Series: The Future of Home Ownership
>”Di tengah perubahan ekonomi kota, mobilitas kerja, dan gaya hidup generasi baru, berbagai konsep hunian mulai muncul dan menantang gagasan lama tentang kepemilikan rumah.”
Rumah Pernah Menjadi Tujuan Ekonomi Banyak Generasi
Jakarta, Rooma21.com – Selama sebagian besar abad ke-20, memiliki rumah menjadi salah satu tujuan ekonomi yang paling jelas bagi banyak keluarga. Setelah bekerja beberapa tahun, menabung, dan mencapai stabilitas pendapatan tertentu, membeli rumah pertama sering dianggap sebagai langkah penting dalam perjalanan hidup seseorang. Di banyak negara, kepemilikan rumah bahkan dipandang sebagai simbol kedewasaan ekonomi dan keberhasilan sosial.
Pandangan tersebut tidak muncul secara kebetulan. Setelah Perang Dunia II, berbagai negara mulai mendorong kepemilikan rumah melalui kebijakan kredit perumahan, pembangunan kawasan pinggiran kota, dan sistem mortgage yang semakin berkembang. Di Amerika Serikat, misalnya, ekspansi kredit perumahan melalui Federal Housing Administration dan berbagai program pembiayaan rumah membantu mendorong tingkat kepemilikan rumah secara signifikan sepanjang paruh kedua abad ke-20. Fenomena serupa juga terjadi di banyak negara Eropa, Australia, dan sebagian negara Asia yang mengalami pertumbuhan kelas menengah.
Dalam kerangka ekonomi rumah tangga, rumah kemudian tidak hanya dipahami sebagai tempat tinggal. Ia juga menjadi salah satu bentuk akumulasi kekayaan paling penting bagi keluarga. Laporan OECD Housing and Wealth Accumulation yang diterbitkan pada 21 Juni 2023 menunjukkan bahwa di banyak negara maju, sebagian besar kekayaan rumah tangga masih tersimpan dalam bentuk aset properti. Hal ini membuat kepemilikan rumah bukan hanya persoalan tempat tinggal, tetapi juga bagian dari strategi keuangan jangka panjang.
Namun dalam beberapa dekade terakhir, perubahan ekonomi kota, mobilitas kerja yang semakin tinggi, serta perubahan gaya hidup generasi muda mulai memunculkan pertanyaan baru tentang apakah model kepemilikan rumah tradisional akan tetap mendominasi di masa depan. Di berbagai kota dunia, berbagai eksperimen hunian mulai bermunculan—mulai dari sistem rent-to-own, shared ownership, hingga konsep hunian berbasis layanan.

Artikel ini akan membahas bagaimana konsep kepemilikan rumah berkembang menjadi norma global, mengapa cara manusia tinggal mulai berubah di berbagai kota dunia, serta berbagai model hunian baru yang mulai muncul ketika gagasan lama tentang memiliki rumah mulai dipertanyakan.
Ketika Cara Manusia Tinggal Mulai Berubah

Selama puluhan tahun, kepemilikan rumah sering dianggap sebagai tujuan yang hampir pasti dalam perjalanan ekonomi seseorang. Namun dalam dua dekade terakhir, berbagai perubahan sosial dan ekonomi mulai memunculkan pola hidup yang berbeda. Di banyak kota dunia, cara manusia tinggal tidak lagi selalu mengikuti jalur yang sama seperti generasi sebelumnya.
Mobilitas Kerja Generasi Baru
Salah satu perubahan paling terlihat adalah meningkatnya mobilitas hidup, terutama di kalangan generasi muda. Pekerjaan tidak lagi selalu terikat pada satu kota atau satu kantor dalam jangka panjang. Banyak profesi kini memungkinkan seseorang berpindah kota bahkan berpindah negara dalam kurun waktu yang relatif singkat. Perkembangan teknologi digital dan pola kerja jarak jauh semakin memperkuat tren ini.
Laporan Future of Jobs Report 2023 yang diterbitkan oleh World Economic Forum pada 30 April 2023 menunjukkan bahwa fleksibilitas lokasi kerja menjadi salah satu perubahan besar dalam struktur pasar tenaga kerja global. Semakin banyak pekerjaan yang dapat dilakukan secara remote atau hybrid, sehingga keterikatan seseorang pada satu lokasi geografis menjadi semakin longgar. Dalam situasi seperti ini, keputusan untuk membeli rumah sering kali tidak lagi sesederhana generasi sebelumnya yang bekerja dan tinggal di kota yang sama selama puluhan tahun.
Baca Juga: Hunian Eropa Timur: Warisan Soviet & Privatisasi Massal

