>”Mengapa generasi baru mulai meninggalkan infinite scroll dan mencari konten yang lebih bernilai”
Dunia yang Terlalu Ramai
Jakarta, Rooma21.com – Jika kita melihat sepuluh tahun terakhir, perubahan terbesar dalam lanskap informasi bukanlah munculnya platform baru, melainkan intensitasnya. Informasi tidak lagi dicari—ia mengejar.
Generasi Z adalah generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya dalam sistem algoritmik. Mereka tidak pernah mengalami internet yang “sunyi”. Namun justru karena itu, mereka menjadi generasi pertama yang menunjukkan gejala kelelahan terhadap sistem yang dirancang untuk mempertahankan perhatian tanpa henti.
Menurut laporan DataReportal 2024, rata-rata pengguna internet global menghabiskan lebih dari 6 jam per hari di internet, dengan porsi signifikan pada media sosial dan video pendek. Pada kelompok usia 16–24 tahun, durasi ini bahkan cenderung lebih tinggi dibanding kelompok usia lain. Angka ini bukan sekadar statistik waktu; ia mencerminkan eksposur stimulus yang terus-menerus.
Fenomena inilah yang banyak peneliti sebut sebagai attention fatigue—kondisi ketika paparan konten cepat dan konstan menurunkan kemampuan fokus jangka panjang serta meningkatkan distraksi kognitif. Dalam laporan American Psychological Association beberapa tahun terakhir, overstimulasi digital dikaitkan dengan penurunan kapasitas perhatian dan meningkatnya kelelahan mental, khususnya pada kelompok usia muda.
Namun penting dicatat: Gen Z tidak berhenti mengonsumsi informasi. Yang berubah adalah pola dan ekspektasinya.

Generasi yang Mengubah Cara Mencari Informasi

Jika generasi sebelumnya membuka homepage media untuk membaca berita, Gen Z justru lebih sering menemukan informasi melalui platform sosial dan video. Google masih digunakan, tetapi discovery sering dimulai dari TikTok atau YouTube.
Dalam laporan Pew Research Center 2023 mengenai kebiasaan konsumsi berita generasi muda di Amerika Serikat, sebagian besar responden usia 18–29 tahun mengaku mendapatkan berita melalui media sosial dan platform video. Namun laporan yang sama juga menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap misinformasi dan bias algoritmik.
Di sinilah terjadi pergeseran yang lebih halus. Gen Z tetap berada di platform yang sama, tetapi mulai lebih selektif terhadap sumber. Mereka mungkin menemukan topik melalui video pendek, tetapi akan mencari konfirmasi tambahan melalui pencarian lanjutan, podcast panjang, atau kanal yang dianggap lebih kredibel.
Perilaku ini menunjukkan bahwa kelelahan bukan berarti penolakan terhadap teknologi, melainkan kebutuhan terhadap kurasi.
Baca Juga: Di Era Agentic AI, Brand Mana yang Akan Dipercaya Mesin Pencari?
Overstimulation dan Lahirnya Kebutuhan Kurasi

Platform sosial dirancang untuk mengoptimalkan retensi. Algoritma mempelajari preferensi, memicu emosi, dan menyajikan konten yang semakin relevan—atau semakin ekstrem—agar perhatian bertahan.
Namun sistem ini menciptakan paradoks. Ketika konten semakin banyak dan semakin cepat, kualitas pemrosesan informasi justru menurun. Generasi muda menyadari bahwa viralitas tidak identik dengan kredibilitas.
Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan signifikan pada minat terhadap topik edukasi dan finansial di kalangan Gen Z. Laporan berbagai platform menunjukkan lonjakan pencarian dan konsumsi konten terkait investasi, personal finance, dan pengembangan diri. Ini bukan tren kebetulan; ini refleksi kebutuhan stabilitas di tengah kebisingan.
Fenomena newsletter, podcast long-form, hingga komunitas privat juga tumbuh bersamaan. Ruang-ruang ini menawarkan sesuatu yang tidak diberikan infinite scroll: konteks.
Dampak terhadap Media dan Brand

