Rooma21 Blog

Belum login? Masuk untuk akses penuh

Pencarian

Akun

Login Daftar
Iklan
Iklan

Biaya Notaris, Pajak, dan Asuransi KPR yang Perlu Dicek

28 April 2026
56 views
Biaya Notaris, Pajak, dan Asuransi KPR yang Perlu Dicek

Jakarta, Rooma21.com – Biaya notaris, pajak, dan asuransi saat ambil KPR adalah bagian dari biaya awal yang perlu disiapkan di luar DP rumah. Komponen yang biasanya dicek meliputi BPHTB, PPN untuk rumah baru jika berlaku, jasa notaris atau PPAT, biaya pengikatan kredit, asuransi jiwa, asuransi kebakaran, appraisal, provisi, dan administrasi bank.

Bank Indonesia mencatat BI-Rate pada 22 April 2026 sebesar 4,75%, sehingga calon debitur KPR tetap perlu membaca bunga bank, tenor, dan potensi perubahan cicilan secara hati-hati sebelum akad. (Bank Indonesia)

JDIH Kementerian Keuangan memuat PMK 90 Tahun 2025 tentang PPN ditanggung pemerintah untuk rumah tapak dan satuan rumah susun tahun anggaran 2026, yang relevan untuk buyer rumah baru karena bisa memengaruhi komponen pajak yang perlu dicek saat transaksi. (Kementerian Keuangan Republik Indonesia)

Cari Rumah Jabodetabek

Lagi Cari Rumah? Mulai dari Rooma21

Temukan pilihan rumah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi dengan lebih mudah. Jelajahi lokasi, bandingkan pilihan, dan temukan hunian yang paling cocok untuk kebutuhanmu.

Cari Rumah Sekarang
Ilustrasi mencari rumah di Rooma21

Kenapa Biaya Tambahan KPR Sering Bikin Buyer Kaget

Banyak pembeli rumah pertama merasa sudah aman setelah menyiapkan DP. Padahal, DP baru satu bagian dari cerita panjang bernama transaksi properti. Sisanya ada biaya akad, pajak, notaris, bank, dan asuransi yang sering muncul mendekati tanda tangan kredit.

Masalahnya, biaya ini tidak selalu terlihat jelas saat buyer baru melihat brosur rumah. Di tahap awal, yang paling sering ditonjolkan adalah harga rumah, promo DP, cicilan ringan, atau booking fee. Lalu ketika masuk tahap pengajuan KPR, barulah muncul rincian biaya yang lebih lengkap.

Di titik ini, buyer sering bingung karena istilahnya banyak. Ada BPHTB, AJB, APHT, SKMHT, provisi, appraisal, asuransi jiwa, asuransi kebakaran, administrasi, sampai biaya notaris. Bukan salah buyer kalau pusing, karena sistem transaksi properti kadang memang seperti ujian administrasi berkedok beli rumah.

Biaya tambahan KPR perlu dihitung sejak awal supaya dana pembelian rumah tidak terlalu mepet. Kalau semua uang habis untuk DP, buyer bisa kesulitan saat harus membayar biaya akad, pajak, atau biaya bank sebelum kredit dicairkan.

Maybank Indonesia mencantumkan beberapa biaya kredit KPR seperti provisi 1,00% dari plafon kredit, BAK 0,10% dari plafon kredit dengan minimal Rp500.000, asuransi jiwa, asuransi kebakaran, biaya notaris, dan biaya taksasi internal sesuai ketentuan. Ini menunjukkan biaya KPR tidak berhenti di DP saja, karena saat akad masih ada biaya bank, asuransi, notaris, dan penilaian agunan yang harus disiapkan. (Maybank)

Apa Itu Biaya Notaris, Pajak, dan Asuransi dalam KPR?

Biaya notaris dalam KPR adalah biaya jasa hukum dan pengurusan dokumen transaksi. Dalam praktik KPR, notaris atau PPAT biasanya membantu proses dokumen seperti akta jual beli, pengikatan hak tanggungan, pengecekan sertifikat, balik nama, dan dokumen lain yang dibutuhkan bank maupun pembeli.

Pajak dalam pembelian rumah adalah kewajiban transaksi yang bisa muncul dari sisi pembeli maupun penjual. Untuk pembeli, komponen yang paling sering dibahas adalah BPHTB. Untuk rumah baru dari developer, PPN juga bisa menjadi bagian penting, meski ketentuannya perlu dicek sesuai aturan pajak dan skema transaksi yang berlaku.