Gaya Hidup Perkotaan yang Semakin Fleksibel
Perubahan gaya hidup perkotaan juga ikut mempengaruhi pola hunian. Banyak kota besar di dunia mengalami transformasi dalam struktur rumah tangga. Ukuran keluarga semakin kecil, usia menikah semakin mundur, dan jumlah rumah tangga satu orang terus meningkat. Perubahan demografi ini membuat kebutuhan hunian juga ikut berubah.
Data OECD Housing Outlook 2024 yang diterbitkan pada 15 Mei 2024 menunjukkan bahwa pertumbuhan rumah tangga satu orang menjadi salah satu tren demografi penting di banyak negara maju. Ketika jumlah rumah tangga kecil meningkat, kebutuhan terhadap hunian yang lebih fleksibel dan mudah diakses juga ikut berkembang.
Dalam konteks ini, rumah tidak selalu dipandang sebagai tempat tinggal jangka panjang yang harus dimiliki sejak awal kehidupan dewasa. Bagi sebagian orang, hunian mulai dipahami sebagai sesuatu yang lebih fleksibel—sesuatu yang dapat diakses sesuai dengan kebutuhan hidup yang terus berubah. Pergeseran cara pandang ini kemudian membuka ruang bagi munculnya berbagai eksperimen baru dalam sistem hunian di berbagai kota dunia.
Rent-to-Own: Jalan Tengah Antara Menyewa dan Memiliki

Selama bertahun-tahun, sistem hunian modern biasanya hanya mengenal dua pilihan utama: menyewa atau membeli rumah. Namun dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara mulai mencoba berbagai pendekatan baru untuk menjembatani kesenjangan antara kedua pilihan tersebut. Salah satu konsep yang mulai berkembang adalah rent-to-own, sebuah skema yang memungkinkan seseorang menempati rumah sebagai penyewa sambil secara bertahap membangun kepemilikan terhadap properti tersebut.
Model ini muncul sebagai respons terhadap perubahan kondisi pasar perumahan di banyak kota dunia. Ketika semakin banyak rumah tangga mengalami kesulitan untuk langsung membeli rumah melalui sistem pembiayaan konvensional, berbagai eksperimen kebijakan dan model bisnis mulai dikembangkan untuk memperluas akses menuju kepemilikan rumah.
Bagaimana Model Rent-to-Own Bekerja
Dalam skema rent-to-own, seseorang biasanya menyewa rumah untuk jangka waktu tertentu, misalnya tiga hingga lima tahun. Selama periode tersebut, sebagian dari pembayaran sewa dapat dihitung sebagai kontribusi terhadap harga pembelian rumah apabila penyewa memutuskan untuk membeli properti tersebut di akhir masa sewa.
Dalam banyak program, penyewa juga membayar biaya tambahan yang sering disebut sebagai option fee atau equity credit. Komponen ini pada dasarnya berfungsi sebagai tabungan kepemilikan yang secara bertahap membangun ekuitas terhadap rumah yang ditempati. Dengan cara ini, penyewa memiliki kesempatan untuk menyiapkan diri secara finansial sebelum akhirnya mengambil keputusan membeli rumah.
Negara yang Mulai Menggunakan Skema Ini
Konsep rent-to-own mulai digunakan di beberapa negara sebagai salah satu cara memperluas akses terhadap kepemilikan rumah. Di Amerika Serikat, misalnya, sejumlah perusahaan properti dan lembaga pembiayaan mulai mengembangkan berbagai program yang memungkinkan calon pembeli rumah menempati properti terlebih dahulu sebelum benar-benar melakukan pembelian.
Laporan Urban Institute Housing Finance Policy Center yang diterbitkan pada 12 Oktober 2023 mencatat bahwa model seperti ini semakin banyak dibahas sebagai alternatif pembiayaan perumahan di pasar yang mengalami tekanan keterjangkauan. Meskipun belum menjadi sistem dominan, eksperimen seperti rent-to-own menunjukkan bahwa batas antara menyewa dan memiliki rumah mulai menjadi lebih fleksibel dibandingkan sebelumnya.
Baca Juga: Revolusi Proptech: Infrastruktur Transaksi & Rent-to-Own
Shared Ownership dan Fractional Property

