Rooma21 Blog

Belum login? Masuk untuk akses penuh

Pencarian

Akun

Login Daftar
Iklan
Iklan

Silver Economy Itu Apa? Kenapa Muncul, dan Kenapa Dunia Ikut Berubah

18 February 2026
866 views
Silver Economy Itu Apa? Kenapa Muncul, dan Kenapa Dunia Ikut Berubah

Dari penuaan populasi sampai relokasi pensiunan: kenapa tren ini mengubah pola konsumsi, properti, dan gaya hidup global.”

Kenapa Istilah Silver Economy Muncul Sekarang?

Jakarta, Rooma21.com – Istilah silver economy tidak muncul tiba-tiba. Ia lahir dari perubahan demografi global yang sangat nyata. Dunia sedang menua, dan kecepatannya lebih tinggi dari yang banyak orang bayangkan satu dekade lalu.

Jika dulu populasi lanjut usia dianggap sebagai beban fiskal—karena kebutuhan kesehatan dan pensiun meningkat—kini banyak negara mulai melihatnya sebagai potensi ekonomi baru. Perubahan cara pandang inilah yang membuat istilah silver economy semakin sering digunakan dalam laporan kebijakan dan analisis ekonomi global sejak pertengahan 2010-an.

Populasi Dunia Menua Lebih Cepat dari Perkiraan

Menurut United Nations – World Population Prospects 2022 (revisi dirilis 2024), jumlah penduduk dunia berusia 65 tahun ke atas diproyeksikan akan lebih dari dua kali lipat antara tahun 2020 hingga 2050. Pada 2024, kelompok usia ini sudah mewakili sekitar 10 persen populasi global, dan angkanya terus meningkat terutama di Eropa, Amerika Utara, Jepang, dan Korea Selatan.

Di beberapa negara Eropa, proporsi lansia sudah melampaui 20 persen populasi. Jepang bahkan menjadi salah satu negara dengan struktur penduduk tertua di dunia. Perubahan ini bukan siklus sementara. Ia adalah tren struktural.

banner cara cari rumah lebih cepat dan akurat, hanya di rooma21

Harapan Hidup Naik, Masa Produktif Bertambah

Faktor utama di balik fenomena ini adalah meningkatnya harapan hidup. Data global dalam publikasi Population Reference Bureau – 2024 World Population Data Sheet (September 2024) menunjukkan bahwa rata-rata harapan hidup dunia kini mendekati 73 tahun, lebih tinggi dibandingkan beberapa dekade sebelumnya.

Baca Juga: Visi Ekonomi Prabowo: BUMN Bersih, Swasta & Koperasi Bangkit

Artinya, orang tidak hanya hidup lebih lama, tetapi juga lebih sehat lebih lama. Banyak individu usia 60–70 tahun hari ini masih aktif secara ekonomi, sosial, bahkan profesional. Inilah yang membedakan lansia generasi sekarang dengan generasi sebelumnya. Mereka tidak sepenuhnya keluar dari aktivitas ekonomi. Sebagian masih bekerja, berinvestasi, atau menjalankan bisnis.

Dari Beban Anggaran ke Peluang Ekonomi

Awalnya, banyak pemerintah khawatir terhadap beban pensiun dan biaya kesehatan akibat populasi menua. Namun dalam laporan seperti European Commission – The Silver Economy Report (2018) dan pembaruan analisis kebijakan Eropa hingga 2023, pendekatannya berubah.

Populasi lansia tidak lagi dilihat semata sebagai kelompok penerima bantuan, tetapi sebagai konsumen aktif yang memiliki daya beli signifikan. Mereka membelanjakan uang untuk perjalanan, kesehatan, properti, rekreasi, dan gaya hidup.

Perubahan perspektif ini membuat istilah silver economy semakin populer. Ia menjadi cara untuk menggambarkan ekonomi yang digerakkan oleh kelompok usia lanjut yang sehat, aktif, dan memiliki aset.

Dengan kata lain, silver economy bukan sekadar tentang jumlah lansia yang meningkat. Ia tentang bagaimana kelompok ini tetap menjadi pemain penting dalam ekonomi global.

Dan ketika daya beli besar bertemu dengan mobilitas global yang semakin mudah, dampaknya mulai terasa di berbagai sektor—termasuk properti, pariwisata, dan investasi lintas negara.

