Rooma21 Blog

Belum login? Masuk untuk akses penuh

Pencarian

Akun

Login Daftar
Iklan
Iklan

Penjualan Rumah Menurun, Harga Masih Naik, NPL Lewati Angka Covid

31 July 2025
1,422 views
Penjualan Rumah Menurun, Harga Masih Naik, NPL Lewati Angka Covid

Rooma21.com, Jakarta – Pembiayaan KPR 2025 Melemah : Di tengah proyeksi penurunan suku bunga acuan pada 2025, sektor properti residensial justru menunjukkan gejala yang tidak sejalan. Meskipun Bank Indonesia akhirnya menurunkan BI Rate menjadi 5,75% pada Juni 2025, kondisi pasar perumahan sejak awal tahun sudah mencerminkan pelemahan, bahkan sebelum insentif moneter benar-benar terasa di lapangan.

Data Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia mencatat bahwa penjualan rumah masih mengalami kontraksi tahunan (yoy), terutama pada segmen menengah ke atas. Yang menarik, meski penjualan turun, harga rumah nasional justru tetap naik, mencerminkan tekanan biaya dan sikap rigid pengembang dalam melakukan koreksi harga.

Gejala lain yang tak bisa diabaikan adalah penurunan porsi pembiayaan KPR. Jika sebelumnya KPR menyumbang lebih dari 75% terhadap total pembelian rumah, pada kuartal I–2025 porsi tersebut menurun menjadi sekitar 70%. Ini menunjukkan bahwa ekspansi kredit KPR mulai tertahan, baik karena tekanan daya beli konsumen maupun kehati-hatian bank dalam ekspansi portofolio akibat kenaikan NPL

Dan benar saja, kekhawatiran itu terkonfirmasi: tingkat kredit bermasalah (NPL) KPR per Mei 2025 mencapai 3,17% secara agregat, dan melonjak hingga 4,5% pada segmen berpendapatan menengah ke atas, menurut Bank Indonesia. Ini adalah angka tertinggi sejak masa pandemi, dan jadi sinyal penting bagi kualitas portofolio kredit perumahan secara nasional.

Kenaikan NPL KPR: Internal Bank atau Kondisi Pasar? :

Saat NPL KPR per Mei 2025 menembus 3,17% secara nasional—bahkan mencapai 4,5% pada segmen menengah ke atas—respon umum dari para pelaku perbankan cenderung seragam: menyalahkan kondisi pasar. Narasi yang dibawa selalu berkisar pada pelemahan daya beli, shifting preferensi generasi muda, hingga efek suku bunga yang belum sepenuhnya berdampak ke pasar.

Namun benarkah semuanya murni karena pasar?

Fakta di lapangan justru menunjukkan bahwa banyak bank yang terpukul justru bermain di segmen yang sama, dengan pola ekspansi serupa, tetapi menghasilkan kualitas portofolio yang sangat berbeda.

Salah satu bank dengan portofolio KPR non-subsidi terbesar di Indonesia justru mampu menjaga rasio NPL-nya di level hanya 1,5% — jauh di bawah rata-rata industri yang kini menyentuh 3,17%, dan bahkan mencapai 4,5% di segmen menengah ke atas.

Ini membuktikan bahwa tantangan utama bukan semata pada kondisi pasar, melainkan pada bagaimana bank membangun model bisnis dan kerangka kerja operasional yang mampu:

  • menerapkan strategi akuisisi pasar yang tepat,
  • menguasai profil dan dinamika segmen targetnya, serta
  • mengeksekusi proses underwriting secara disiplin dengan dukungan SDM yang terlatih.

“Banyak yang tahu segmennya bagus, tapi gagal menang karena tidak pernah benar-benar membangun sistem untuk menaklukkannya.”

Kalau sama-sama di pasar yang sama, kenapa hasilnya beda?

Jawabannya bukan pada kondisi eksternal, melainkan pada internal bank itu sendiri, karena sebagian besar bank lainnya masih playing victim — menyalahkan market, padahal yang lemah justru sistem dan kemampuan internal mereka sendiri.

