosial

Selama ribuan tahun, manusia melihat alam sebagai latar belakang. Gunung, laut, udara, iklim, semua dianggap “di luar kita”, hanya dekorasi tempat manusia beraksi. Tapi di abad krisis ini, narasi itu runtuh.
Bruno Latour, filsuf dan sosiolog asal Prancis, mengguncang cara kita memahami dunia lewat satu gagasan radikal:
“Alam bukan penonton. Ia adalah aktor. Dan sekarang, ia sedang bicara lewat krisis iklim, pandemi, dan bencana alam.”
🧠 Siapa Bruno Latour?
Latour adalah pemikir lintas disiplin yang dikenal karena konsep Actor-Network Theory (ANT), yaitu gagasan bahwa dalam setiap sistem sosial, bukan hanya manusia yang aktif, tapi juga benda, teknologi, bahkan entitas non-manusia, seperti sungai, virus, atau iklim.
Buat Latour, sains dan politik tidak bisa dipisah dari realitas fisik bumi. Dan selama ini, sistem modern telah membangun dunia yang berpura-pura seolah manusia bisa hidup di atas alam, bukan bersama alam.
🌍 Ketika Alam Membalas
Dalam esainya yang sangat dikenal “Where to Land?” dan “Down to Earth”, Latour menyatakan bahwa:
- Krisis iklim bukan hanya soal lingkungan, tapi soal identitas manusia
- Dunia modern telah menciptakan ilusi netralitas, seolah kita bisa mengejar kemajuan tanpa efek samping
- Tapi sekarang bumi merespons: badai, kekeringan, migrasi iklim, virus global
- Alam sedang “berpolitik”. Ia tak lagi diam. Dan kita harus mengubah cara kita membangun dunia, bukan dengan menaklukkan alam, tapi dengan bernegosiasi dengannya.
🔄 Gagasan Besar: Menyatukan Kembali Manusia dan Bumi

Latour menolak pemisahan antara “alam” dan “budaya”. Ia menyebutnya sebagai modernisasi yang gagal. Dunia baru, kata Latour, harus dimulai dari:
Mengakui bahwa kita adalah bagian dari jejaring kehidupan, bukan pusatnya, membuat kebijakan yang menyertakan “aktor-aktor bumi” sebagai pihak yang punya hak, seperti sungai yang diberi status hukum di beberapa negara
Membangun narasi politik baru: bukan hanya kiri dan kanan, tapi terhubung atau terlepas dari bumi
📌 Relevansi Buat Kita Hari Ini
Pernah merasa bingung kenapa krisis iklim kayaknya jauh, padahal udah terasa? Latour menjawab itu: karena kita hidup di narasi lama. Di sekolah kita diajari bahwa manusia harus menguasai alam. Tapi sekarang, justru kita yang mulai dikuasai oleh alam yang rusak.
Banjir Jakarta, polusi udara, gagal panen, suhu ekstrem, itu bukan “bencana”. Itu komunikasi dari bumi.
Dan dunia baru harus dibangun dengan mendengarkan, bukan menundukkan.
✊ Kontribusinya Dalam Tatanan Dunia Baru
Bruno Latour memberi dasar filosofis dan politis bahwa:
- Alam bukan benda pasif, tapi bagian dari kontrak sosial
- Keputusan manusia harus memperhitungkan relasi ekologis secara langsung
- Dunia baru tak bisa dibangun tanpa menyatukan kembali manusia dengan bumi
Kalau Kate Raworth membingkai batas aman bumi, dan Jason Hickel menyuarakan cukupnya pertumbuhan, maka Latour memberi kita satu pesan dasar:
“Kita tidak sedang membangun peradaban di atas bumi, kita sedang membangun peradaban bersama bumi.”
💫 Charles Eisenstein – Ekonomi Sakral & Peradaban Baru yang Lembut.