Cari perumahan di Cinere? Temukan 5 rekomendasi terbaik yang asri dan punya akses strategis dekat Tol Desari & Cijago. Pilihan ideal untuk keluarga modern. Rumah di Cinere | perumahan villa delima

Gaya Hidup Silver Generation Hari Ini Seperti Apa?

Silver Economy Itu Apa? Kenapa Muncul, dan Kenapa Dunia Ikut Berubah

Jika dulu lansia identik dengan fase pasif dan ketergantungan, generasi silver hari ini justru menunjukkan pola hidup yang jauh berbeda. Mereka hidup lebih lama, lebih sehat, dan dalam banyak kasus lebih mapan secara finansial dibanding generasi sebelumnya di usia yang sama.

Perubahan ini tidak hanya menggeser struktur demografi, tetapi juga mengubah pola konsumsi global.

Aktif, Traveling, dan Relokasi Internasional

Banyak individu usia 60 tahun ke atas saat ini masih aktif bepergian dan bahkan mempertimbangkan relokasi ke negara lain untuk menikmati biaya hidup yang lebih efisien atau kualitas hidup yang lebih baik.

Media keuangan seperti Investopedia (Januari 2024) mencatat meningkatnya minat warga Amerika usia pensiun untuk tinggal di luar negeri sebagai strategi mengelola biaya hidup dan kesehatan. Negara-negara seperti Portugal, Meksiko, Thailand, dan Malaysia sering muncul dalam daftar destinasi favorit pensiunan global.

Mobilitas ini bukan sekadar wisata. Ia adalah perpindahan aset dan konsumsi. Ketika seseorang menjual rumah di negara asal dan membeli properti di negara tujuan, terjadi aliran modal yang berdampak pada pasar lokal. Silver generation hari ini tidak hanya diam di kampung halaman. Mereka mobile dan strategis.

Baca Juga: Tiga Arus Kekuatan Dunia: Ideologi, Agentic AI & Kapital

Banner - Perumahan Bona Vista Residence, Cari Rumah Lebak Bulus, Cilandak - Jakarta Selatann - Rooma21

Kesehatan dan Wellness Jadi Prioritas

Dengan meningkatnya harapan hidup, fokus generasi ini bergeser pada kualitas hidup. Pengeluaran untuk kesehatan, wellness, nutrisi, dan gaya hidup aktif meningkat.

Berbagai laporan ekonomi Eropa yang mengkaji silver economy sejak 2018 hingga pembaruan kebijakan 2023 menunjukkan bahwa sektor kesehatan dan layanan pendukung usia lanjut menjadi salah satu segmen pertumbuhan tercepat dalam ekonomi berbasis lansia.

Namun yang menarik, generasi ini tidak hanya mengonsumsi layanan kesehatan karena sakit, tetapi sebagai bagian dari gaya hidup preventif: olahraga, spa, komunitas aktif, hingga hunian yang mendukung ageing in place.

Artinya, mereka bukan hanya bertahan hidup lebih lama, tetapi ingin hidup nyaman lebih lama.

Properti, Resort Living, dan Komunitas Senior

Silver Economy Itu Apa? Kenapa Muncul, dan Kenapa Dunia Ikut Berubah

Perubahan gaya hidup ini tercermin jelas dalam preferensi hunian. Laporan pasar properti global seperti Knight Frank Global Residential Outlook 2023 (Desember 2023) menunjukkan pertumbuhan minat terhadap retirement community, resort residence, dan hunian yang memiliki fasilitas kesehatan serta keamanan tinggi.

Di beberapa kawasan Asia Pasifik, pengembangan properti mulai menyasar segmen senior dengan desain khusus: akses mudah, fasilitas medis dekat, serta lingkungan komunitas yang terkurasi.

Bagi silver generation, rumah bukan lagi sekadar tempat tinggal permanen seperti masa muda. Ia menjadi bagian dari strategi hidup fase kedua. Bisa berupa downsizing ke hunian lebih praktis, pindah ke kota lebih hangat, atau membeli properti di negara lain dengan biaya hidup lebih rendah.

Gaya hidup ini menunjukkan satu hal penting: silver economy bukan hanya angka statistik demografi, tetapi realitas perilaku konsumsi yang sangat aktif.

Apakah Silver Economy Terjadi di Semua Negara?

Silver Economy Itu Apa? Kenapa Muncul, dan Kenapa Dunia Ikut Berubah

Meskipun istilah silver economy sering dibahas dalam konteks global, kenyataannya dampaknya tidak merata di semua negara. Struktur demografi setiap kawasan berbeda. Ada negara yang sudah masuk fase “super-aged society”, ada yang baru mulai menua, dan ada pula yang masih menikmati bonus demografi.