Dua faktor kunci yang sering terabaikan adalah:

NPL KPR Melonjak: Apakah Ini Hanya Salah Pasar? NPL KPR 2025
bidak raja catur “Sistem Internal” berdiri kokoh di atas papan, sementara bidak pion “Kondisi Pasar” berjatuhan di tengah badai kota di luar jendela.

⚠ 1. Strategic Risk: Tahu Pasar, Tapi Gagal Memenangkan

Banyak bank sebenarnya tahu target pasarnya: segmen menengah ke atas dengan potensi margin yang lebih besar. Tapi tahu saja tidak cukup.

Yang sering terjadi, mereka tidak membangun model bisnis dan sistem yang mampu menaklukkan segmen itu. Mereka tahu mau ke mana, tapi tidak pernah siap untuk menang, karena:

  • Tidak memahami karakter dan risiko target secara detail,
  • Tidak membentuk tim yang paham dinamika lapangan,
  • Tidak mengintegrasikan strategi, organisasi, dan eksekusi secara menyeluruh.

“Strategic risk itu bukan hanya soal salah target market. Tapi juga soal membiarkan diri kalah, karena nggak pernah bangun sistem yang bisa bertarung di medan yang dipilih sendiri.”

⚠ 2. Operational Risk: Underwriting Payrol-Sentris & SDM Gagal Adaptasi

Masalah berikutnya lebih dalam lagi: kebanyakan sistem underwriting KPR saat ini hanya dirancang untuk segmen pekerja payroll — pegawai tetap, slip gaji, penghasilan rutin. Dan untuk profil seperti ini, sebenarnya underwritingnya cukup pakai mesin, decision engine pun bisa jalan.

Tapi begitu masuk ke aplikasi KPR dari kalangan non-payroll atau non-pekerja formal, underwriting langsung mati gaya. Proses berubah jadi birokrasi, bukan mitigasi.

“Underwriternya bukan cuma nggak siap, tapi juga nggak dilatih membaca realita baru: 60% pasar yang butuh KPR hari ini justru datang dari sektor informal.”

Dan untuk menangani pasar ini, nggak cukup pakai underwriter sapu jagad. Dibutuhkan kapabilitas baru, baik secara metode penilaian risiko maupun kesiapan struktur SDM.

“Selama bank terus playing victim—menyalahkan market sebagai kambing hitam, dan enggan membenahi sistemnya sendiri—maka siklus NPL ini akan terus berulang setiap 5–10 tahun.”

Segmentasi NPL: Saat Segmen Atas Justru Lebih Rentan :

Ilustrasi skala keseimbangan yang tidak seimbang, dengan rumah sederhana segmen bawah berisiko rendah di satu sisi dan vila mewah segmen atas berisiko tinggi di sisi lain, menunjukkan data NPL yang kontras. NPL KPR 2025
Ilustrasi skala keseimbangan yang tidak seimbang, menunjukkan data NPL yang kontras.

Dalam banyak kebijakan perbankan, segmen berpendapatan rendah seringkali ditempatkan sebagai pihak paling berisiko. Mereka dianggap tidak bankable, sulit diverifikasi penghasilannya, dan cenderung rawan gagal bayar. Namun data terbaru Bank Indonesia justru membalikkan seluruh narasi lama itu.

Per Mei 2025, NPL KPR untuk segmen berpendapatan rendah tercatat hanya 2,7 persen. Sementara NPL segmen menengah atas malah tembus 4,5 persen—angka yang mengejutkan sekaligus menyentil paradigma banyak banker yang masih memegang mazhab lama.

Segmen menengah atas ini sebagian besar diisi oleh kalangan pebisnis, self-employed, dan profesional dengan penghasilan besar tapi fluktuatif. Mereka terlihat solid di atas kertas, namun sangat sensitif terhadap pricing dan efisiensi cash flow. Dalam kondisi bisnis yang stabil, mereka justru cenderung melakukan pelunasan lebih cepat—pre-payment—karena beban bunga KPR dianggap terlalu mahal jika dibandingkan dengan return usaha atau bunga simpanan mereka. Apalagi dalam situasi di mana spread bunga KPR masih dipertahankan tinggi oleh bank, (banker masih mematok NIM di atas 5 persen), keputusan melunasi lebih awal menjadi langkah rasional secara bisnis.