Selain konsep rent-to-own, beberapa negara juga mulai mengembangkan berbagai bentuk kepemilikan parsial dalam properti. Model ini mencoba menjawab satu pertanyaan yang semakin sering muncul dalam diskusi pasar perumahan modern: apakah seseorang harus langsung memiliki seluruh rumah untuk dapat disebut sebagai pemilik rumah.
Dalam sistem kepemilikan tradisional, seseorang biasanya membeli seluruh properti melalui pembiayaan jangka panjang seperti mortgage. Namun dalam berbagai eksperimen kebijakan perumahan yang mulai muncul di beberapa negara, kepemilikan rumah tidak selalu harus dimulai dari kepemilikan penuh. Beberapa skema memungkinkan pembeli untuk memiliki sebagian dari properti terlebih dahulu, kemudian meningkatkan porsi kepemilikan secara bertahap.
Kepemilikan Parsial dalam Properti
Salah satu contoh pendekatan ini adalah model shared ownership, yang cukup dikenal di beberapa negara Eropa, terutama di Inggris. Dalam sistem ini, pembeli biasanya membeli sebagian dari nilai rumah—misalnya 25 persen hingga 50 persen—sementara sisa kepemilikan tetap dimiliki oleh lembaga perumahan atau pengembang.
Pembeli kemudian membayar cicilan untuk bagian properti yang dimiliki, sekaligus membayar sewa untuk bagian yang belum dimiliki. Seiring waktu, pemilik rumah dapat meningkatkan porsi kepemilikannya melalui proses yang sering disebut sebagai staircasing, yaitu membeli tambahan porsi kepemilikan hingga akhirnya memiliki seluruh properti.
Program shared ownership di Inggris, misalnya, telah lama digunakan sebagai salah satu kebijakan untuk memperluas akses kepemilikan rumah bagi rumah tangga yang belum mampu membeli properti secara penuh melalui sistem mortgage tradisional.
Baca Juga: Rent-to-Own: Solusi Rumah Pilihan Rasional Milenial

Teknologi Proptech dan Kepemilikan Kolektif
Selain kebijakan perumahan konvensional, perkembangan teknologi digital juga mulai membuka kemungkinan baru dalam cara memiliki properti. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai platform proptech mulai mengembangkan konsep fractional ownership, yaitu kepemilikan properti secara kolektif oleh beberapa investor atau pengguna.
Melalui platform digital, sebuah properti dapat dibagi menjadi beberapa bagian kepemilikan yang lebih kecil sehingga memungkinkan lebih banyak orang untuk berpartisipasi dalam kepemilikan aset properti. Laporan World Economic Forum – Future of Real Estate yang diterbitkan pada 17 Januari 2024 mencatat bahwa berbagai inovasi berbasis teknologi mulai memperluas kemungkinan model kepemilikan properti di masa depan.
Walaupun model seperti ini masih dalam tahap perkembangan dan belum menjadi sistem yang dominan dalam pasar perumahan global, berbagai eksperimen tersebut menunjukkan bahwa konsep kepemilikan rumah mulai berevolusi mengikuti perubahan teknologi dan dinamika ekonomi modern.
Dari Ownership ke Access: Munculnya Housing as a Service

