Rooma21 Blog

Belum login? Masuk untuk akses penuh

Pencarian

Akun

Login Daftar
Iklan
Iklan

Mengapa Generasi Muda Semakin Sulit Membeli Rumah? Ini Fenomena Global di Balik Krisis Hunian

13 March 2026
455 views
Mengapa Generasi Muda Semakin Sulit Membeli Rumah? Ini Fenomena Global di Balik Krisis Hunian

Series: The Future of Home Ownership

>“Perubahan ekonomi kota, harga properti, dan dinamika generasi sedang membentuk masa depan kepemilikan rumah di seluruh dunia.”

Ketika Rumah Tidak Lagi Mudah Dimiliki

Jakarta, Rooma21.com – Di banyak kota besar dunia, semakin sering terdengar satu pertanyaan yang dulu hampir tidak pernah muncul dalam percakapan generasi muda: apakah membeli rumah masih realistis?

Selama beberapa dekade, kepemilikan rumah sering dipandang sebagai salah satu tonggak kehidupan. Setelah bekerja beberapa tahun, seseorang biasanya mulai menabung untuk membeli rumah pertama. Rumah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga simbol stabilitas ekonomi dan langkah menuju masa depan yang lebih mapan. Di banyak budaya, memiliki rumah bahkan dianggap sebagai tanda bahwa seseorang telah “berhasil” mencapai fase tertentu dalam hidupnya.

Namun dalam satu dekade terakhir, realitas tersebut mulai berubah secara perlahan.

Di kota seperti London, Sydney, Seoul, hingga San Francisco, harga rumah meningkat jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan. Bagi generasi yang baru memasuki usia produktif, kondisi ini menciptakan jarak yang semakin lebar antara kemampuan finansial dan harga properti yang tersedia di pasar. Banyak yang masih mampu membayar cicilan bulanan, tetapi kesulitan melewati tahap awal yang paling berat: mengumpulkan uang muka untuk membeli rumah pertama.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di satu negara atau satu kawasan. Berbagai laporan ekonomi menunjukkan bahwa masalah keterjangkauan hunian kini menjadi isu global. Laporan Harvard Joint Center for Housing Studies – “The State of the Nation’s Housing 2024” (18 June 2024) mencatat bahwa tekanan keterjangkauan rumah di Amerika Serikat mencapai salah satu tingkat tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Sementara itu, laporan OECD Housing Market Outlook (2023) juga menunjukkan bahwa rasio harga rumah terhadap pendapatan rumah tangga di banyak negara maju meningkat signifikan sejak awal dekade 2010-an.

Urbanisasi global juga memperkuat tekanan terhadap pasar perumahan. Data United Nations — World Urbanization Prospects (published 16 May 2018) menunjukkan bahwa lebih dari setengah populasi dunia kini tinggal di kawasan perkotaan, dan angka tersebut diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang. Pertumbuhan kota yang cepat membuat permintaan hunian meningkat, terutama di kawasan metropolitan yang menjadi pusat aktivitas ekonomi.

Baca Juga: Harga Properti Jakarta Selatan | Analisa NJOP, Prediksi 2026

Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi bukan sekadar fluktuasi pasar jangka pendek. Kenaikan suku bunga, perlambatan ekonomi, atau gejolak geopolitik memang mempengaruhi pasar properti, tetapi kesulitan generasi muda membeli rumah sering kali berakar pada perubahan yang lebih dalam. Urbanisasi yang semakin cepat, keterbatasan lahan di kota besar, meningkatnya peran investor dalam pasar perumahan, serta ketimpangan distribusi aset antar generasi semuanya ikut membentuk realitas baru dalam pasar hunian global.

Dalam konteks ini, rumah yang dulu hampir selalu dipandang sebagai tujuan yang dapat dicapai oleh setiap keluarga kini mulai dipertanyakan kembali oleh generasi baru. Bagi sebagian orang muda, rumah tidak lagi sekadar target finansial yang tinggal menunggu waktu untuk diraih, melainkan sesuatu yang terasa semakin jauh dari jangkauan.

banner cara cari rumah lebih cepat dan akurat, hanya di rooma21

Artikel ini mencoba melihat fenomena tersebut secara lebih luas.