Tapi cerita berubah saat iklim bisnis mulai tertekan. Saat margin usaha mengecil atau arus kas mulai ketat, kelompok ini akan langsung melakukan penyesuaian prioritas. Bagi mereka, mempertahankan operasional bisnis jauh lebih penting ketimbang memenuhi cicilan KPR yang dianggap konsumtif. Dan karena mereka lebih rasional dalam pengelolaan uang, maka KPR-lah yang justru dikorbankan lebih dulu.

Ini yang jarang dilihat oleh banyak mortgage banker. Banyak dari mereka justru memberikan approval longgar ke segmen ini dengan asumsi “aman karena pendapatannya besar”. Namun, sistem underwriting yang tidak disesuaikan dengan karakter profil arus kas membuat keputusan itu menjadi bumerang.

Ironisnya, segmen berpendapatan rendah yang selama ini distigmakan malah lebih disiplin. Salah satunya karena skema subsidi yang mereka nikmati menumbuhkan tanggung jawab moral dan sosial yang lebih kuat, serta karena akses pembiayaan mereka terbatas, mereka cenderung lebih menjaga reputasi.

“Jadi, kalau masih ada bank yang ngotot menyalahkan segmen bawah sebagai sumber risiko tertinggi, mungkin yang perlu dikaji ulang bukan nasabahnya, tapi cara bank memahami dan membaca profil risiko secara utuh.”

Porsi KPR Terus Menyusut: Sinyal Melemahnya Daya Serap Kredit:
Jika menelusuri data dari Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia, ada satu tren yang semakin mencolok sejak awal 2024: pembelian rumah melalui skema KPR terus menurun porsinya. Dari yang sempat menyumbang lebih dari 75% dari total pembiayaan rumah, kini KPR hanya menyumbang sekitar 70% saja. Penurunan ini bukan sekadar angka, melainkan sinyal serius tentang mulai goyahnya fondasi pasar perumahan kita.

Apa penyebabnya?

Pertama : tentu karena menurunnya daya beli masyarakat terhadap rumah—khususnya rumah pertama. Masyarakat kelas menengah bawah mulai menahan diri untuk mengajukan kredit, baik karena ketidakpastian ekonomi maupun kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga dan cicilan. Efek psikologis dari tren kenaikan bunga 2022–2023 masih membekas, meskipun Bank Indonesia sudah mulai melonggarkan kebijakan moneter pada pertengahan 2025.

Kedua : karena bank masih gagal membuka akses KPR ke segmen non-payroll. Sebagian besar skema underwriting di bank masih terjebak pada model lama yang hanya cocok untuk karyawan tetap dengan slip gaji. Padahal realita hari ini, sebagian besar atau hampir 60 % kebutuhan rumah datang dari sektor informal, wirausaha mikro, dan pekerja lepas yang tak punya dokumen penghasilan formal. Ini membuat peluang besar tidak bisa dimanfaatkan hanya karena bank tidak mau beradaptasi.

Dan ketiga : yang paling ironis—kenaikan NPL justru membuat bank mengerem atau bahkan menghentikan ekspansi KPR di segmen tertentu. Mereka berhenti menyalurkan KPR ke wilayah, proyek, atau profil nasabah tertentu dengan alasan “risk management”. Padahal, pemohon baru tidak punya hubungan langsung dengan portofolio KPR bermasalah yang lama. Yang seharusnya diperbaiki adalah business process dan model underwriting-nya, bukan malah menyetop booking.

Bank seharusnya melihat ini sebagai momen untuk mereview ulang model bisnis KPR mereka: apakah sudah relevan dengan dinamika pasar? Apakah sistem scoring dan approval sudah cukup adaptif untuk menilai risiko secara tepat? Atau justru, mereka lebih memilih bermain aman sambil menyalahkan market, seperti yang sering terjadi dalam setiap siklus kredit bermasalah?

Faktanya, developer dan konsumen tak berhenti. Mereka hanya berpindah ke bank lain yang masih punya ruang untuk ekspansi. Bank-bank lapis kedua, yang portofolio KPR-nya masih kecil, justru kini punya momentum untuk mengambil alih pasar yang ditinggalkan bank besar.