Asuransi dalam KPR adalah perlindungan yang biasanya diminta bank selama masa kredit. Umumnya ada asuransi jiwa untuk debitur dan asuransi kebakaran atau kerugian untuk objek properti. BRI dalam dokumen Ringkasan Informasi Produk dan Layanan KPR mencantumkan bahwa biaya provisi, biaya administrasi, dan biaya asuransi dibayar lunas oleh debitur saat pencairan kredit. (bri.co.id)

Di luar tiga kelompok besar itu, masih ada biaya bank. Contohnya provisi, administrasi, appraisal, pengikatan kredit, penalti jika ada, dan biaya lain sesuai produk bank. Bank Sinarmas mencantumkan biaya KPR seperti provisi 1%, administrasi sesuai ketentuan, asuransi, notaris, akta pengikatan kredit, serta penilaian agunan untuk KPR secondary atau take over sesuai ketentuan bank. (Bank Sinarmas)

Kenapa Biaya Ini Penting Dipahami Sekarang

Kenapa Biaya Ini Penting Dipahami Sekarang

Di tahun 2026, calon pembeli rumah perlu lebih teliti membaca total biaya, bukan cuma angka cicilan bulanan. Suku bunga acuan, promo bank, kebijakan pajak, dan program developer bisa berubah, sementara kemampuan bayar buyer tetap harus aman untuk kebutuhan harian.

Bank Indonesia menyatakan RDG 21-22 April 2026 mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, Deposit Facility 3,75%, dan Lending Facility 5,50%. Bagi calon debitur, ini penting karena bunga KPR bank tetap perlu dibandingkan, terutama antara bunga fixed, floating, tenor, dan biaya awal. (Bank Indonesia)

Dari sisi pajak rumah baru, Direktorat Jenderal Pajak menjelaskan bahwa dalam kondisi normal pembelian rumah baru dari pengembang umumnya dikenakan PPN 11%, dan artikel yang sama membahas fasilitas PPN ditanggung pemerintah berdasarkan PMK-90/2025. Artinya, buyer rumah baru perlu bertanya apakah unit yang dibeli masuk skema insentif atau tidak, bukan asal menganggap semua rumah otomatis bebas PPN. (Directorate General of Taxes)

Dari sisi biaya akad, BTN menjelaskan bahwa biaya provisi umumnya sebesar 1% dari nilai pinjaman yang disetujui. Angka ini tidak boleh dibaca sebagai satu-satunya biaya, karena masih ada biaya lain seperti administrasi, appraisal, asuransi, dan notaris sesuai kebijakan bank serta kondisi transaksi. (PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk)

banner cara cari rumah lebih cepat dan akurat, hanya di rooma21

Hitungan Utama Sebelum Mengajukan KPR

Harga Rumah, DP, dan Plafon Kredit

Saat membeli rumah dengan KPR, buyer perlu memisahkan tiga angka utama: harga rumah, DP, dan plafon kredit. Harga rumah adalah nilai transaksi properti. DP adalah dana awal yang dibayar dari kantong buyer. Plafon kredit adalah jumlah pinjaman yang disetujui bank.

Contohnya, kalau rumah dibeli dengan skema KPR, bank tidak otomatis membiayai semua biaya transaksi. Bank biasanya membiayai sebagian harga rumah sesuai hasil analisis kredit dan nilai agunan. Sisanya tetap harus disiapkan buyer sebagai DP dan biaya awal.

Di sinilah banyak orang salah hitung. Mereka merasa cukup karena sudah punya DP, padahal biaya pajak, notaris, asuransi, dan administrasi bank bisa muncul di luar DP. Jadi, sebelum booking rumah, buyer perlu minta simulasi total dana awal, bukan hanya simulasi cicilan.

Cicilan Bulanan dan Kemampuan Bayar

Cicilan KPR sebaiknya tidak dihitung dari rasa optimis saja. Buyer perlu membaca penghasilan bulanan, pengeluaran rutin, cicilan lain, dana darurat, dan kebutuhan keluarga. Kalau semua dipaksakan demi rumah, cashflow bulanan bisa terasa berat setelah akad.

Bank akan menilai kemampuan bayar berdasarkan profil debitur. Penilaian ini bisa mencakup penghasilan, riwayat kredit, cicilan aktif, pekerjaan, dokumen penghasilan, dan hasil analisis internal bank. Jadi, meskipun buyer merasa sanggup, keputusan akhir tetap bergantung pada kebijakan bank.

Cicilan yang terlalu besar bisa membuat hidup terasa seperti kerja hanya untuk setor ke bank. Rumahnya memang kebeli, tapi isi kulkas ikut puasa. Itu bukan strategi keuangan, itu lomba bertahan hidup versi real estate.

Biaya Awal yang Sering Terlewat

Biaya awal KPR biasanya mencakup lebih dari DP. Komponen yang sering perlu dicek adalah booking fee, UTJ, DP, BPHTB, biaya notaris, biaya pengikatan kredit, provisi, administrasi, appraisal, asuransi jiwa, asuransi kebakaran, dan biaya lain sesuai ketentuan bank atau developer.