Selama puluhan tahun, rumah dipahami sebagai sesuatu yang idealnya dimiliki. Orang bekerja, menabung, lalu membeli rumah untuk ditinggali dalam jangka panjang. Namun di banyak kota besar dunia, cara pandang ini mulai bergeser. Bagi sebagian generasi baru, hunian tidak selalu lagi dilihat sebagai aset yang harus segera dimiliki, tetapi sebagai sesuatu yang bisa diakses sesuai kebutuhan hidup.
Kalau digambarkan, logikanya mulai mirip dengan perubahan di banyak sektor lain. Dulu orang merasa harus memiliki CD untuk mendengarkan musik, harus membeli DVD untuk menonton film, atau harus punya mobil sendiri untuk bepergian. Sekarang banyak orang cukup berlangganan Spotify, Netflix, atau memesan kendaraan lewat aplikasi. Bukan karena kepemilikan sepenuhnya hilang nilainya, tetapi karena akses yang fleksibel sering dianggap lebih praktis untuk gaya hidup tertentu.
Dalam konteks hunian, gagasan inilah yang mulai muncul dalam berbagai model baru di kota-kota global.
Hunian sebagai Layanan
Konsep housing as a service pada dasarnya berarti tempat tinggal mulai diperlakukan seperti sebuah layanan, bukan semata-mata seperti aset yang harus dibeli. Dalam model ini, penghuni tidak hanya membayar untuk ruang tinggal, tetapi juga untuk kenyamanan, fleksibilitas, dan ekosistem yang menyertainya.
Kalau memakai ilustrasi sederhana, model ini lebih dekat ke “paket tinggal” daripada sekadar sewa unit. Penghuni bisa mendapatkan apartemen yang sudah lengkap dengan furnitur, internet, ruang kerja bersama, layanan kebersihan, sistem maintenance, bahkan komunitas penghuni yang sudah dikelola oleh operator.
Jadi yang dibayar bukan hanya dinding dan atapnya, tetapi seluruh pengalaman tinggalnya.
Di kota-kota besar dengan ritme kerja cepat, model seperti ini menjadi menarik karena banyak orang tidak ingin repot mengurus terlalu banyak hal teknis. Mereka ingin tempat tinggal yang bisa langsung dipakai, mudah ditinggalkan jika harus pindah kota, dan tidak menuntut komitmen kepemilikan jangka panjang.
Laporan World Economic Forum – Future of Real Estate yang diterbitkan pada 17 Januari 2024 mencatat bahwa berbagai model hunian berbasis layanan mulai berkembang di sejumlah kota besar, terutama di kawasan dengan tingkat mobilitas tenaga kerja yang tinggi.
Baca Juga: FIRE & Frugal Living: Financial Freedom, Mimpi Pensiun Dini
Subscription Living dan Jaringan Hunian Global
Salah satu bentuk yang lebih jauh dari konsep ini adalah subscription living. Kalau mau didetailkan, model ini bisa dibayangkan sebagai gabungan antara apartemen siap huni, co-living, dan membership hotel, tetapi ditujukan untuk tinggal dalam jangka menengah, bukan sekadar short stay.
Dalam sistem sewa biasa, seseorang menyewa satu unit di satu lokasi. Kalau pindah kota, ia harus mencari tempat baru, menandatangani kontrak baru, memindahkan barang, dan mengulang semua proses dari awal. Dalam subscription living, idenya adalah seseorang membayar biaya langganan untuk masuk ke jaringan hunian yang dikelola oleh satu operator.
Bayangkan seseorang bekerja tiga bulan di Singapura, lalu pindah enam bulan ke Tokyo, lalu kembali ke Jakarta atau Melbourne. Dalam model hunian tradisional, semua itu berarti harus mencari tempat tinggal baru setiap kali pindah. Tetapi dalam subscription living, secara konsep ia cukup berpindah di dalam jaringan properti yang sama, dengan sistem yang lebih sederhana dan fleksibel.
Itulah sebabnya model ini sering dianggap mirip dengan membership hotel, tetapi sebenarnya lebih dekat ke membership hunian. Bedanya, yang disediakan bukan kamar hotel untuk beberapa malam, melainkan unit tinggal yang memang dirancang untuk dihuni selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
Beberapa perusahaan properti dan platform proptech mulai bereksperimen dengan konsep ini di kota-kota global. Startup seperti Landing di Amerika Serikat, yang diluncurkan pada 2019, menawarkan sistem keanggotaan yang memungkinkan pengguna tinggal di berbagai apartemen dalam jaringan properti mereka. Di Eropa, platform Habyt yang berbasis di Berlin juga mengembangkan jaringan hunian fleksibel di berbagai kota besar.