“Turunnya porsi KPR bukan sekadar akibat permintaan yang melemah, tapi lebih pada kegagalan bank dalam membangun sistem pembiayaan yang tangguh dan responsif. Ketika bank besar rem mendadak, ruang justru terbuka lebar bagi pemain baru yang lebih adaptif.”

Harga Rumah Naik, Tapi Penjualan dan KPR Justru Melemah: Ada Apa?:

Ketika Sistem Internal Lebih Menentukan daripada Turbulensi Ekonomi. NPL KPR 2025
Ketika Sistem Internal Lebih Menentukan daripada Turbulensi Ekonomi.

Di tengah turunnya penjualan dan menyusutnya porsi pembiayaan KPR, ada satu hal yang terasa makin janggal: harga rumah justru terus naik. Menurut data Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia Q1 2025, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) nasional tetap mencatat pertumbuhan positif, meskipun volume penjualan mengalami penurunan signifikan secara kuartalan.

Tren ini memunculkan pertanyaan besar: kenapa harga rumah tidak turun seiring dengan turunnya daya beli dan penurunan serapan KPR?

Ada beberapa penjelasan logis di balik fenomena ini:

  1. Struktur Pasar yang Tidak Kompetitif

Pasar properti primer di Indonesia masih didominasi oleh segelintir pemain besar. Banyak proyek yang dipasarkan oleh developer besar atau BUMN, sehingga mekanisme harga lebih ditentukan oleh brand dan persepsi nilai jangka panjang, bukan semata permintaan dan penawaran real-time.

  1. Cost Structure Developer yang Kaku

Banyak developer menghadapi tekanan biaya tinggi dari sisi tanah, material bangunan, dan beban bunga dari pendanaan proyek. Ini membuat harga rumah tidak bisa serta-merta disesuaikan ke bawah, karena akan langsung menggerus margin bahkan bisa membuat proyek tidak feasible secara finansial.

  1. Skema Harga Psikologis & Cross-Subsidy

Beberapa developer menerapkan model penjualan bertahap atau cross-subsidy pricing — di mana harga dinaikkan perlahan dari batch ke batch untuk menciptakan persepsi “harga akan terus naik.” Ini strategi klasik untuk memunculkan FOMO, meskipun real demand-nya tidak sekuat itu.

  1. Pasokan Baru Ditahan

Ketika pasar sedang lesu, sebagian developer memilih menahan peluncuran produk baru atau menunda penjualan. Ini menciptakan “ilusi kelangkaan” yang menjaga harga tetap stabil atau bahkan naik. Padahal secara stok, backlog cukup tinggi.

  1. Dominasi Pasar Investor

Di beberapa wilayah, pasar perumahan justru digerakkan oleh investor, bukan end-user. Harga lebih merefleksikan spekulasi dan ekspektasi yield ke depan, bukan daya beli aktual masyarakat.

“Inilah paradoks real estate Indonesia hari ini: ketika masyarakat kesulitan mengakses KPR, ketika penjualan rumah menurun tajam, harga rumah malah naik. Ini bukan semata hukum pasar, tapi hasil dari ketidakseimbangan struktur industri.”

NPL KPR 2025

Saatnya Bangun Ulang Model Pembiayaan KPR

Konsep transisi pembiayaan: dari mesin KPR kuno yang rusak ke jembatan data modern yang menghubungkan individu dengan masa depan perumahan inklusif. NPL KPR 2025
Saatnya Merombak Sistem KPR: Menuju Pembiayaan yang Lebih Inklusif dan Adaptif.

Gelombang naiknya NPL KPR dan stagnasi penjualan rumah bukan sekadar masalah jangka pendek. Ini adalah sinyal yang jauh lebih dalam — alarm sistemik bahwa model pembiayaan perumahan nasional sudah waktunya dibongkar ulang. Kita terlalu lama berkutat pada strategi tambal sulam, padahal kenyataannya, sistem ini mulai kedodoran menghadapi perubahan karakter demografi dan pola penghasilan masyarakat urban hari ini.