Pertama, kita akan menelusuri bagaimana pasar properti global berubah dalam satu dekade terakhir dan bagaimana perubahan itu membentuk kondisi saat ini. 

Kedua, kita akan melihat pola yang muncul di berbagai kawasan dunia—dari Amerika Utara hingga Asia—yang menunjukkan bahwa tantangan kepemilikan rumah memiliki karakter yang mirip di banyak negara.

Ketiga, artikel ini akan membahas beberapa masalah struktural yang sering muncul dalam krisis kepemilikan rumah, mulai dari keterjangkauan harga, kesulitan mengumpulkan uang muka, hingga perubahan preferensi hunian generasi baru. Pada akhirnya, pembahasan ini juga akan mencoba melihat bagaimana tren global tersebut mungkin mempengaruhi arah perkembangan pasar properti di Indonesia.

Bagaimana Krisis Ini Terbentuk

Mengapa Generasi Muda Semakin Sulit Membeli Rumah? Ini Fenomena Global di Balik Krisis Hunian

Kesulitan generasi muda membeli rumah yang terlihat saat ini sebenarnya bukanlah perubahan yang terjadi secara tiba-tiba. Kondisi tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang berkembang selama lebih dari satu dekade, dipengaruhi oleh krisis finansial global, dinamika ekonomi kota, serta perubahan cara pasar melihat properti dalam sistem ekonomi modern.

Banyak analis menilai bahwa akar perubahan ini dapat ditelusuri kembali ke krisis finansial global tahun 2008. Krisis tersebut mengguncang sistem keuangan dunia dan menyebabkan runtuhnya pasar mortgage di Amerika Serikat, yang kemudian menjalar ke sektor perumahan di banyak negara lain. Setelah krisis mereda, berbagai pemerintah memperketat regulasi kredit perumahan dan memperbaiki sistem pembiayaan mortgage untuk menghindari gelembung properti yang berlebihan.

Namun pemulihan pasar setelah krisis tidak hanya mengembalikan harga rumah ke jalur pertumbuhan. Pada fase ini juga muncul perubahan yang lebih mendasar: properti semakin sering dipandang sebagai aset investasi, bukan semata-mata sebagai tempat tinggal.

Pemulihan Pasar Setelah Krisis Finansial Global

Memasuki awal dekade 2010-an, pasar perumahan di banyak negara mulai pulih dan harga rumah kembali meningkat. Namun pemulihan ini juga menandai perubahan penting dalam struktur pasar properti global.

Di Amerika Serikat, banyak rumah yang sebelumnya disita setelah krisis kemudian dibeli oleh perusahaan investasi dan pengelola aset institusional. Investor melihat pasar perumahan sebagai peluang untuk memperoleh keuntungan dari kenaikan nilai properti maupun pendapatan sewa.

Baca Juga: Pondok Indah: Simbol Kemapanan Modern Jakarta Selatan

Fenomena ini memperkuat tren baru dalam pasar properti global: meningkatnya peran investor institusi dalam kepemilikan rumah. Dalam laporan Harvard Joint Center for Housing Studies — “The State of the Nation’s Housing 2024” (published 18 June 2024) disebutkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir perusahaan investasi besar semakin aktif membeli rumah sebagai aset jangka panjang, terutama di pasar perumahan Amerika Serikat.

Perubahan ini secara perlahan menggeser cara rumah diposisikan dalam sistem ekonomi. Rumah tidak lagi hanya menjadi tempat tinggal keluarga, tetapi juga menjadi bagian dari portofolio investasi global.