Untuk BPHTB, UU Nomor 1 Tahun 2022 tentang HKPD mengatur tarif BPHTB paling tinggi sebesar 5% dan tarifnya ditetapkan dengan Perda. Karena itu, buyer perlu cek ketentuan daerah tempat properti berada, bukan memakai satu angka nasional secara asal. (Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan)

Untuk biaya notaris, Direktorat Jenderal Pajak menjelaskan batas honorarium notaris berdasarkan nilai ekonomis, antara lain paling besar 1,5% untuk nilai di atas Rp100 juta sampai Rp1 miliar, dan untuk nilai di atas Rp1 miliar berdasarkan kesepakatan tetapi tidak melebihi 1% dari objek yang dibuatkan aktanya. Dalam transaksi KPR, angka ini perlu dibedakan dari paket biaya notaris atau PPAT yang diberikan bank, developer, atau kantor notaris. (Directorate General of Taxes)

Simulasi KPR Berdasarkan Kondisi Buyer

Simulasi KPR Berdasarkan Kondisi Buyer

Simulasi Berdasarkan Harga Rumah

Untuk rumah KPR, simulasi awal sebaiknya dimulai dari harga rumah dan status unit. Rumah baru dari developer bisa memiliki komponen PPN jika berlaku. Rumah secondary biasanya lebih banyak berhubungan dengan BPHTB, biaya balik nama, notaris atau PPAT, dan pengecekan dokumen.

Buyer sebaiknya meminta rincian tertulis dari sales, agent, developer, atau bank. Rincian ini perlu memisahkan harga rumah, DP, biaya pajak, biaya notaris, biaya bank, biaya asuransi, dan estimasi biaya lain. Kalau semuanya dijadikan satu angka tanpa detail, buyer akan sulit mengecek bagian mana yang wajib, mana yang kebijakan bank, dan mana yang bisa berubah.

Untuk rumah baru yang memenuhi ketentuan tertentu, PMK 90 Tahun 2025 mengatur PPN ditanggung pemerintah atas penyerahan rumah tapak dan satuan rumah susun tahun anggaran 2026. Buyer tetap perlu memastikan unit, harga, waktu serah terima, dan dokumen transaksi memenuhi ketentuan yang berlaku. (Kementerian Keuangan Republik Indonesia)

Simulasi Berdasarkan Gaji Bulanan

Simulasi berdasarkan gaji membantu buyer melihat batas cicilan yang lebih sehat. Misalnya, buyer dengan penghasilan tetap perlu menghitung sisa uang setelah cicilan KPR, transportasi, makan, listrik, internet, biaya keluarga, cicilan lain, dan dana darurat.

Kalau menggunakan joint income, penghasilan pasangan bisa membantu memperbesar peluang plafon. Namun, bank tetap akan melihat stabilitas penghasilan, cicilan aktif, riwayat kredit, dan dokumen pendukung dari masing-masing pemohon. Joint income bukan tombol ajaib untuk membuat semua rumah langsung kebeli, walau manusia memang senang berharap pada tombol ajaib.

Untuk buyer freelancer atau wiraswasta, rekening koran dan pola pemasukan biasanya menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Penghasilan besar tetapi tidak stabil bisa dilihat berbeda dibanding penghasilan tetap yang konsisten. Karena itu, simulasi gaji harus dibaca bersama pola cashflow.

Banner - Perumahan Bona Vista Residence, Cari Rumah Lebak Bulus, Cilandak - Jakarta Selatann - Rooma21

Simulasi Berdasarkan Tenor

Tenor memengaruhi cicilan bulanan dan total bunga yang dibayar. Tenor lebih panjang biasanya membuat cicilan bulanan terasa lebih ringan, tetapi total pembayaran selama masa kredit bisa lebih besar. Tenor lebih pendek bisa menekan durasi utang, tetapi cicilan bulanannya lebih berat.

Buyer perlu memilih tenor berdasarkan cashflow, bukan gengsi. Kalau tenor pendek membuat pengeluaran bulanan terlalu ketat, risiko telat bayar bisa meningkat. Kalau tenor panjang dipilih, buyer perlu paham konsekuensi total pembayaran dan masa utang yang lebih lama.

Sebelum memilih tenor, minta bank menunjukkan simulasi fixed dan floating. Masa fixed bisa terasa aman di awal, tetapi setelah masuk floating cicilan dapat berubah mengikuti ketentuan bank. Ini bagian yang sering tidak dibaca karena semua orang terlalu sibuk membayangkan desain ruang tamu.