Di tengah dunia yang makin dingin dan fungsional, Charles Eisenstein muncul sebagai suara yang menyentuh sisi terdalam dari manusia: jiwa, rasa, dan makna. Ia bukan ekonom dalam pengertian konvensional. Ia lebih mirip seorang penyair yang berbicara soal uang, sistem, dan hubungan, tapi dari ruang yang lembut, kontemplatif, dan manusiawi.
Eisenstein bukan hanya menawarkan teori, tapi mengajak kita masuk ke dalam cerita baru tentang dunia, tentang siapa kita, dan bagaimana kita saling terhubung.
🌱 Kita Hidup Dalam Cerita Lama yang Sudah Usang
Bagi Eisenstein, dunia modern dibangun di atas satu cerita besar yang menyesatkan: bahwa manusia adalah makhluk yang terpisah satu sama lain, bahwa hidup adalah kompetisi, bahwa alam hanyalah benda mati yang bisa dikuasai, dan bahwa segalanya bisa diukur dengan uang. Ini adalah cerita yang melahirkan sistem ekonomi berbasis kelangkaan, kontrol, dan ketakutan.
Dalam cerita ini, kita diajarkan untuk terus merasa kurang. Kurang produktif. Kurang uang. Kurang sukses. Bahkan dalam relasi pun, kita sering merasa harus “memberi lebih” supaya dianggap cukup. Tidak heran jika banyak orang hari ini merasa terputus dari orang lain, dari alam, dan dari dirinya sendiri.
🌸 Cerita Baru yang Ingin Dihidupkan
Eisenstein menawarkan cerita tandingan. Sebuah kisah tentang keterhubungan, tentang kelimpahan yang datang bukan dari tumpukan materi, tapi dari rasa syukur. Dalam dunia baru yang ia bayangkan, setiap manusia dipandang bukan dari output atau nilai tukarnya, tapi dari keberadaannya. Bahwa keberadaan manusia itu sendiri sudah cukup bernilai tanpa harus membuktikan diri lewat produktivitas atau pengorbanan berlebih.
Konsep Ekonomi Sakral lahir dari keyakinan ini. Ia membayangkan sistem di mana uang tidak memutuskan relasi, tapi justru memperkuatnya. Dimana transaksi tidak terjadi karena tekanan, tapi karena niat untuk memberi. Dimana berbagi bukan bentuk kehilangan, tapi perayaan keterhubungan.
🧭 Menemukan Makna di Dunia yang Serba Efisien
Gagasan Eisenstein makin relevan hari ini ketika generasi muda banyak yang merasakan kekosongan eksistensial. Mereka tidak hanya lelah secara fisik karena budaya hustle, tapi juga jenuh secara batin karena hidup terasa seperti checklist tanpa rasa. Banyak yang mulai bertanya: “Kalau semua ini demi uang, lalu apa yang tersisa buat hidup?”
Eisenstein menjawab bahwa yang hilang adalah makna. Kita butuh lebih dari sekadar sistem yang “berfungsi”. Kita butuh sistem yang berjiwa. Kita butuh ruang untuk bernapas, waktu untuk hadir, dan keberanian untuk mempercayai aliran hidup.
🔁 Dari Ketakutan Menuju Syukur
Perubahan yang ditawarkan Eisenstein bukan revolusi dengan teriakan. Ia lebih mirip seperti embun yang pelan tapi menghidupkan. Ia tidak mendesak kita untuk meninggalkan sistem lama secara paksa, tapi mengajak kita untuk perlahan membuka diri pada kemungkinan lain: bahwa dunia ini bisa dijalankan dengan cara yang lebih lembut.
Dalam cerita barunya, pertumbuhan tidak lagi diukur dari seberapa besar angka ekonomi, tapi dari seberapa dalam kita bisa terhubung dengan sesama, dengan bumi, dan dengan diri sendiri.
Dan inilah inti kontribusinya bagi tatanan dunia baru: membangun peradaban bukan hanya di atas logika, tapi juga di atas cinta.