Dekade 2010-an: Harga Rumah Melaju Lebih Cepat dari Pendapatan

Mengapa Generasi Muda Semakin Sulit Membeli Rumah? Ini Fenomena Global di Balik Krisis Hunian

Seiring pulihnya ekonomi global pada pertengahan dekade 2010-an, banyak kota besar dunia mulai mengalami kenaikan harga rumah yang sangat cepat. London, Vancouver, Sydney, dan Hong Kong sering disebut sebagai contoh kota yang mengalami lonjakan harga properti paling signifikan.

Pertumbuhan ekonomi, urbanisasi yang terus meningkat, serta arus investasi internasional membuat permintaan hunian di kota-kota tersebut meningkat tajam. Namun pembangunan rumah baru tidak selalu mampu mengikuti peningkatan permintaan, terutama di kota dengan keterbatasan lahan atau regulasi pembangunan yang ketat.

Ketidakseimbangan antara permintaan dan supply ini membuat harga rumah di banyak kota meningkat lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan masyarakat. Laporan Demographia — “International Housing Affordability Survey 2023” (published 20 March 2023) menunjukkan bahwa sejumlah kota di Australia, Kanada, dan Amerika Serikat memiliki rasio harga rumah terhadap pendapatan yang jauh lebih tinggi dibanding beberapa dekade sebelumnya. Rasio ini sering digunakan sebagai indikator utama untuk menilai apakah harga rumah masih berada pada tingkat yang terjangkau bagi rumah tangga rata-rata.

Pada fase inilah istilah housing affordability crisis mulai banyak digunakan oleh ekonom dan analis pasar properti untuk menggambarkan kesenjangan antara harga rumah dan kemampuan beli masyarakat.

Baca Juga: Harga Rumah 2025 Melambat, Cek Proyeksi Properti 2035

Pandemi dan Lonjakan Harga Properti Global

Perubahan berikutnya terjadi pada awal dekade 2020 ketika pandemi COVID-19 melanda dunia. Banyak negara menurunkan suku bunga secara drastis dan meluncurkan berbagai stimulus ekonomi untuk menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan.

Kondisi ini justru mendorong permintaan hunian meningkat tajam di sejumlah negara. Banyak rumah tangga mulai mencari hunian yang lebih besar atau lebih nyaman karena meningkatnya aktivitas bekerja dari rumah selama masa pandemi.

Menurut laporan International Monetary Fund — “Global Housing Watch Report” (published October 2023), harga rumah global mengalami kenaikan signifikan selama periode pandemi, terutama di negara maju. Kenaikan ini dipicu oleh kombinasi suku bunga rendah, meningkatnya permintaan hunian, serta keterbatasan pembangunan rumah baru.

Banner - Perumahan Serenia Hills Lebak Bulus - Cari Rumah di Lebak Bulus, Cilandak Jakarta Selatan - Rooma21

Namun lonjakan harga tersebut juga memperlebar jarak antara harga properti dan kemampuan beli generasi muda yang baru memasuki pasar perumahan. Ketika suku bunga kemudian mulai meningkat kembali setelah pandemi, banyak pasar properti memasuki fase penyesuaian. 

Meski demikian, masalah keterjangkauan hunian yang telah terbentuk selama satu dekade sebelumnya tidak serta-merta hilang.

Karena itu, banyak ekonom melihat bahwa kesulitan generasi muda membeli rumah bukan sekadar dampak dari kondisi ekonomi jangka pendek. Masalah ini lebih sering berkaitan dengan perubahan struktural yang terjadi dalam pasar perumahan global—mulai dari urbanisasi yang semakin intens, keterbatasan supply hunian di kota besar, hingga perubahan distribusi kekayaan antar generasi.

Dari Amerika hingga Asia: Pola yang Sama di Banyak Negara

Kenapa Generasi Muda Sulit Beli Rumah Krisis Hunian Global (2)

Jika dilihat sekilas, pasar properti di setiap negara memang memiliki karakter yang berbeda. Sistem pembiayaan perumahan, regulasi pembangunan, hingga pola urbanisasi sering kali dipengaruhi oleh kebijakan nasional dan kondisi ekonomi masing-masing negara.

