Seri 3 dari 7: Mengapa Model Lama Mulai Runtuh dan Apa Alternatifnya?
Rooma21.com, Jakarta – Kalau pada seri sebelumnya kita sudah melihat bagaimana model franchise sempat menjadi tulang punggung industri broker properti Amerika, di seri ketiga ini kita akan membahas bab yang berbeda. Franchise yang dulu dianggap sebagai jalan pintas untuk tumbuh besar justru mulai ditinggalkan, baik di Amerika maupun di Indonesia.
Model ini pernah berjaya selama lebih dari tiga dekade, melahirkan raksasa seperti Century 21, RE/MAX, dan Keller Williams. Tapi seiring waktu, kelemahannya makin terlihat: biaya operasional yang tinggi, konflik internal antar-kantor, dan daya tarik brand yang semakin memudar di mata konsumen digital.
Baca juga : Ekspansi Fintech ke Otomotif dan Mortgage Digital.
Ironisnya, ketika franchise di Amerika sudah mulai goyah, justru di Indonesia model ini baru marak diadopsi oleh asosiasi dan broker. Banyak yang masih percaya bahwa franchise adalah jawaban untuk membesarkan bisnis, padahal tanda-tanda keruntuhannya sudah jelas terlihat di negara asalnya.
“Franchise pernah jadi tulang punggung industri broker, tapi di era digital ia berubah jadi beban.”
Di artikel ini kita akan menelusuri tiga hal penting. Pertama, bagaimana era kejayaan franchise lahir di Amerika dan menguasai pasar selama puluhan tahun. Kedua, mengapa sistem yang sama mulai retak, baik di Amerika maupun di Indonesia, hingga banyak kantor yang terpaksa menutup pintunya. Ketiga, kita akan melihat benchmark global—dari sistem co-broking berbasis MLS di Amerika hingga model tertutup Lianjia di China—sebagai bahan pelajaran tentang alternatif model yang lebih relevan di era proptech.
Era Kejayaan Franchise di Amerika
Setelah fondasi industri broker terbentuk lewat asosiasi profesi dan sistem multi listing service, Amerika memasuki babak baru pada dekade 1970-an. Inilah masa ketika konsep franchise mulai masuk ke industri properti dan mengubah cara kantor broker beroperasi. Nama-nama seperti Century 21, Coldwell Banker, RE/MAX, dan Keller Williams menjadi ikon yang mendominasi pasar selama puluhan tahun.
Franchise menawarkan sesuatu yang sulit dicapai oleh broker lokal: kekuatan brand nasional yang bisa diakui konsumen di mana saja. Kantor kecil yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungannya, tiba-tiba punya kesempatan untuk tampil dengan logo dan reputasi besar. Bagi broker lokal, bergabung dengan jaringan franchise berarti mendapat akses ke pelatihan standar, sistem operasional yang lebih modern, hingga jejaring nasional yang membantu memperkuat kredibilitas di mata pemilik rumah.

Model ini bekerja cukup sederhana. Kantor tetap dimiliki oleh broker lokal, tetapi menggunakan nama dan sistem dari brand nasional. Sebagai gantinya, mereka membayar biaya franchise dan berbagi sebagian pendapatan komisi. Keuntungannya jelas: dengan jaringan ribuan kantor dan ratusan ribu agen, nama seperti Century 21 atau Keller Williams menjadi identik dengan kepercayaan konsumen.
Dari sinilah lahir praktik listing eksklusif dan pembagian wilayah. Jika sebelumnya agen individu bisa mengelola listing secara bebas, maka di bawah sistem franchise mulai diberlakukan aturan bahwa listing tertentu hanya boleh ditangani eksklusif oleh satu broker atau kantor. Bahkan di beberapa jaringan, ada penerapan hak eksklusif wilayah—satu kantor diberi hak penuh untuk melayani area tertentu. Sistem ini membantu mengurangi konflik antar-agen, menjaga loyalitas klien, dan sekaligus memperkuat brand nasional.
“Listing eksklusif lahir dari kebutuhan untuk memberi kepastian: siapa yang pegang listing, dialah yang berhak atas komisi.”