Cek Kelayakan Sebelum Apply KPR

SLIK dan Riwayat Kredit

SLIK adalah salah satu data yang bisa dipakai lembaga jasa keuangan untuk melihat riwayat kredit calon debitur. Otoritas Jasa Keuangan menjelaskan bahwa dalam proses pemberian KPR, lembaga jasa keuangan tetap mengambil kebijakan kredit berdasarkan manajemen risiko, risk appetite, dan pertimbangan bisnis. Jadi, SLIK penting, tetapi approval KPR tetap keputusan bank. (OJK Portal)

Riwayat kredit yang rapi bisa membantu proses analisis. Sebaliknya, tunggakan kartu kredit, paylater, pinjaman online, atau cicilan kendaraan bisa menjadi catatan yang perlu dibereskan dulu. Buyer sebaiknya mengecek kondisi kredit sebelum booking rumah, bukan setelah membayar biaya yang sulit dikembalikan.

Kalau ada cicilan aktif, masukkan semuanya ke perhitungan kemampuan bayar. Jangan berharap bank tidak melihat. Sistem keuangan tidak punya rasa kasihan, hanya punya data.

Rekening Koran dan Pola Cashflow

Rekening koran membantu bank melihat arus masuk dan keluar uang. Untuk karyawan, slip gaji dan rekening payroll biasanya menjadi bukti dasar. Untuk wiraswasta atau freelancer, mutasi rekening bisa menjadi bahan penting untuk melihat konsistensi pemasukan.

Cashflow yang terlalu berantakan bisa membuat pengajuan terlihat lebih berisiko. Misalnya, pemasukan besar tetapi langsung habis, sering overdraft, atau banyak transfer ke pinjaman lain. Bank bisa menilai bukan hanya besar penghasilan, tetapi juga cara uang bergerak.

Sebelum apply KPR, buyer bisa mulai merapikan rekening. Pisahkan rekening usaha dan pribadi jika memungkinkan, kurangi cicilan konsumtif, dan siapkan dana mengendap. Ini bukan supaya terlihat kaya, tapi supaya analisis keuangan tidak kelihatan seperti catatan belanja warung yang sedang panik.

Status Pekerjaan dan Dokumen Penghasilan

Status pekerjaan memengaruhi dokumen KPR. Karyawan tetap biasanya diminta KTP, KK, NPWP, slip gaji, rekening koran, surat keterangan kerja, dan dokumen pendukung lain. Freelancer dan wiraswasta bisa diminta rekening koran, laporan usaha, legalitas usaha, bukti transaksi, atau dokumen pajak sesuai kebijakan bank.

Untuk buyer yang baru pindah kerja, masa kerja bisa menjadi perhatian bank. Untuk pemilik usaha, stabilitas usaha dan histori pemasukan juga penting. Jadi, sebelum mengajukan KPR, pastikan dokumen tidak baru dicari saat sales sudah menagih jadwal akad.

Dokumen yang rapi bisa mempercepat proses komunikasi dengan bank. Dokumen yang berantakan bisa membuat proses bolak-balik, dan bolak-balik administrasi adalah olahraga nasional yang tidak pernah diminta siapa pun.

Bandingkan Bank dan Skema KPR

Bunga Fixed, Floating, dan Promo Bank

Bunga fixed adalah bunga yang tetap selama periode tertentu. Bunga floating adalah bunga yang bisa berubah setelah masa fixed selesai, mengikuti ketentuan bank. Promo bunga rendah di awal perlu dibaca bersama tenor, biaya provisi, biaya administrasi, penalty, dan simulasi setelah masa fixed.

Buyer sebaiknya tidak hanya memilih bank dari cicilan tahun pertama. Yang lebih penting adalah membaca cicilan setelah promo berakhir. Banyak buyer merasa aman di awal, lalu kaget saat cicilan berubah karena masuk masa floating.

Gunakan simulasi dari beberapa bank. Bandingkan bunga, total biaya awal, biaya asuransi, appraisal, provisi, administrasi, dan kemudahan proses. KPR itu kontrak panjang, jadi memilih bank hanya karena cicilan awal paling manis bisa jadi keputusan yang kurang lucu setelah tahun ketiga.

Biaya Bank dan Biaya Transaksi

Biaya bank bisa berbeda antar produk KPR. Maybank Indonesia mencantumkan biaya provisi 1,00% dari plafon kredit, BAK 0,10% dari plafon kredit dengan minimal Rp500.000, asuransi jiwa, asuransi kebakaran, biaya notaris, dan taksasi internal sesuai kategori plafon. Ini bisa menjadi contoh bahwa biaya KPR perlu dibaca dari tabel resmi bank, bukan dari perkiraan teman kantor yang dulu beli rumah zaman bunga masih terasa jinak. (Maybank)

Biaya transaksi juga bergantung pada jenis properti. Rumah baru, rumah secondary, apartemen, take over, refinancing, atau pembelian dari developer bisa memiliki struktur biaya berbeda. Karena itu, buyer perlu meminta rincian sesuai kasus transaksi masing-masing.