Namun ketika berbagai laporan ekonomi dibandingkan secara global, muncul satu pola yang cukup konsisten: banyak kota besar di berbagai benua menghadapi masalah yang mirip dalam sektor perumahan. Harga rumah meningkat lebih cepat dibanding pendapatan, pasokan hunian di kota besar terbatas, dan generasi muda semakin sulit memasuki pasar kepemilikan rumah.

Fenomena ini terlihat jelas ketika kita membandingkan beberapa kawasan dunia.

Amerika Utara: Harga Naik, Supply Tertinggal

Mengapa Generasi Muda Semakin Sulit Membeli Rumah? Ini Fenomena Global di Balik Krisis Hunian

Di Amerika Serikat dan Kanada, pasar properti telah lama menjadi salah satu sektor ekonomi paling penting. Namun dalam beberapa tahun terakhir, banyak kota besar di kawasan ini menghadapi tekanan besar pada keterjangkauan hunian.

Di Amerika Serikat, berbagai studi menunjukkan bahwa kekurangan pasokan rumah menjadi salah satu penyebab utama kenaikan harga properti. Laporan Freddie Mac — “Housing Supply Gap” (published 7 May 2021) memperkirakan bahwa Amerika Serikat mengalami kekurangan sekitar 3,8 juta unit rumah, terutama di wilayah metropolitan yang pertumbuhannya sangat cepat.

Kondisi serupa juga terlihat di Kanada. Kota seperti Toronto dan Vancouver sering disebut sebagai salah satu pasar perumahan paling mahal di dunia. Menurut laporan Canada Mortgage and Housing Corporation (CMHC) — “Housing Supply Report” (published 27 September 2023), peningkatan populasi dan urbanisasi yang tinggi membuat permintaan hunian meningkat lebih cepat dibanding pembangunan rumah baru.

Akibatnya, harga rumah di banyak kota besar Amerika Utara meningkat tajam dalam satu dekade terakhir, membuat generasi muda menghadapi tantangan yang semakin besar untuk membeli rumah pertama.

Baca Juga: Rent-to-Own: Solusi Rumah Pilihan Rasional Milenial

Eropa dan Australia: Kota Mapan dengan Harga Rumah Tinggi

Mengapa Generasi Muda Semakin Sulit Membeli Rumah? Ini Fenomena Global di Balik Krisis Hunian

Di Eropa Barat dan Australia, tekanan terhadap keterjangkauan hunian juga menjadi isu besar dalam beberapa tahun terakhir.

London sering disebut sebagai salah satu kota dengan harga properti paling tinggi di dunia dibanding pendapatan rata-rata penduduknya. Kondisi ini tidak hanya disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi kota, tetapi juga oleh terbatasnya lahan pembangunan serta tingginya minat investor internasional terhadap properti di kota tersebut.

Hal yang sama terjadi di Australia. Kota seperti Sydney dan Melbourne mengalami lonjakan harga rumah yang sangat signifikan sejak pertengahan dekade 2010-an. Dalam laporan Demographia — “International Housing Affordability Survey 2023” (published 20 March 2023), Sydney dan Melbourne termasuk dalam kategori severely unaffordable housing markets, yaitu pasar perumahan dengan rasio harga rumah terhadap pendapatan yang sangat tinggi.

Kondisi ini membuat banyak generasi muda di negara-negara tersebut menunda pembelian rumah pertama atau memilih tinggal lebih lama di rumah orang tua sebelum mampu membeli properti sendiri.

Baca Juga: Realita Side Hustle Gen Z | Kerja Banyak, Masa Depan Kabur?

Asia Timur: Tekanan Ekstrem di Kota Padat

Jika tekanan harga rumah di Amerika Utara dan Eropa sudah cukup tinggi, kondisi di beberapa kota Asia Timur bahkan lebih ekstrem.