Selama tiga dekade, franchise benar-benar menjadi tulang punggung industri broker Amerika. Konsumen percaya pada brand besar, agen merasa terlindungi oleh sistem, dan kantor lokal bisa tumbuh lebih cepat lewat jejaring nasional. Franchise menjembatani masa lalu yang serba individual ke masa depan yang lebih terorganisir. Namun, fondasi yang kokoh ini pada akhirnya juga menyimpan benih persoalan yang kelak mengguncang sistem itu sendiri.
Retaknya Sistem Franchise di Indonesia.

Konsep franchise yang dulu begitu berjaya di Amerika juga sempat masuk ke Indonesia. Nama-nama asing seperti Century 21, ERA, LJ Hooker, hingga RE/MAX dan Keller Williams hadir membawa janji yang sama: brand internasional, sistem pelatihan modern, dan standar operasional yang dianggap lebih profesional dibanding kantor lokal. Pada awalnya, model ini disambut antusias. Banyak kantor kecil yang bergabung karena merasa sulit bersaing sendirian tanpa dukungan reputasi global.
Untuk memberi konteks, berikut sekilas asal-usul beberapa brand besar yang sempat beroperasi di Indonesia:
- Century 21 lahir di California pada 1971, didirikan oleh Art Bartlett dan Marsh Fisher, menjadi pionir sistem franchise modern di AS.
- Coldwell Banker bahkan lebih tua, berdiri di San Francisco pada 1906 oleh Colbert Coldwell dan Benjamin Banker, lahir dari krisis pascagempa besar.
- ERA (Electronic Realty Associates) didirikan di Kansas City, Missouri pada 1971 oleh Jim Jackson. ERA masuk Asia lewat Singapura tahun 1981, sehingga banyak orang Indonesia mengira ERA berasal dari Singapura, padahal akarnya tetap Amerika.
- RE/MAX berdiri di Denver, Colorado pada 1973, didirikan oleh Dave Liniger dan Gail Main, dikenal dengan model komisi yang lebih fleksibel untuk agen.
- Keller Williams muncul di Austin, Texas pada 1983, didirikan Gary Keller dan Joe Williams, terkenal dengan budaya pelatihan dan kepemimpinan agennya.
Brand-brand ini masuk ke Indonesia membawa narasi global: bergabung dengan franchise berarti ikut serta dalam reputasi internasional. Namun, ada satu hal penting yang luput: best practice khas franchise global, yaitu eksklusivitas listing dan wilayah, tidak pernah dijalankan dengan konsisten di Indonesia.
Padahal di Amerika, dua hal ini yang membuat franchise bisa membedakan diri dari broker tradisional. Listing eksklusif memberi kepastian siapa yang berhak atas komisi, sementara wilayah eksklusif mengurangi konflik antar-kantor dan memperkuat brand. Di Indonesia, praktik ini nyaris hilang. Akibatnya, franchise global tidak terlihat berbeda dengan brand lokal yang masih tradisional, sama seperti kondisi broker Amerika di masa-masa awal sebelum franchise hadir.
“Tanpa eksklusivitas listing dan wilayah, franchise global di Indonesia kehilangan identitasnya, sekadar jadi papan nama asing tanpa pembeda nyata dari broker lokal.”
Dua dekade berjalan, pola yang terjadi pun tidak jauh berbeda dengan di Amerika. Franchise memang memberi kekuatan brand, tetapi biaya yang harus dibayar tidak kecil. Kantor lokal harus menanggung fee franchise, biaya pelatihan, dan kewajiban promosi, sementara pasar properti di Indonesia tidak selalu stabil. Apalagi dua tahun terakhir, ketika pasar mengalami penurunan tajam, banyak kantor franchise kesulitan bertahan. Cabang-cabang yang dulunya menjamur mulai tutup satu per satu.