Perubahan perilaku ini memaksa media dan brand untuk mengevaluasi ulang model distribusi. Model lama bertumpu pada jangkauan masif melalui feed publik. Namun jangkauan tanpa trust semakin rapuh.
Generasi Z tidak alergi terhadap brand, tetapi mereka sensitif terhadap manipulasi perhatian. Konten yang memberikan nilai praktis—bukan sekadar sensasi—memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.
Perubahan ini juga mendorong pergeseran ke model distribusi yang lebih terkurasi: newsletter, komunitas berbasis minat, dan messaging platform. Dalam konteks ini, distribusi tidak lagi tentang “berapa banyak yang melihat”, melainkan “siapa yang benar-benar membaca”.
Media yang mampu membangun otoritas niche memiliki daya tahan lebih tinggi dibanding media yang hanya mengandalkan viralitas headline.
Baca Juga: AI 2030: Krisis Kepercayaan di Tengah Ledakan Teknologi
Apakah Infinite Scroll Akan Hilang?

Tidak. Hiburan tetap menjadi kebutuhan manusia. Infinite scroll tidak akan menghilang, tetapi perannya berubah. Ia menjadi pintu masuk, bukan pusat kepercayaan.
Perubahan ini bersifat struktural, bukan dramatis. Generasi baru tidak meninggalkan platform lama; mereka menyesuaikan cara berinteraksi dengannya. Trust menjadi filter utama, bukan sekadar algoritma.
Menuju 2030: Dari Attention Economy ke Trust Economy

Jika tren ini berlanjut, maka pada 2030 kita akan melihat lanskap informasi yang lebih kompleks namun lebih tersegmentasi. Algoritma tetap kuat, tetapi asisten AI personal akan mulai mengambil peran sebagai kurator utama.
Konten akan semakin melimpah, tetapi reputasi dan kredibilitas menjadi diferensiasi utama. Dalam dunia dengan overabundance informasi, perhatian bukan lagi satu-satunya mata uang. Kepercayaan mengambil alih.
Tanpa memahami attention fatigue, sulit memahami mengapa platform berubah, mengapa AI menjadi layer baru di atas sistem distribusi, dan mengapa generasi baru mulai mencari ruang yang lebih terkurasi.
Artikel berikutnya akan masuk ke salah satu contoh konkret perubahan ini: bagaimana messaging platform mulai mengambil peran sebagai jalur distribusi informasi privat.
Baca Juga: AI Search 2030: Apakah SEO Masih Relevan di Era AI Google?

Pertanyaan Umum Seputar Gen Z dan Attention Fatigue :
Apa itu attention fatigue?
Attention fatigue adalah kondisi kelelahan mental akibat paparan konten digital yang cepat dan terus-menerus, sehingga menurunkan fokus dan kualitas pemrosesan informasi.
Mengapa Gen Z mengalami attention fatigue lebih cepat?
Karena Gen Z tumbuh dalam sistem algoritmik dengan paparan konten pendek dan notifikasi konstan sejak usia muda, sehingga lebih rentan terhadap overstimulasi digital.
Apakah infinite scroll akan hilang?
Tidak. Infinite scroll tetap ada, tetapi fungsinya bergeser menjadi pintu masuk hiburan, bukan pusat kepercayaan informasi.
Apa dampaknya bagi media dan brand?
Media dan brand perlu beralih dari mengejar viralitas ke membangun trust, kredibilitas niche, dan distribusi yang lebih terkurasi.
Apa hubungan attention fatigue dengan AI 2030?
AI akan berperan sebagai kurator personal untuk membantu menyaring informasi dan menggantikan model algoritma massal menuju sistem yang lebih terpersonalisasi.
📚 Referensi :
- Digital 2024: Global Overview Report — DataReportal – Global Digital Insights
- Pew Research Center, “Social Media and News Consumption Among Young Adults”, 2023.
- American Psychological Association, laporan terkait dampak overstimulasi digital pada atensi, 2022–2023.
Komentar