Kalau yang lain bicara tentang struktur, Charles bicara tentang getaran.
Kalau yang lain menawarkan peta, Charles menawarkan arah hati.
Ia percaya, dunia baru yang lebih indah itu bukan mustahil. Tapi ia tidak akan hadir kalau kita tetap hidup dalam cerita lama yang penuh ketakutan. Ia hanya bisa muncul kalau kita memilih percaya dan mulai hidup dari cerita yang baru.
🚪 Dunia Sedang Mencari Arah Baru
Empat pemikir sudah kita jelajahi. Mereka datang dari latar yang berbeda, ekonomi, ekologi, filsafat, bahkan spiritualitas. Tapi ada satu hal yang mereka semua suarakan, meski dengan kata berbeda: dunia seperti yang kita kenal sedang kehilangan bentuk.
Krisis demi krisis, dari lingkungan, ekonomi, hingga makna hidup, menandakan bahwa sistem lama tak lagi mampu menjawab tantangan zaman. Kita tidak hanya menghadapi masalah teknis, tapi masalah mendasar: cara kita melihat dunia, mengatur kehidupan, dan memberi makna pada eksistensi.
🌍 Dunia Lama Masih Berjalan, Tapi Tak Lagi Meyakinkan
Kapitalisme neoliberal, logika pertumbuhan abadi, dominasi atas alam, dan budaya produktivitas tanpa henti, semuanya mungkin masih mendominasi. Tapi dominasi itu kini terasa rapuh. Semakin banyak orang yang mulai mempertanyakan: apakah benar hidup harus seperti ini terus?
Apakah kita memang ditakdirkan untuk terus bekerja, terus bersaing, terus merasa kurang?Atau… ada cara lain?
🔭 Gagasan Alternatif Sedang Berkumpul
Apa yang ditawarkan oleh Kate Raworth, Jason Hickel, Bruno Latour, dan Charles Eisenstein bukanlah solusi instan. Tapi mereka sedang menyulam pola baru. Menggambarkan arah yang berbeda. Memberi kita kosa kata baru untuk memahami dan membayangkan hidup.
Mereka tidak sedang bicara tentang revolusi. Tapi tentang transisi dari dunia yang menjadikan manusia sebagai mesin ekonomi, menuju dunia yang kembali memanusiakan manusia.
Dan yang menarik: sinyal-sinyal perubahan ini bukan cuma datang dari kampus atau lembaga besar. Tapi juga dari keseharian, dari tren slow living, dari keresahan Gen Z terhadap hustle culture, dari komunitas-komunitas yang memilih hidup cukup dan terhubung.
✨ Akhirnya… Kita sedang hidup di persimpangan. Di satu sisi, dunia lama belum benar-benar pergi. Tapi di sisi lain, dunia baru mulai menyapa — lewat keresahan, lewat ide, lewat eksperimen sosial kecil di banyak tempat.
Apa yang akan lahir dari masa transisi ini, kita belum tahu. Tapi satu hal pasti: dunia tidak bisa terus seperti ini. Dan mungkin, justru dari titik gelap inilah, arah baru peradaban akan mulai terbentuk.
“Di tengah dunia yang kehilangan arah, gagasan-gagasan baru bukan sekadar wacana, tapi cahaya kecil yang menuntun kita menuju cara hidup yang lebih manusiawi, lebih terhubung, dan lebih bermakna.”
Catatan : “Artikel ini merupakan bagian dari seri Trend Perubahan Dunia Baru, yang dipublikasikan secara bertahap di blog Rooma21.com.”
Selanjutnya, baca artikel berjudul: “Karena Dunia Berubah, Kita Perlu Cara Hidup yang Baru.”
Visit www.rooma21.com: kami lebih dari sekadar platform properti, rumah ideal dimulai dari referensi yang tepat, rooma21.com: referensi real estate, mortgage & realtor di Indonesia, hadir untuk millenial dan genzie mewujudkan gaya hidup impian.

Komentar