Bagi agen, janji brand besar juga tidak selalu seindah kenyataan. Konflik perekrutan antar-kantor, rebutan listing, hingga perbedaan kebijakan internal membuat loyalitas sulit dijaga. Agen top dengan mudah bisa keluar dan membawa kliennya, sementara kantor tetap harus menanggung biaya franchise yang berat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sistem franchise bukan jawaban jangka panjang untuk pasar Indonesia. Jika di Amerika model ini mulai goyah setelah tiga dekade, di Indonesia prosesnya bahkan lebih cepat. Industri kita masih muda, tetapi sudah merasakan beban yang sama: biaya besar tidak selalu sebanding dengan hasil, apalagi ketika konsumen mulai beralih ke cara digital untuk mencari rumah.
Franchise yang dulu dipandang sebagai jalan menuju profesionalisme, kini justru dianggap sebagai beban yang mengikat. Realitas ini membuka pertanyaan besar: jika franchise mulai runtuh, model apa yang bisa menjadi pegangan bagi broker Indonesia untuk bertahan di era proptech?
Benchmark Global: Amerika vs Tiongkok

Kalau bicara Amerika, sulit menyingkirkan Zillow dari panggung. Didirikan tahun 2004 oleh Rich Barton dan Lloyd Frink, Zillow tumbuh bukan sebagai broker, melainkan portal publik. Mereka ibarat “Google untuk rumah,” tempat semua orang Amerika mulai mencari properti. Dengan trafik ratusan juta pengunjung per bulan, Zillow bisa hidup dari iklan dan penjualan leads ke broker. Pada 2025, kapitalisasi pasarnya sekitar USD 13 miliar atau hampir Rp200 triliun, dengan pendapatan tahunan lebih dari USD 2 miliar (sekitar Rp30 triliun). Kekuatan Zillow ada pada netralitasnya: mereka tidak punya agen, sehingga semua broker merasa perlu tampil di sana.
Model berbeda dijalankan oleh Redfin, juga lahir tahun 2004. Redfin bukan sekadar portal, melainkan portal plus brokerage. Agen Redfin digaji tetap, mendapat bonus, dan dipisah tegas antara seller agent dan buyer agent agar tidak ada konflik kepentingan. Strategi besarnya adalah menekan biaya penjual: jika broker tradisional mengenakan komisi 2,5–3% per sisi, Redfin hanya 1–1,5%. Dengan struktur ini, pendapatan Redfin pada 2024 mencapai sekitar USD 1,2 miliar (sekitar Rp18 triliun). Lebih kecil dari Zillow, tetapi efisiensi biaya dan integrasi dengan fintech membuat Redfin menarik. Tidak heran kemudian Redfin diakuisisi Rocket Mortgage, karena jalur emas mereka untuk mengalirkan pembiayaan rumah sudah terbukti.
Kisah berbeda datang dari Compass. Didirikan pada 2012, jauh lebih muda dari Zillow dan Redfin, Compass hanya butuh kurang dari sepuluh tahun untuk menjadi broker nomor satu di Amerika berdasarkan nilai transaksi. Strateginya bukan efisiensi, melainkan agresi: membeli banyak kantor broker lokal, merekrut agen top dengan insentif besar, dan membangun brand premium dengan sistem private exclusive. Kapitalisasi pasarnya kini sekitar USD 2 miliar (sekitar Rp30 triliun). Angkanya memang lebih kecil dibanding Zillow, tetapi prestasinya mencengangkan: Compass berhasil melibas franchise tradisional yang sudah puluhan tahun berdiri.
Lalu ada Lianjia, atau lebih dikenal sebagai Beike, dari Tiongkok. Inilah benchmark paling dramatis. Didirikan di Beijing pada 2001 oleh Zuo Hui, Lianjia lahir di pasar broker yang kacau: agen tanpa standar, transaksi abu-abu, dan konsumen sering dirugikan. Zuo Hui membalikkan keadaan dengan sistem tertutup: semua agen digaji, semua listing diverifikasi, dan semua toko memakai brand tunggal. Dua dekade kemudian, hasilnya luar biasa. Saat IPO di New York tahun 2020, valuasinya menembus USD 40 miliar (sekitar Rp600 triliun). Di paruh pertama 2025, Beike mencatat total transaksi properti senilai ¥1,72 triliun yuan atau lebih dari Rp3.700 triliun, dengan pendapatan mencapai ¥49,3 miliar yuan (sekitar Rp105 triliun) hanya dalam enam bulan. Mereka bahkan mendiversifikasi bisnis ke renovasi, sewa, dan furnitur rumah, menjadikan ekosistemnya semakin kokoh.