Realitasnya, lebih dari separuh populasi ekonomi aktif di kota besar saat ini bukan lagi pekerja formal dengan slip gaji bulanan. Mereka adalah pengusaha mikro, freelancer, digital nomad, hingga pekerja lepas yang memiliki income stabil tapi tidak “terlihat” di sistem perbankan konvensional. Namun, underwriting KPR saat ini masih menggunakan pendekatan klasik yang hanya cocok untuk karyawan payroll. Ketika segmen non-formal mengajukan KPR, sistemnya mendadak “mati gaya”, dan underwriting berubah jadi proses birokratis yang tidak inklusif. Padahal justru segmen ini yang menjadi tulang punggung pertumbuhan urban dan permintaan akan hunian.

Bank harus berhenti menyamakan semua nasabah dengan satu cetakan. Kalau mau memperluas akses KPR, maka pendekatan underwriting-nya harus berevolusi. Dibutuhkan sistem baru berbasis cashflow dan profiling digital, bukan sekadar berkas konvensional. Dan tentu saja, SDM perbankan juga harus naik kelas: bukan hanya sebagai penginput data, tapi sebagai analis yang mampu membaca dinamika sosial ekonomi baru.

Fintech-development-services NPL KPR 2025
Fintech-development-services

Kita juga tidak bisa terus menerus menyalahkan pasar. Seringkali, masalah justru datang dari dalam: strategi ekspansi yang tidak matang, ketidaksiapan tim lapangan, dan budaya organisasi yang masih hierarkis. Banyak bank tahu target pasarnya, tapi gagal mengeksekusinya karena tidak memiliki SDM dan sistem yang cukup adaptif. Inilah bentuk nyata dari strategic risk dan operational risk yang selama ini diabaikan. Sayangnya, alih-alih melakukan refleksi internal, banyak institusi justru mengambil langkah rem darurat: menghentikan penyaluran KPR, menutup akses untuk segmen tertentu, atau memperketat approval tanpa perbaikan sistemik. Padahal calon pemohon KPR baru tidak ada hubungannya dengan portofolio NPL lama. Yang perlu diperbaiki bukan pasarnya, tapi sistem underwriting dan manajemen risiko internalnya.

Sementara itu, bank-bank lapis kedua sebenarnya masih punya ruang ekspansi yang besar. Portofolio KPR mereka belum terlalu besar, dan ini bisa menjadi momentum untuk mengambil porsi pasar yang ditinggalkan oleh bank besar yang sedang melakukan “pengetatan”. Apalagi jika bank ini mampu menyasar segmen underserved dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan berbasis data.

Masa Depan FinTech: Didorong oleh Kekuatan Kecerdasan Buatan. NPL KPR 2025
Masa Depan FinTech: Didorong oleh Kekuatan Kecerdasan Buatan.

Namun risiko terbesar justru datang dari arah yang selama ini tidak diperhitungkan: inovasi dari fintech. Saat bank konvensional masih sibuk memperdebatkan margin dan mempertahankan NIM di atas 5 persen, fintech datang dengan model yang lebih relevan dan ramah generasi muda. Konsep seperti rent-to-own (sewa dulu baru beli), rent-back (jual properti tapi tetap bisa ditempati), serta model pembiayaan berbasis blockchain dan smart contract mulai masuk ke radar generasi urban. Di kota-kota besar, kecenderungan konsumen untuk menggunakan jalur non-bank akan makin tinggi, apalagi jika prosesnya lebih mudah, approval-nya cepat, dan struktur angsurannya disesuaikan dengan profil hidup mereka yang tidak konvensional.

Grafik batang yang menunjukkan pertumbuhan pasar AI dalam FinTech global dari 2024 hingga 2029, dengan CAGR 30.9% NPL KPR 2025
Grafik batang yang menunjukkan pertumbuhan pasar AI dalam FinTech global dari 2024 hingga 2029, dengan CAGR 30.9%

Jika bank tidak segera membenahi diri, bukan tidak mungkin pasar pembiayaan properti di masa depan akan berpindah tangan — dari institusi lama yang terlalu kaku, ke pemain baru yang lebih lincah dan memahami kebutuhan pasar secara nyata. Dan kalau itu terjadi, maka bukan cuma pangsa pasar yang hilang, tapi juga relevansi industri perbankan dalam ekosistem perumahan nasional.