Seoul, Hong Kong, dan Tokyo sering disebut sebagai contoh kota dengan kepadatan tinggi dan keterbatasan lahan yang signifikan. Kombinasi antara urbanisasi cepat, pertumbuhan ekonomi kota, dan terbatasnya ruang pembangunan membuat harga properti di kawasan ini meningkat tajam.

Di Korea Selatan, misalnya, kenaikan harga apartemen di Seoul menjadi isu ekonomi dan sosial yang cukup besar dalam beberapa tahun terakhir. Laporan Bank for International Settlements (BIS) — “Property Price Statistics” (published 2023) menunjukkan bahwa harga properti di sejumlah kota Asia meningkat pesat selama dekade terakhir, terutama di kawasan metropolitan dengan pertumbuhan ekonomi tinggi.

Banner - Perumahan Komplek MPR, Cari Rumah Cilandak - Jakarta Selatann - Rooma21

Hong Kong bahkan sering menempati posisi teratas dalam berbagai survei keterjangkauan hunian global, dengan rasio harga rumah terhadap pendapatan yang termasuk paling tinggi di dunia.

Tekanan harga yang tinggi ini membuat banyak generasi muda di kota-kota Asia Timur harus menghadapi tantangan yang sangat berat untuk memiliki rumah sendiri.

Secara keseluruhan, perbandingan lintas kawasan ini menunjukkan bahwa krisis kepemilikan rumah bukanlah fenomena yang terbatas pada satu negara atau satu sistem ekonomi. Meski penyebab spesifiknya berbeda di setiap kota, banyak pasar properti dunia menghadapi pola yang serupa: harga rumah meningkat lebih cepat dibanding pendapatan, pasokan hunian terbatas, dan generasi muda semakin sulit memasuki pasar kepemilikan rumah.

Kondisi ini kemudian memunculkan pertanyaan yang lebih besar: jika masalah ini terjadi hampir di seluruh dunia, apa sebenarnya faktor utama yang mendorong perubahan tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu melihat lebih dekat beberapa masalah struktural yang sering muncul di balik krisis kepemilikan rumah global.

Lima Masalah Besar di Balik Krisis Kepemilikan Rumah

Kenapa Generasi Muda Sulit Beli Rumah Krisis Hunian Global (2)

Jika dibandingkan antar negara, penyebab kenaikan harga rumah memang tidak selalu sama. Setiap kota memiliki kombinasi faktor ekonomi, regulasi pembangunan, dan dinamika pasar yang berbeda. Namun ketika berbagai laporan internasional dianalisis bersama, muncul beberapa pola yang cukup konsisten di banyak pasar properti dunia.

Para ekonom dan analis perumahan sering melihat bahwa kesulitan generasi muda membeli rumah tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Sebaliknya, kondisi tersebut muncul dari kombinasi beberapa masalah struktural yang berkembang secara perlahan dalam satu dekade terakhir.

Masalah-masalah ini tidak hanya mempengaruhi satu negara atau satu kawasan. Di Amerika Utara, Eropa, Australia, hingga Asia Timur, pola yang serupa terus muncul dalam berbagai laporan ekonomi yang membahas sektor perumahan.

Harga Rumah yang Melampaui Pertumbuhan Pendapatan

Masalah pertama yang paling sering disebut adalah kesenjangan antara harga rumah dan pendapatan masyarakat. Dalam banyak kota besar dunia, harga properti meningkat jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan gaji rumah tangga.

Kondisi ini membuat rasio harga rumah terhadap pendapatan terus meningkat. Rasio tersebut sering digunakan oleh ekonom sebagai indikator utama untuk menilai tingkat keterjangkauan hunian.

Laporan OECD — “Brick by Brick: Building Better Housing Policies” (published 16 May 2021) menunjukkan bahwa di banyak negara maju, harga rumah telah meningkat lebih cepat dibanding pendapatan rumah tangga sejak awal dekade 2010-an. Ketika rasio harga rumah terhadap pendapatan meningkat, semakin sedikit rumah tangga yang mampu membeli properti tanpa bantuan tambahan, seperti dukungan keluarga atau program subsidi pemerintah.