Dari sini terlihat dua jalur yang sangat berbeda. Amerika melahirkan pemain yang tumbuh dari fragmentasi: Zillow menang di trafik, Redfin unggul di efisiensi, Compass kuat di branding dan akuisisi. Sementara Tiongkok melahirkan satu raksasa yang menelan semua pemain kecil, memaksa pasar mengikuti standarisasi, dan membangun kepercayaan lewat kontrol penuh.
“Zillow menang di trafik, Redfin menang di efisiensi, Compass menang di branding, Beike menang di kepercayaan. Empat jalur berbeda, tapi sama-sama lahir dari konteks pasar masing-masing.”
Namun ada catatan penting. Data dari National Association of Realtors (Realtor Magazine, 2025 Member Trends Report) mengungkap realitas pahit bagi broker konvensional di Amerika. Median usia anggotanya kini sudah 57 tahun, dengan hampir separuh di atas 60 tahun. Bahkan sekitar 25% anggota mengaku tidak yakin masih akan bertahan menjalani profesinya dalam beberapa tahun ke depan. Fakta ini jarang disorot, tapi memberi sinyal keras: tanpa regenerasi dan adaptasi digital, model lama hanya tinggal menunggu waktu untuk punah.
Pelajaran untuk Indonesia: Menatap Disrupsi Broker Properti
Melihat Amerika dan Tiongkok, ada satu benang merah yang jelas: industri broker tidak pernah statis. Model yang dominan di satu era bisa runtuh di era berikutnya. Franchise besar yang dulu jadi simbol profesionalisme kini tersisih oleh proptech; broker kecil yang dulu bebas berebut klien kini digantikan oleh sistem korporasi yang serba terstruktur.
Indonesia hari ini ada di persimpangan yang sama. Kita masih melihat banyak kantor broker yang beroperasi dengan cara konvensional: agen freelance, listing campur aduk, bahkan standar data properti sering tidak konsisten. Asosiasi profesi masih sibuk menata regulasi, tetapi pasar sudah bergerak lebih cepat. Konsumen generasi muda tidak lagi percaya hanya pada janji “agen berpengalaman”, mereka menuntut transparansi, kecepatan, dan akses digital seperti yang ditawarkan Zillow, Redfin, atau Beike di negaranya masing-masing.
“Bertahan dengan model lama bukan hanya berat, tapi bisa berarti bunuh diri pelan-pelan di era proptech.”
Ada tiga pelajaran besar yang bisa diambil.
Pertama, Indonesia tidak boleh mengulang kesalahan franchise global yang masuk tanpa membawa best practice eksklusivitas listing dan wilayah. Tanpa diferensiasi, franchise jadi sekadar papan nama, lalu tumbang ketika pasar melemah. Kedua, asosiasi harus segera merangkul model proptech, bukan menutup diri. Di Amerika, MLS lahir dari asosiasi sehingga jadi pondasi industri. Di Tiongkok, standarisasi lahir dari perusahaan seperti Beike yang kemudian mengatur pasar. Indonesia masih punya ruang untuk menentukan jalannya: apakah asosiasi yang memimpin digitalisasi, atau justru menyerahkan panggung ke proptech. Ketiga, regenerasi agen harus dipercepat. Data NAR di Amerika menunjukkan median usia 57 tahun, dengan 25% anggotanya bahkan tidak yakin akan bertahan di profesinya. Jika di Indonesia tidak segera muncul agen muda yang digital-native, maka disrupsi akan lebih brutal.
Tentu, pasar Indonesia punya karakter unik. Tidak semua model luar negeri bisa ditiru mentah-mentah. Tapi arah besar jelas: transparansi, teknologi, dan konsolidasi. Generasi baru pembeli rumah lebih percaya pada platform digital daripada janji agen individual. Jika asosiasi dan broker lokal tidak segera beradaptasi, maka proptech akan mengambil alih, sama seperti Compass di Amerika dan Beike di Tiongkok.