Jangan malu meminta breakdown biaya tertulis. Kalau ada angka yang belum jelas, tanyakan apakah itu pajak, biaya bank, biaya notaris, biaya developer, asuransi, atau estimasi sementara. Dalam transaksi rumah, malu bertanya bisa berubah jadi mahal membayar.

Kerja Sama Developer dan Bank

Developer sering memiliki kerja sama dengan beberapa bank. Skema ini bisa membantu proses karena bank sudah mengenal proyek, dokumen developer, dan skema pembayaran yang ditawarkan. Namun, buyer tetap perlu membandingkan biaya dan bunga.

Kerja sama developer dan bank bukan berarti buyer otomatis lebih aman atau pasti approved. Bank tetap melakukan analisis terhadap profil debitur. Developer juga tetap perlu dikonfirmasi soal legalitas, progress pembangunan, jadwal serah terima, dan rincian biaya.

Untuk rumah indent, buyer perlu lebih teliti membaca PPJB, jadwal pembangunan, skema pembayaran, dan konsekuensi jika KPR tidak disetujui. Untuk rumah ready stock, buyer perlu mengecek kondisi fisik, dokumen, dan jadwal akad. Dua-duanya butuh cek, karena properti tidak bisa dibeli hanya dengan modal percaya diri.

Banner - Perumahan Serenia Hills Lebak Bulus - Cari Rumah di Lebak Bulus, Cilandak Jakarta Selatan - Rooma21

Risiko yang Perlu Dicek Sebelum Booking Rumah KPR

Cicilan Terlalu Berat

Risiko pertama adalah cicilan terlalu berat. Ini bisa terjadi karena buyer hanya fokus pada rumah yang disukai, bukan rumah yang sesuai kemampuan bayar. Rumah bagus memang menggoda, tapi cicilan yang menekan cashflow bisa membuat hidup setelah pindah terasa berat.

Sebelum booking, hitung cicilan dalam beberapa skenario. Gunakan simulasi masa fixed dan estimasi saat floating. Sisakan ruang untuk biaya hidup, renovasi kecil, perabot, transportasi, pendidikan, kesehatan, dan dana darurat.

Kalau cicilan hanya terlihat aman dalam skenario paling optimis, sebaiknya buyer berhenti sebentar. Properti adalah keputusan besar, bukan lomba siapa paling cepat tanda tangan.

Approval Belum Pasti

Booking fee atau UTJ tidak sama dengan persetujuan KPR. Bank tetap harus mengecek dokumen, profil kredit, penghasilan, agunan, appraisal, dan kebijakan internal. Jadi, buyer perlu bertanya sejak awal bagaimana ketentuan pengembalian booking fee jika KPR tidak disetujui.

Beberapa developer atau penjual punya kebijakan berbeda soal uang tanda jadi. Ada yang bisa dikembalikan dengan syarat tertentu, ada yang hangus, ada yang bisa dialihkan, dan ada yang bergantung pada klausul tertulis. Jangan mengandalkan penjelasan lisan saja.

Sebelum membayar, minta dokumen booking atau surat pemesanan. Baca bagian pembatalan, batas waktu pengajuan KPR, dan konsekuensi jika bank menolak. Ini bagian membosankan, tapi jauh lebih murah daripada menyesal.

Harga, Promo, dan Unit Bisa Berubah

Harga properti, promo DP, promo biaya KPR, dan ketersediaan unit bisa berubah. Karena itu, buyer perlu meminta konfirmasi tertulis sebelum membuat keputusan. Jangan hanya mengandalkan screenshot lama atau brosur yang tidak jelas masa berlakunya.

Untuk rumah baru, tanyakan apakah harga sudah termasuk PPN, BPHTB, biaya AJB, biaya notaris, biaya KPR, atau masih ada biaya lain. Untuk rumah secondary, tanyakan siapa yang menanggung pajak penjual, BPHTB, notaris, balik nama, dan biaya lain.

Untuk asuransi, tanyakan apakah premi dibayar di awal, dicicil, atau dipotong saat pencairan. Setiap bank bisa punya ketentuan berbeda. Kalau tidak ditanyakan, biaya ini bisa muncul seperti karakter tambahan di episode terakhir.