Perbedaan inilah yang menentukan seberapa kuat efek silver economy terhadap ekonomi dan pasar properti.

Eropa dan Jepang: Menua Lebih Cepat

Eropa termasuk kawasan dengan populasi paling tua di dunia. Data United Nations – World Population Prospects 2022 (revisi 2024) menunjukkan bahwa di banyak negara Eropa, lebih dari 20 persen penduduk sudah berusia 65 tahun ke atas.

Jepang bahkan lebih ekstrem. Berdasarkan data demografi nasional Jepang yang dirangkum dalam laporan internasional 2023–2024, hampir sepertiga penduduknya berada di atas usia 65 tahun. Kondisi ini menjadikan Jepang salah satu contoh paling jelas dari ekonomi yang digerakkan oleh populasi menua.

Di kawasan seperti ini, silver economy bukan lagi segmen tambahan, melainkan bagian inti dari struktur ekonomi. Permintaan terhadap layanan kesehatan, hunian lansia, dan produk berbasis usia lanjut menjadi arus utama.

Baca Juga: Jejak Family Office: Dari Rockefeller, Singapura, Bali & IKN

Banner Lebak Bulus | Cari Rumah Secondary di Lebak Bulus | Di Kawasan Perumahan Mapan Hunian Terawat Siap Huni | KPR Dibantu Sampai Dengan Akad | Lokasi Strategis, Akses Mudah | cari rumah lebak bulus

Amerika Serikat: Kaya dan Mobile

Amerika Serikat memiliki struktur demografi yang relatif lebih muda dibandingkan Jepang atau beberapa negara Eropa, tetapi tetap mengalami peningkatan jumlah penduduk usia lanjut. Data Population Reference Bureau – 2024 World Population Data Sheet (September 2024) menunjukkan proporsi lansia di Amerika Utara terus bertambah.

Yang membedakan Amerika adalah konsentrasi aset. Laporan Federal Reserve – Distribution of Household Wealth (2023) menunjukkan kekayaan rumah tangga usia 55 tahun ke atas sangat dominan dalam total kekayaan nasional. Kombinasi antara aset besar dan mobilitas tinggi membuat silver generation Amerika menjadi pemain aktif dalam relokasi internasional dan investasi properti lintas negara.

Asia Tenggara: Masih Bonus Demografi

Berbeda dengan Eropa dan Jepang, banyak negara Asia Tenggara masih berada dalam fase bonus demografi. Data Badan Pusat Statistik Indonesia – Proyeksi Penduduk 2020–2045 (rilis 2023) menunjukkan Indonesia masih memiliki proporsi penduduk usia produktif yang besar dibandingkan lansia.

Artinya, silver economy belum menjadi arus dominan domestik di kawasan ini. Namun kawasan Asia Tenggara justru menjadi tujuan arus silver economy dari luar, terutama karena biaya hidup yang relatif kompetitif dan iklim tropis yang menarik bagi pensiunan global.

Inilah dinamika uniknya: negara maju mengalami tekanan populasi menua dari dalam, sementara beberapa negara berkembang menghadapi dampak silver economy dari luar melalui arus migrasi dan investasi.

Jadi, silver economy memang fenomena global, tetapi kekuatannya berbeda tergantung struktur demografi masing-masing negara.

Silver Economy di 2035: Masih Membesar atau Melambat?

Silver Economy Itu Apa? Kenapa Muncul, dan Kenapa Dunia Ikut Berubah

Jika melihat arah demografi global, silver economy bukan fenomena jangka pendek. Ia bukan tren lima tahun, melainkan perubahan struktur penduduk yang dampaknya akan terasa hingga dekade berikutnya.

Pertanyaannya bukan lagi apakah populasi lansia akan bertambah, tetapi seberapa besar pengaruh ekonominya terhadap pasar, termasuk properti.

Proyeksi Populasi 65+ hingga 2035

Menurut United Nations – World Population Prospects 2022 (revisi 2024), jumlah penduduk global berusia 65 tahun ke atas diperkirakan akan terus meningkat signifikan hingga 2035. Di banyak negara maju, kelompok usia ini akan menjadi proporsi yang semakin besar dari total populasi.

Di Eropa dan Jepang, tren penuaan sudah mapan. Di Amerika Utara, peningkatannya lebih bertahap tetapi tetap konsisten. Bahkan beberapa negara Asia mulai memasuki fase transisi menuju struktur penduduk yang lebih tua. Artinya, basis konsumen silver economy akan semakin luas, bukan menyusut.