Bagi generasi muda yang baru memasuki pasar tenaga kerja, kondisi ini membuat proses membeli rumah pertama menjadi jauh lebih sulit dibanding generasi sebelumnya.

Di banyak kota besar, agen properti juga mulai melihat bahwa usia pembeli rumah pertama semakin meningkat dibanding satu dekade lalu, karena semakin banyak calon pembeli yang membutuhkan waktu lebih lama untuk mengumpulkan uang muka dan menyesuaikan kemampuan finansial mereka dengan harga pasar.

Deposit Trap dan Hambatan Membeli Rumah Pertama

Mengapa Generasi Muda Semakin Sulit Membeli Rumah? Ini Fenomena Global di Balik Krisis Hunian

Masalah kedua sering muncul pada tahap awal pembelian rumah, yaitu kemampuan mengumpulkan uang muka atau down payment. Di banyak kota besar dunia, biaya hidup dan harga sewa yang tinggi membuat generasi muda kesulitan menabung untuk membeli rumah pertama.

Fenomena ini sering disebut sebagai deposit trap, yaitu kondisi ketika seseorang terjebak dalam siklus menyewa sehingga sulit mengumpulkan uang muka yang diperlukan untuk membeli rumah.

Menurut laporan UK Parliament Housing Committee — “Housing Affordability in England” (published 20 June 2022), banyak calon pembeli rumah pertama di Inggris harus menunda pembelian rumah karena kesulitan menabung untuk uang muka, meskipun mereka sebenarnya mampu membayar cicilan mortgage.

Situasi serupa juga terjadi di berbagai negara lain, terutama di kota besar dengan harga sewa yang tinggi. Ketika sebagian besar pendapatan digunakan untuk membayar sewa dan biaya hidup, kemampuan menabung untuk membeli rumah menjadi semakin terbatas.

Ketimpangan Aset dan Perubahan Gaya Hidup Generasi Baru

Mengapa Generasi Muda Semakin Sulit Membeli Rumah? Ini Fenomena Global di Balik Krisis Hunian

Masalah berikutnya berkaitan dengan distribusi aset dan perubahan preferensi generasi. Di banyak negara maju, sebagian besar properti dimiliki oleh generasi yang lebih tua, terutama kelompok usia yang membeli rumah ketika harga masih relatif terjangkau beberapa dekade lalu.

Penelitian Federal Reserve — “Distribution of Household Wealth in the United States since 1989” (published December 2023) menunjukkan bahwa rumah tangga dengan kepala keluarga berusia di atas 55 tahun menguasai lebih dari separuh total kekayaan rumah tangga di Amerika Serikat. Kondisi ini menciptakan ketimpangan generasi dalam kepemilikan aset, terutama properti.

Di sisi lain, generasi milenial dan Gen Z juga menunjukkan perubahan dalam cara mereka memandang hunian. Mobilitas kerja yang tinggi, perubahan gaya hidup urban, serta meningkatnya biaya hidup membuat sebagian generasi muda lebih terbuka terhadap berbagai alternatif hunian, seperti apartemen kecil, co-living, atau menyewa dalam jangka panjang.

Perubahan ini tidak berarti generasi baru tidak ingin memiliki rumah. Namun realitas ekonomi dan dinamika gaya hidup membuat proses menuju kepemilikan rumah menjadi lebih kompleks dibanding sebelumnya.

Baca Juga: Rumah Susah Laku? Bukan Masalah Harganya, Tapi Cara Jualnya!

Jika ketiga faktor tersebut dilihat bersama, terlihat bahwa krisis kepemilikan rumah bukan sekadar masalah harga properti yang tinggi. Fenomena ini lebih sering merupakan hasil dari kombinasi berbagai perubahan struktural dalam ekonomi kota, distribusi aset, dan dinamika generasi.