Saatnya Berhenti Menyalahkan Pasar :

Di tengah lonjakan NPL KPR, stagnasi penjualan rumah, dan perubahan perilaku konsumen perumahan urban, sudah waktunya pelaku industri—terutama perbankan—berhenti melempar kesalahan ke luar. Pasar bukan kambing hitam. Dan publik juga tidak sebodoh itu untuk terus-menerus menerima narasi lama yang menyalahkan daya beli atau “ketidakpastian ekonomi”

Ilustrasi satir: eksekutif bank menyalahkan awan "Kondisi Pasar" di atas panggung dengan fondasi "Sistem Internal" yang retak. NPL KPR 2025
Ilustrasi satir: eksekutif bank menyalahkan awan “Kondisi Pasar” di atas panggung dengan fondasi “Sistem Internal” yang retak.

Justru sebaliknya. Pasar sedang berubah. Masyarakat kita berkembang. Pola hidup, pola kerja, dan cara mereka membangun masa depan pun ikut berubah. Tapi sebagian besar industri—khususnya sektor keuangan—masih menggunakan lensa dan alat lama untuk membaca realitas baru ini. Di sinilah akar permasalahan kita hari ini.

Kita sedang menghadapi generasi baru pembeli rumah yang tidak mau lagi didikte oleh prosedur kaku. Mereka tidak lagi terpaku pada rumah sebagai simbol status, melainkan sebagai bagian dari strategi hidup yang dinamis: rumah yang bisa dijual kembali, disewakan, dibagi ruangnya, bahkan dikonversi jadi alat produksi. Tapi sistem KPR kita masih menganggap rumah adalah tujuan hidup final. Ada disonansi di situ — antara cara berpikir bank, dan cara hidup masyarakat yang hendak mereka layani.

Krisis ini, jika dibaca dengan jernih, sebenarnya adalah peluang. Peluang untuk melakukan perombakan total model pembiayaan, bukan sekadar memoles tampilan. Peluang untuk membangun model underwriting baru, yang tidak lagi diskriminatif terhadap segmen non-formal. Peluang untuk menyatukan visi antara developer, bank, dan teknologi finansial, agar hunian bukan lagi jadi mimpi yang menjauh, tapi kenyataan yang dirancang ulang bersama.

Siklus NPL yang terus berulang setiap 5–10 tahun bukan karena pasar tidak sehat. Tapi karena sistem tidak belajar. Karena terlalu banyak banker lebih suka bermain aman, menyalahkan market, dan menyembunyikan kelemahan internal di balik angka-angka.

Padahal, kalau ada satu bank yang bisa menjaga NPL-nya tetap rendah di tengah badai—dengan portofolio besar dan segmentasi pasar yang sama—maka itu seharusnya jadi cermin, bukan pengecualian. Artinya bukan pasarnya yang salah, tapi caranya melihat dan mengelola pasar itulah yang harus ditinjau ulang.

Maka, jika hari ini angka NPL tembus 4,5% di segmen menengah atas, sementara segmen bawah justru stabil di 2,7%, kita perlu tanya ulang seluruh asumsi dasar industri ini. Apakah benar kita sudah memahami siapa sebenarnya pasar utama kita? Apakah sistem kita sudah cukup siap menyambut realita ekonomi baru yang sedang terbentuk?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang harus dijawab. Bukan dengan klaim-klaim PR korporat, tapi dengan keberanian membangun ulang seluruh fondasi pembiayaan perumahan nasional dari hulu ke hilir. Karena jika tidak sekarang, kapan lagi?

Iklan
Bagikan:
Avatar Djoko Yoewono
Djoko Yoewono
Penulis Rooma21 182 artikel
Lihat Profil
Djoko Yoewono
+

Komentar

Memuat komentar...

Jangan Ketinggalan Info Properti Terbaru!

Dapatkan berita, tips, dan penawaran eksklusif langsung ke email Anda.