Mengapa Model Ini Mulai Muncul
Munculnya model seperti ini tidak lepas dari perubahan cara hidup generasi baru. Banyak profesional muda sekarang tidak lagi membayangkan hidup dengan pola yang sama seperti generasi sebelumnya: kuliah, kerja di satu kota, beli rumah, lalu menetap sangat lama di tempat yang sama.
Sebaliknya, banyak orang kini menjalani hidup yang jauh lebih fleksibel. Mereka bisa bekerja remote, pindah kota mengikuti proyek, mencoba tinggal di negara lain, atau menunda keputusan menetap sampai benar-benar yakin dengan arah hidup dan karier mereka.
Laporan Future of Jobs Report 2023 yang diterbitkan oleh World Economic Forum pada 30 April 2023 menunjukkan bahwa fleksibilitas lokasi kerja menjadi salah satu perubahan besar dalam struktur pekerjaan global. Ketika pekerjaan semakin fleksibel, kebutuhan terhadap hunian yang fleksibel juga ikut berkembang.
Jadi, subscription living bukan muncul karena orang tiba-tiba tidak lagi menyukai rumah. Ia muncul karena ritme hidup modern mulai berubah. Bagi sebagian orang, memiliki rumah tetap penting. Tetapi bagi sebagian yang lain, terutama yang sangat mobile, yang mereka butuhkan sekarang bukan rumah untuk dimiliki, melainkan tempat tinggal yang bisa mengikuti perubahan hidup mereka.
Model seperti ini memang masih berada pada tahap awal perkembangan dan belum menjadi bentuk hunian yang dominan. Namun keberadaannya menunjukkan bahwa dunia properti mulai bereksperimen dengan satu gagasan baru: bahwa di masa depan, sebagian orang mungkin tidak lagi selalu bertanya “rumah mana yang akan saya beli?”, tetapi “jaringan hunian mana yang paling cocok dengan cara hidup saya?”
Masa Depan Kepemilikan Rumah

Perubahan cara manusia tinggal yang mulai terlihat di berbagai kota dunia menunjukkan bahwa sistem hunian tidak selalu bersifat statis. Seperti banyak aspek lain dalam kehidupan ekonomi, cara manusia memiliki dan menggunakan tempat tinggal juga dapat berevolusi mengikuti perubahan teknologi, struktur pekerjaan, serta dinamika sosial yang terus berkembang.
Selama lebih dari setengah abad, kepemilikan rumah menjadi salah satu fondasi utama dalam kehidupan ekonomi kelas menengah. Rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga sarana membangun kekayaan keluarga dan menciptakan stabilitas jangka panjang. Karena itu, meskipun berbagai eksperimen model hunian baru mulai bermunculan, gagasan tentang memiliki rumah kemungkinan tidak akan hilang begitu saja.
Model Hybrid: Memiliki dan Mengakses Hunian
Yang mulai berubah bukan selalu keinginan untuk memiliki rumah, melainkan cara orang mencapainya dan cara mereka menggunakan hunian sepanjang hidupnya. Di masa depan, pola hunian mungkin tidak lagi sepenuhnya didominasi oleh satu model saja.
Sebagian orang tetap akan membeli rumah dan menetap dalam jangka panjang, terutama ketika mereka telah mencapai tahap kehidupan yang lebih stabil. Namun pada fase kehidupan yang lebih awal—ketika mobilitas karier masih tinggi dan arah hidup masih berkembang—sebagian orang mungkin memilih model hunian yang lebih fleksibel.
Dalam konteks ini, berbagai konsep seperti rent-to-own, shared ownership, hingga hunian berbasis layanan dapat dilihat sebagai bentuk model hybrid, yaitu kombinasi antara kepemilikan dan akses hunian yang menyesuaikan dengan kebutuhan hidup yang terus berubah.
Rumah Tetap Penting, Tetapi Cara Memilikinya Bisa Berubah
Pada akhirnya, kebutuhan manusia terhadap tempat tinggal tidak pernah benar-benar berubah. Yang berubah adalah cara masyarakat mengatur hubungan mereka dengan hunian tersebut. Jika di masa lalu rumah hampir selalu dipahami sebagai sesuatu yang harus dimiliki sejak awal kehidupan dewasa, di masa depan perjalanan menuju kepemilikan rumah mungkin menjadi lebih beragam.
Sebagian orang mungkin tetap memilih jalur tradisional dengan membeli rumah dan menetap dalam jangka panjang. Namun sebagian yang lain mungkin menjalani perjalanan hunian yang lebih dinamis—menyewa, mengakses berbagai model hunian baru, atau berpindah kota beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan untuk memiliki rumah sendiri.
Dalam konteks itulah diskusi tentang masa depan kepemilikan rumah menjadi semakin relevan. Bukan karena rumah kehilangan nilainya, tetapi karena cara manusia mencapai dan menggunakan hunian mulai berubah mengikuti perubahan zaman.
Baca Juga: Era AI vs Manusia: Rooma21 Memilih Strategi Customer-Centric