Karena itu, banyak analis melihat bahwa masa depan sektor perumahan kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh harga rumah atau suku bunga mortgage, tetapi juga oleh bagaimana model kepemilikan hunian akan berkembang di masa depan.

Ketika Rumah Tidak Lagi Selalu Harus Dimiliki

Kenapa Generasi Muda Sulit Beli Rumah Krisis Hunian Global (2)

Selama puluhan tahun, kepemilikan rumah sering dianggap sebagai tujuan yang hampir pasti dalam perjalanan hidup seseorang. Dalam banyak budaya, membeli rumah pertama menjadi simbol kedewasaan ekonomi, stabilitas keluarga, sekaligus langkah menuju akumulasi kekayaan jangka panjang.

Namun ketika tekanan harga properti meningkat di banyak kota besar dunia, semakin banyak ekonom mulai mempertanyakan apakah model kepemilikan rumah tradisional masih akan menjadi norma yang sama di masa depan.

Perubahan ini tidak berarti rumah kehilangan nilainya sebagai aset atau tempat tinggal yang penting. Tetapi realitas ekonomi yang berubah membuat banyak negara mulai bereksperimen dengan berbagai pendekatan baru dalam menyediakan akses hunian bagi generasi berikutnya.

Dari Kepemilikan Penuh Menuju Akses Hunian

Salah satu perubahan yang mulai terlihat di berbagai negara adalah munculnya berbagai model kepemilikan alternatif. Jika sebelumnya rumah hampir selalu dimiliki secara penuh oleh satu keluarga, kini semakin banyak skema yang mencoba menjembatani keterbatasan kemampuan membeli rumah.

Beberapa negara mulai mengembangkan model seperti shared ownership, di mana pembeli hanya memiliki sebagian porsi properti sementara sisanya dimiliki oleh lembaga perumahan atau pemerintah. Model lain yang mulai berkembang adalah rent-to-own, yang memungkinkan penyewa mengubah sebagian pembayaran sewa menjadi kepemilikan rumah di masa depan.

Laporan World Economic Forum — “Making Affordable Housing a Reality in Cities” (published 8 June 2019) mencatat bahwa berbagai kota dunia mulai mengembangkan model pembiayaan dan kepemilikan hunian yang lebih fleksibel untuk menjawab masalah keterjangkauan rumah di kawasan perkotaan.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pasar perumahan global mulai mencari cara baru untuk menjembatani kesenjangan antara harga rumah dan kemampuan membeli generasi muda.

Baca Juga: Dari Paylater ke Rumah Pertama: Model Mortgage Gig Worker

Hunian sebagai Bagian dari Gaya Hidup Urban

Selain faktor ekonomi, perubahan cara pandang terhadap hunian juga mulai terlihat dalam gaya hidup generasi baru. Mobilitas kerja yang semakin tinggi, berkembangnya ekonomi digital, serta perubahan pola kerja membuat sebagian generasi muda tidak lagi selalu memprioritaskan kepemilikan rumah dalam usia yang sama seperti generasi sebelumnya.

Di berbagai kota besar dunia, konsep co-living, micro-apartment, dan hunian berbasis komunitas mulai berkembang sebagai alternatif bagi generasi urban yang mencari fleksibilitas tempat tinggal.

Menurut laporan McKinsey Global Institute — “The Future of Cities” (published October 2023), perubahan struktur pekerjaan dan meningkatnya mobilitas tenaga kerja global turut mempengaruhi cara generasi muda memilih tempat tinggal. Bagi sebagian orang, fleksibilitas lokasi dan akses terhadap fasilitas kota menjadi pertimbangan yang sama pentingnya dengan kepemilikan properti.

Perubahan ini menunjukkan bahwa hubungan antara manusia dan hunian juga ikut berevolusi seiring perubahan ekonomi dan gaya hidup.