Checklist Sebelum Mengajukan KPR

Dokumen Pribadi dan Penghasilan

Dokumen pribadi biasanya mencakup KTP, KK, NPWP, surat nikah jika sudah menikah, dan dokumen identitas lain sesuai ketentuan bank. Dokumen penghasilan bisa mencakup slip gaji, rekening koran, surat keterangan kerja, laporan usaha, legalitas usaha, atau bukti pemasukan.

Untuk karyawan, pastikan data pekerjaan, masa kerja, dan penghasilan sesuai. Untuk wiraswasta, pastikan dokumen usaha dan rekening koran cukup rapi. Untuk freelancer, siapkan bukti kontrak, invoice, mutasi rekening, dan dokumen pendukung lain jika diminta bank.

Buyer juga perlu mengecek cicilan aktif. Kartu kredit, paylater, pinjaman online, cicilan kendaraan, dan pinjaman lain bisa memengaruhi analisis kemampuan bayar. Bank tidak hanya melihat gaji, tetapi juga beban bulanan.

Dokumen Properti dan Transaksi

Dokumen properti bisa mencakup sertifikat, PBB, IMB atau PBG jika tersedia, AJB, PPJB, data developer, bukti pembayaran, dan dokumen transaksi lain. Untuk rumah secondary, pengecekan sertifikat dan kesesuaian data pemilik menjadi bagian penting.

Untuk rumah baru, buyer perlu menanyakan status sertifikat, jadwal AJB, skema PPJB, progress pembangunan, izin proyek, dan ketentuan serah terima. Untuk apartemen, dokumen terkait satuan rumah susun dan pengelolaan juga perlu diperhatikan.

Legalitas tidak boleh diasumsikan aman hanya karena brosurnya rapi. Cek melalui dokumen resmi, notaris atau PPAT, bank, developer, dan pihak terkait. Brosur bisa cantik, tapi dokumen tetap raja.

Rincian Biaya yang Harus Diminta Tertulis

Sebelum mengajukan KPR, buyer perlu meminta rincian biaya awal secara tertulis. Rincian itu sebaiknya memisahkan DP, booking fee, UTJ, BPHTB, PPN jika berlaku, biaya notaris, biaya bank, appraisal, asuransi jiwa, asuransi kebakaran, dan biaya lain.

Untuk BPHTB, Kementerian Keuangan menjelaskan BPHTB sebagai pajak atas perolehan hak atas tanah dan bangunan, dengan dasar hukum yang mengacu pada UU Nomor 1 Tahun 2022 HKPD dan PP Nomor 35 Tahun 2023. Karena BPHTB bersifat pajak daerah, buyer perlu mengecek aturan daerah sesuai lokasi properti. (Kemenkeu Learning Center)

Untuk PPN rumah baru, Direktorat Jenderal Pajak memuat PMK 90 Tahun 2025 tentang PPN atas penyerahan rumah tapak dan satuan rumah susun yang ditanggung pemerintah tahun anggaran 2026. Buyer perlu memastikan langsung ke developer apakah unit yang dibeli memenuhi syarat fasilitas tersebut. (Directorate General of Taxes)

Cara Membaca Biaya Notaris Saat Ambil KPR

Cara Membaca Biaya Notaris Saat Ambil KPR
#attachment_caption

Bedakan Notaris, PPAT, dan Biaya Dokumen

Notaris dan PPAT sering disebut bersamaan dalam transaksi rumah, tetapi fungsinya tidak selalu sama. Notaris berkaitan dengan pembuatan akta otentik tertentu, sementara PPAT berkaitan dengan akta peralihan hak atas tanah dan bangunan. Dalam transaksi KPR, buyer biasanya berhadapan dengan paket biaya dokumen yang bisa melibatkan notaris, PPAT, bank, dan instansi terkait.

Biaya dokumen bisa mencakup pengecekan sertifikat, SKMHT, APHT, AJB, balik nama, roya jika ada, dan pengurusan lain. Komponen ini bisa berbeda tergantung jenis properti, status sertifikat, nilai transaksi, dan kebijakan bank.

Jangan hanya bertanya “berapa biaya notaris?” Tanyakan juga biaya itu mencakup apa saja. Kalau tidak, buyer bisa mengira semua sudah termasuk, lalu bertemu biaya tambahan seperti bertemu plot twist yang tidak diminta.

Tanyakan Paket Biaya dari Bank atau Developer

Dalam KPR primary, developer dan bank kadang sudah memiliki rekanan notaris atau PPAT. Dalam KPR secondary, bank juga bisa menentukan notaris rekanan. Karena itu, buyer perlu meminta rincian paket biaya dari pihak yang menangani transaksi.

Paket biaya notaris bisa terlihat praktis, tetapi tetap perlu dicek. Pastikan biaya tersebut mencakup dokumen apa saja, kapan dibayar, apakah sudah termasuk pajak tertentu, dan apakah ada biaya tambahan jika dokumen bermasalah.