Di sinilah masa depan broker Indonesia dipertaruhkan. Pertanyaannya bukan lagi apakah disrupsi akan datang, tetapi siapa yang siap mengelola perubahan itu.
Masa Depan Broker Properti Indonesia: Adaptasi atau Ditinggalkan.
Masa depan broker properti di Indonesia sedang dipertaruhkan. Di satu sisi, industri ini masih sangat tradisional: banyak kantor broker dijalankan seperti usaha keluarga, agen freelance bertebaran, dan data properti tersebar tanpa standar yang jelas. Di sisi lain, muncul generasi baru konsumen yang lahir di era digital. Mereka terbiasa mencari rumah lewat aplikasi, membandingkan harga secara onli. Kesenjangan inilah yang akan menentukan siapa yang bertahan dan siapa yang tersingkir.
Jika melihat pengalaman Amerika dan Tiongkok, setidaknya ada dua kemungkinan jalur. Pertama, fragmentasi ala Amerika: banyak pemain proptech bermunculan, masing-masing menawarkan keunggulan berbeda, dari portal listing hingga hybrid brokerage. Jalur ini memberi ruang inovasi, tapi juga rawan duplikasi dan kebingungan konsumen. Kedua, sentralisasi ala Tiongkok: satu atau dua pemain besar menguasai pasar dengan standar ketat, agen digaji, dan listing diverifikasi. Jalur ini menciptakan kepercayaan, tapi sekaligus mematikan kompetisi kecil.
“Indonesia tidak bisa hanya memilih jalur, tapi harus menciptakan modelnya sendiri: hybrid yang sesuai dengan kondisi lokal.”
Kuncinya ada pada asosiasi dan regulator. Jika mereka mau bergerak cepat, bisa lahir versi lokal dari MLS yang terintegrasi dengan platform digital. Tapi jika mereka lambat, proptech akan melaju sendiri, mengambil alih data, agen, dan konsumen, persis seperti Compass atau Beike.
Bagi broker lokal, tantangan ini bisa jadi peluang. Alih-alih sekadar bertahan dengan cara lama, mereka bisa memilih menjadi bagian dari ekosistem baru. Agen muda harus didorong masuk, standar data perlu ditetapkan, dan kolaborasi dengan proptech tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan jembatan.
Masa depan profesi broker di Indonesia hanya punya dua pilihan: adaptasi atau ditinggalkan.
Masa Depan Broker Properti di Indonesia
Dari perjalanan panjang membedah model bisnis di Amerika hingga raksasa Beike di Tiongkok, satu hal semakin jelas: industri broker properti tidak lagi bisa berdiri di atas cara lama. Franchise yang dulu dianggap sebagai simbol modernisasi kini runtuh, broker konvensional di Amerika ditinggalkan agen muda dan konsumen digital, sementara di Tiongkok agen-agen kecil terserap oleh ekosistem besar yang serba terstandarisasi.
Indonesia sedang menuju titik yang sama. Kita punya pasar besar, backlog perumahan jutaan unit, dan konsumen generasi milenial–Gen Z yang haus akan transparansi. Tapi justru di tengah potensi itu, kita masih terjebak di model lama: agen freelance yang tidak terdata, kantor broker tanpa diferensiasi, asosiasi profesi yang sibuk mengurus regulasi tapi belum menyiapkan digitalisasi. Jika dibiarkan, sejarah Amerika dan Tiongkok hanya akan berulang di sini, bedanya, pemain lokal akan kalah lebih cepat karena tidak punya perlindungan dari data dan teknologi.
“Industri broker properti di Indonesia sedang menulis babak barunya: apakah jadi pemain utama, atau sekadar penonton di era proptech.”
Seri ketiga ini bukan akhir, melainkan fondasi untuk pembahasan lebih tajam di seri-seri berikutnya. Setelah memahami fragmentasi model Amerika dan sentralisasi ala Tiongkok, kita akan masuk ke detail bagaimana sistem franchise global gagal bertahan di Indonesia, apa yang membedakan pemain proptech lokal dari luar negeri, dan bagaimana arah regulasi serta asosiasi akan menentukan siapa yang survive di dekade mendatang.

Komentar