Dampaknya ke Properti dan Investasi

Dengan meningkatnya jumlah dan usia harapan hidup, kebutuhan hunian akan berubah. Laporan pasar properti global seperti Knight Frank Global Residential Outlook 2023 (Desember 2023) menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap segmen senior housing, retirement living, dan properti yang memiliki akses kesehatan baik.

Selain itu, pergerakan pensiunan lintas negara—yang dicatat dalam berbagai publikasi ekonomi 2023–2024—berpotensi memperkuat arus investasi ke negara dengan biaya hidup lebih rendah.

Properti menjadi bagian dari strategi pensiun: downsizing, relokasi ke kota lebih hangat, atau membeli rumah kedua di negara berbeda. Jika tren ini berlanjut, maka hingga 2035 silver economy akan tetap menjadi salah satu pendorong penting di segmen tertentu pasar properti global.

Baca Juga: Realita Side Hustle Gen Z | Kerja Banyak, Masa Depan Kabur?

Risiko dan Ketimpangan Antar Generasi

Namun pertumbuhan silver economy juga membawa risiko. Jika kekayaan tetap terkonsentrasi pada generasi yang lebih tua—seperti terlihat dalam laporan Federal Reserve Distribution of Household Wealth 2023—maka kesenjangan aset antar generasi bisa melebar.

Generasi muda menghadapi harga rumah yang lebih tinggi, sementara generasi senior memiliki aset yang sudah mengalami apresiasi puluhan tahun. Ketidakseimbangan ini dapat memengaruhi akses hunian dan stabilitas sosial di beberapa negara.

Di sinilah pentingnya kebijakan dan inovasi model hunian agar pasar tetap inklusif dan adaptif terhadap perubahan demografi. Pada akhirnya, silver economy hampir pasti akan terus tumbuh hingga 2035, karena ia didorong oleh tren penuaan populasi yang struktural. Namun dampaknya terhadap setiap negara akan berbeda, tergantung pada distribusi kekayaan, kebijakan publik, dan kemampuan pasar beradaptasi.

Seberapa Besar Nilai Ekonomi Silver Economy?

Silver Economy Itu Apa? Kenapa Muncul, dan Kenapa Dunia Ikut Berubah

Jika dilihat dari sisi nilai ekonomi, silver economy bukan lagi segmen kecil. Beberapa analisis kebijakan Eropa dan lembaga ekonomi internasional memperkirakan bahwa kontribusi aktivitas ekonomi berbasis populasi usia lanjut telah mencapai triliunan dolar per tahun secara global. 

Di kawasan Uni Eropa saja, nilai ekonomi yang terkait dengan konsumsi dan aktivitas kelompok usia 50+ diperkirakan menyumbang lebih dari seperempat PDB regional dalam berbagai estimasi kebijakan sejak akhir dekade 2010-an.

Di Amerika Serikat, laporan Federal Reserve dan berbagai studi distribusi kekayaan menunjukkan bahwa kelompok usia di atas 55 tahun menguasai mayoritas aset rumah tangga nasional. Artinya, daya beli silver generation bukan hanya besar secara jumlah populasi, tetapi juga dominan secara kepemilikan aset.

Ketika tren demografi ini berlanjut hingga 2035, maka arus konsumsi, investasi, dan relokasi yang dipicu oleh kelompok usia lanjut akan tetap menjadi faktor struktural dalam ekonomi global—termasuk dalam sektor properti dan investasi lintas negara.

Silver economy bukan sekadar istilah ekonomi. Ia adalah cermin perubahan zaman—ketika usia bertambah panjang, tetapi peran dalam ekonomi tidak otomatis berkurang. Dan ketika generasi dengan rambut memutih tetap aktif secara finansial, dunia usaha—including properti—tidak punya pilihan selain menyesuaikan diri.

Baca Juga: World Economic Outlook, April 2025; Chapter 2: The Rise of the Silver Economy: Global Implications of Population Aging

banner cara cari rumah lebih cepat dan akurat, hanya di rooma21
Iklan
Bagikan:
Avatar Djoko Yoewono
Djoko Yoewono
Penulis Rooma21 189 artikel
Lihat Profil
Djoko Yoewono
+

Komentar

Memuat komentar...

Jangan Ketinggalan Info Properti Terbaru!

Dapatkan berita, tips, dan penawaran eksklusif langsung ke email Anda.