Jika membeli rumah secondary, pastikan juga siapa yang menanggung biaya balik nama, pajak penjual, BPHTB, roya, atau pelunasan sertifikat jika rumah masih diagunkan. Semua ini harus jelas sebelum tanda tangan kesepakatan jual beli.

Jangan Samakan Estimasi dengan Biaya Final

Estimasi biaya notaris bukan selalu biaya final. Biaya bisa berubah jika ada kondisi dokumen tambahan, status sertifikat berbeda, perlu roya, ada pemecahan sertifikat, atau ada pengurusan khusus. Karena itu, buyer perlu meminta update biaya setelah dokumen properti diperiksa.

Di tahap awal, estimasi tetap berguna untuk menyiapkan dana. Namun, sebelum akad, minta angka final atau rincian terbaru. Ini penting supaya buyer tidak mengira biaya sudah selesai padahal masih ada komponen yang belum masuk.

Kalau ada biaya yang terasa tidak jelas, minta penjelasan tertulis. Transaksi properti terlalu besar untuk dijalankan dengan kalimat “nanti diinfokan lagi” yang entah kenapa masih dipakai manusia sebagai sistem manajemen risiko.

Cara Membaca Pajak Saat Membeli Rumah KPR

BPHTB untuk Pembeli

BPHTB adalah pajak yang umumnya ditanggung pembeli saat memperoleh hak atas tanah dan bangunan. UU Nomor 1 Tahun 2022 tentang HKPD mengatur tarif BPHTB paling tinggi sebesar 5% dan ditetapkan dengan Perda. Jadi, angka final perlu dicek berdasarkan lokasi properti dan aturan daerah yang berlaku. (Peraturan.gov)

Rumus umum BPHTB sering dibaca dari nilai perolehan setelah dikurangi NPOPTKP, lalu dikalikan tarif daerah. Namun, nilai perolehan, NPOPTKP, dan teknis perhitungan bisa bergantung pada peraturan daerah. Buyer sebaiknya tidak memakai contoh internet secara mentah untuk semua kota.

BPHTB perlu disiapkan sebelum proses balik nama atau transaksi tertentu. Jika dana ini belum masuk hitungan, proses akad dan pengurusan dokumen bisa tertunda.

PPN untuk Rumah Baru

PPN biasanya relevan untuk pembelian rumah baru dari developer yang merupakan Pengusaha Kena Pajak. Direktorat Jenderal Pajak menjelaskan bahwa dalam kondisi normal pembelian rumah baru dari pengembang umumnya dikenakan PPN 11%. Namun, tahun 2026 memiliki ketentuan PPN ditanggung pemerintah melalui PMK 90 Tahun 2025 untuk rumah tapak dan satuan rumah susun dengan syarat tertentu. (Directorate General of Taxes)

Buyer perlu bertanya apakah harga rumah sudah termasuk PPN atau belum. Tanyakan juga apakah unit masuk fasilitas PPN DTP, apakah syaratnya terpenuhi, dan dokumen apa yang membuktikan fasilitas tersebut digunakan.

Jangan langsung menganggap semua rumah baru bebas PPN. Insentif pajak punya syarat. Dan seperti biasa, syarat adalah cara sistem berkata, “baca dulu, jangan cuma senang.”

Pajak Penjual dan Biaya yang Perlu Dibedakan

Dalam transaksi jual beli rumah, pajak penjual dan pajak pembeli perlu dibedakan. Pembeli biasanya fokus pada BPHTB, sedangkan penjual punya kewajiban pajak tersendiri sesuai ketentuan yang berlaku. Dalam negosiasi rumah secondary, pembagian biaya harus dibuat jelas.

Ada transaksi yang menyebut harga net seller. Artinya, penjual ingin menerima nilai bersih tertentu dan biaya lain bisa dibebankan ke pembeli sesuai kesepakatan. Skema seperti ini harus dibaca hati-hati karena total dana pembeli bisa membesar.

Sebelum sepakat, minta simulasi total biaya berdasarkan skema transaksi. Jangan hanya membandingkan harga rumah di iklan. Harga iklan bisa terlihat menarik, tapi total biaya transaksi adalah angka yang benar-benar keluar dari rekening.

Cara Membaca Asuransi KPR

Asuransi Jiwa KPR

Asuransi jiwa KPR biasanya bertujuan melindungi risiko jika debitur meninggal dunia selama masa kredit. Premi dapat dipengaruhi usia debitur, tenor, plafon kredit, kondisi kesehatan, dan kebijakan asuransi rekanan bank. Setiap bank bisa memiliki perhitungan berbeda.