Banner | Cari Rumah Secondary di Kebayoran Di Kawasan Perumahan Mapan Hunian Terawat Siap Huni KPR Dibantu Sampai Dengan Akad Lokasi Strategis, Akses Mudah | Berita Properti

Indonesia di Persimpangan Perubahan

Indonesia mungkin belum menghadapi krisis kepemilikan rumah sebesar negara maju. Harga rumah di banyak kota masih relatif lebih terjangkau dibanding beberapa pasar properti dunia. Namun tanda-tanda perubahan yang serupa mulai terlihat di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung.

Urbanisasi yang cepat, pertumbuhan kota metropolitan, serta meningkatnya harga lahan membuat hunian di kawasan strategis semakin mahal bagi generasi muda. Banyak calon pembeli rumah pertama menghadapi tantangan yang mirip dengan yang dialami generasi muda di berbagai negara lain, terutama dalam mengumpulkan uang muka dan menyesuaikan kemampuan finansial dengan harga properti yang tersedia.

Dalam konteks ini, memahami tren global menjadi penting. Apa yang terjadi di berbagai kota dunia selama satu dekade terakhir dapat memberikan gambaran tentang kemungkinan arah perkembangan pasar properti Indonesia di masa depan.

Karena pada akhirnya, pertanyaan yang semakin relevan bukan hanya tentang berapa harga rumah, tetapi juga tentang bagaimana model kepemilikan hunian akan berkembang di masa depan.

Perubahan tersebut mungkin tidak terjadi secara drastis dalam waktu singkat. Namun seperti yang terlihat di berbagai negara, cara manusia memiliki dan mengakses hunian perlahan sedang mengalami evolusi.

Namun jika krisis keterjangkauan hunian ini terus berlangsung di berbagai kota dunia, pertanyaan berikutnya menjadi semakin menarik: apakah kepemilikan rumah akan tetap menjadi model utama dalam sistem hunian modern? Pertanyaan inilah yang akan kita bahas dalam artikel berikutnya mengenai bagaimana model kepemilikan rumah mulai berevolusi di berbagai negara.

>“Di masa depan, rumah mungkin tetap menjadi impian banyak orang. Namun cara manusia mencapainya, memilikinya, dan memaknainya kemungkinan tidak lagi sama seperti generasi sebelumnya.”

MLS Jakarta Selatan - Rooma21-new

FAQ: Kepemilikan Rumah dan Generasi Muda

Mengapa generasi muda semakin sulit membeli rumah?

Harga rumah di banyak kota meningkat lebih cepat dibanding pendapatan, sementara urbanisasi dan keterbatasan lahan membuat pasokan hunian terbatas.

Apa yang dimaksud dengan krisis keterjangkauan hunian?

Istilah ini merujuk pada kondisi ketika rasio harga rumah terhadap pendapatan rumah tangga meningkat sehingga semakin sedikit orang yang mampu membeli rumah.

Apakah generasi muda masih ingin memiliki rumah?

Berbagai studi menunjukkan bahwa keinginan memiliki rumah masih tinggi, tetapi banyak generasi muda harus menunda pembelian karena faktor ekonomi.

Daftar Pustaka : 

  1. Harvard Joint Center for Housing Studies — The State of the Nation’s Housing 2024, 18 June 2024. 
  2. OECD — Brick by Brick: Building Better Housing Policies, 16 May 2021. 
  3. International Monetary Fund — Global Housing Watch Report, October 2023.
  4. Demographia — International Housing Affordability Survey 2023, 20 March 2023. 
  5. Federal Reserve — Distribution of Household Wealth in the United States since 1989, December 2023.
Iklan
Bagikan:
Avatar Djoko Yoewono
Djoko Yoewono
Penulis Rooma21 189 artikel
Lihat Profil
Djoko Yoewono
+

Komentar

Memuat komentar...

Jangan Ketinggalan Info Properti Terbaru!

Dapatkan berita, tips, dan penawaran eksklusif langsung ke email Anda.