Ketika Cara Memiliki Rumah Mulai Berevolusi
Perjalanan panjang sistem hunian modern menunjukkan bahwa cara manusia memiliki rumah tidak pernah benar-benar tetap. Dari rumah keluarga besar di desa, ke apartemen di kota industri, hingga berbagai eksperimen hunian di kota global modern, pola tempat tinggal selalu berubah mengikuti perkembangan ekonomi dan gaya hidup masyarakat.
Apa yang sedang terjadi saat ini mungkin bukan akhir dari kepemilikan rumah, melainkan fase baru dalam evolusinya. Berbagai model seperti rent-to-own, shared ownership, maupun hunian berbasis layanan menunjukkan bahwa dunia properti mulai mencari cara-cara baru untuk menyesuaikan sistem hunian dengan realitas kehidupan modern.
Di banyak kota dunia, perjalanan seseorang menuju rumah pertama kini sering kali lebih panjang dan lebih beragam dibandingkan generasi sebelumnya. Ada yang memulai dengan menyewa lebih lama, ada yang menggunakan berbagai skema kepemilikan parsial, dan ada pula yang menjalani fase hunian fleksibel sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli rumah.
Namun satu hal yang tampaknya tetap bertahan: kebutuhan manusia akan tempat tinggal yang stabil. Rumah mungkin tidak selalu dimiliki dengan cara yang sama seperti dulu, tetapi perannya sebagai ruang kehidupan, tempat membangun keluarga, dan simbol keamanan ekonomi masih tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan banyak orang.
Perubahan inilah yang membuat diskusi tentang masa depan kepemilikan rumah menjadi semakin relevan. Bukan sekadar tentang apakah seseorang membeli rumah atau tidak, tetapi tentang bagaimana masyarakat modern mulai menemukan berbagai cara baru untuk menata hubungan mereka dengan tempat tinggal di tengah perubahan ekonomi dan sosial yang terus berlangsung.
>“Di masa depan, mungkin yang berubah bukan hanya harga rumah, tetapi cara manusia memaknai kepemilikan. Rumah tidak lagi selalu dimiliki seumur hidup—kadang cukup diakses ketika dibutuhkan.”

Daftar Pustaka :
- OECD – Housing and Wealth Accumulation – 21 Juni 2023
- World Economic Forum – Future of Jobs Report 2023 – 30 April 2023
- World Economic Forum – The Future of Real Estate – 17 Januari 2024
- Urban Institute – Rent-to-Own and Housing Finance Policy Analysis – 12 Oktober 2023
- Demographia – International Housing Affordability Report 2024 – 12 September 2024
Komentar