Bank China Construction Bank Indonesia mencantumkan premi asuransi jiwa bergantung pada usia nasabah, jangka waktu pembiayaan, dan plafon. Ini menunjukkan premi asuransi bukan angka rata untuk semua orang. (CCB Indonesia)

Buyer perlu menanyakan apakah asuransi jiwa dibayar sekali di awal atau menggunakan skema lain. Tanyakan juga apakah premi bisa berubah, apakah ada medical check-up, dan bagaimana perlindungan berlaku.

Asuransi Kebakaran atau Kerugian

Asuransi kebakaran atau kerugian biasanya berkaitan dengan perlindungan objek properti yang menjadi agunan bank. Rumah yang dibiayai KPR menjadi jaminan, sehingga bank perlu memastikan objek tersebut memiliki perlindungan tertentu selama masa kredit.

Maybank Indonesia mencantumkan asuransi kebakaran sebagai salah satu biaya kredit KPR sesuai ketentuan. Buyer perlu menanyakan cakupan perlindungan, masa berlaku, premi, dan apakah perlu diperpanjang selama tenor berjalan. (Maybank)

Asuransi kebakaran tidak boleh dianggap sekadar biaya tambahan. Buyer perlu tahu apa saja yang ditanggung dan apa yang tidak. Jangan sampai baru membaca polis setelah ada masalah, karena itu versi finansial dari membaca manual alat setelah alatnya rusak.

Kapan Premi Asuransi Dibayar

Premi asuransi KPR sering dibayarkan di awal atau saat pencairan kredit, tergantung ketentuan bank. BRI dalam dokumen KPR mencantumkan bahwa biaya provisi, biaya administrasi, dan biaya asuransi harus dibayar lunas oleh debitur saat pencairan kredit. (bri.co.id)

Karena itu, buyer perlu menyiapkan dana asuransi sebagai bagian dari biaya awal. Jangan memasukkan semua dana ke DP lalu berharap premi asuransi bisa diselesaikan belakangan. Bank biasanya punya ketentuan pembayaran yang harus dipenuhi sebelum kredit berjalan.

Minta simulasi premi dari bank sejak awal. Jika ada beberapa pilihan tenor atau plafon, minta bandingkan dampaknya terhadap premi. Premi asuransi bisa ikut berubah saat tenor atau nilai pinjaman berubah.

4. FAQ / QNA

Apa saja biaya yang harus disiapkan saat ambil KPR?

Biaya yang perlu disiapkan biasanya mencakup DP, booking fee atau UTJ, BPHTB, biaya notaris atau PPAT, provisi, administrasi bank, appraisal, asuransi jiwa, asuransi kebakaran, dan biaya lain sesuai ketentuan bank. Untuk rumah baru, PPN juga perlu dicek apakah berlaku atau masuk fasilitas PPN ditanggung pemerintah.

Apakah biaya notaris KPR selalu sama di semua bank?

Tidak selalu sama. Biaya notaris KPR bisa berbeda tergantung bank, notaris atau PPAT rekanan, nilai transaksi, jenis properti, status sertifikat, dan dokumen yang perlu diurus. Buyer sebaiknya meminta rincian tertulis agar tahu biaya tersebut mencakup dokumen apa saja.

Apakah BPHTB wajib dibayar pembeli rumah KPR?

BPHTB umumnya menjadi pajak yang perlu diperhatikan pembeli saat memperoleh hak atas tanah dan bangunan. Besaran BPHTB bergantung pada nilai perolehan, NPOPTKP, dan tarif daerah sesuai Perda. Karena itu, buyer perlu cek aturan daerah sesuai lokasi properti.

Apakah asuransi KPR wajib dibayar di awal?

Dalam banyak produk KPR, premi asuransi jiwa dan asuransi kebakaran dibayar saat akad atau pencairan kredit, tetapi ketentuannya bisa berbeda antar bank. Buyer perlu menanyakan apakah premi dibayar sekaligus di awal, termasuk dalam biaya pencairan, atau memakai skema lain sesuai produk bank.

Apakah booking rumah berarti KPR pasti disetujui bank?

Tidak. Booking rumah atau membayar UTJ belum berarti KPR pasti disetujui. Bank tetap menilai penghasilan, riwayat kredit, dokumen, agunan, appraisal, dan kebijakan internal sebelum memberikan approval kredit.

Banner apartemen tangerang | Infographic
Iklan
Bagikan:
Avatar Katon Fajar Utomo
Katon Fajar Utomo
Penulis Rooma21 448 artikel
Lihat Profil
Katon Fajar Utomo
+

Komentar

Memuat komentar...

Jangan Ketinggalan Info Properti Terbaru!

Dapatkan berita, tips, dan penawaran eksklusif langsung ke email Anda.