Rooma21.com, Jakarta – Kapitalisme global tampaknya sudah menang. Sistem ini menciptakan pertumbuhan, efisiensi, inovasi, dan mengubah cara hidup manusia dengan kecepatan luar biasa. Tapi kemenangan ini bukan tanpa masalah — karena yang mendominasi bukan sekadar kapitalisme biasa, tapi bentuk ekstremnya: kapitalisme neoliberal. Sistem yang menjadikan produktivitas dan konsumsi sebagai pusat kehidupan, dan menilai segalanya lewat angka, keuntungan, dan efisiensi.
Sistem ini menciptakan pertumbuhan, efisiensi, inovasi, dan mengubah cara hidup manusia dengan kecepatan luar biasa. Teknologi menjangkau semua sisi hidup, ekonomi tumbuh di banyak negara, dan peluang terbuka lebar. Tapi di balik semua kemajuan ini, makin banyak orang justru merasa kosong.
Di balik semua kemajuan itu, makin banyak orang justru merasa kosong.
Generasi muda, bahkan yang berpendidikan tinggi dan bekerja di perusahaan besar, banyak yang merasa hidupnya datar. Mereka kelelahan, kehilangan arah, dan merasa seperti hidup dalam mode autopilot. Di tengah semua kesibukan dan keterhubungan, justru muncul perasaan hampa yang susah dijelaskan.
Salah satu yang mengangkat hal ini adalah Byung-Chul Han, filsuf kontemporer asal Korea Selatan yang kini mengajar di Jerman. Lewat bukunya The Burnout Society, ia menggambarkan masyarakat modern sebagai “masyarakat kelelahan”. Kita hidup dalam budaya yang mendorong individu untuk terus-menerus jadi versi terbaik dari diri sendiri. Bahkan saat istirahat pun, banyak orang merasa bersalah kalau tidak produktif. Liburan pun berubah fungsi—bukan untuk beristirahat, tapi untuk recharge agar bisa kerja lebih keras. Tekanan bukan lagi datang dari luar, tapi dari dalam diri sendiri. Kita jadi capek bukan karena disuruh, tapi karena terus menekan diri agar tetap relevan, berprestasi, dan tidak tertinggal.
Kondisi ini nyambung dengan gagasan dari David Graeber, seorang antropolog asal Amerika Serikat dan profesor di London School of Economics (sebelum wafat di 2020). Dalam bukunya Bullshit Jobs, ia menjelaskan fenomena banyaknya pekerjaan modern yang dianggap tidak berguna oleh pelakunya sendiri. Pekerjaan itu tetap dijalani demi gaji, status, dan karena sistem menuntut begitu. Banyak orang bekerja dari Senin sampai Jumat tanpa rasa memiliki terhadap apa yang dikerjakannya. Mereka sibuk, tapi tidak merasa hidup. Ini menciptakan alienasi: keterputusan antara energi yang dikeluarkan dengan makna yang didapat.
Sementara itu, Slavoj Žižek filsuf dan kritikus budaya asal Slovenia yang dikenal karena gaya bicaranya yang eksplosif dan pemikiran tajam soal ideologi mengingatkan bahwa kapitalisme punya kemampuan menyerap kritik terhadap dirinya sendiri. Bahkan gerakan sosial seperti kesadaran lingkungan, inklusivitas, dan kesehatan mental bisa dijadikan alat promosi korporasi. Sistem ini tampak seolah “progresif”, padahal esensinya tetap mengejar profit. Hal ini menciptakan iklim skeptis: semua tampak sadar, tapi tidak ada yang benar-benar berubah.
Terakhir, Yuval Noah Harari, sejarawan dan penulis asal Israel yang terkenal lewat buku Sapiens dan Homo Deus, memperingatkan bahwa manusia kini berada dalam bahaya kehilangan kendali atas hidupnya sendiri. Kita hidup di era algoritma, di mana pilihan kita—dari apa yang dibeli, ditonton, hingga dipikirkan—semakin banyak diarahkan oleh sistem digital. Algoritma bisa mengenali emosi dan pola perilaku kita lebih dalam dari yang kita sadari sendiri. Akibatnya, manusia perlahan kehilangan agensi dan arah hidup. Kita menjadi “makhluk yang disetir”, bukan makhluk yang memilih.
Kalau kita tarik garis besar dari keempat pemikiran ini: sistem modern ini memang berhasil secara teknis—membangun ekonomi, menciptakan konektivitas, mempercepat segalanya. Tapi dalam proses itu, kita kehilangan hal yang paling dasar—makna.
Kita diajari bahwa nilai manusia diukur dari produktivitas dan konsumsi. Bahwa hidup harus selalu “naik level”. Tapi makin kita kejar semua itu, makin banyak yang kehilangan pegangan. Banyak yang merasa berhasil secara sosial, tapi gagal secara personal. Kita punya semuanya, tapi merasa tidak punya siapa-siapa. Kita merasa tidak dilihat, meski selalu tampil.
Krisis besar abad ini bukan hanya soal teknologi, lingkungan, atau ketimpangan. Tapi krisis yang lebih dalam: manusia kehilangan orientasi hidupnya. Kita tak lagi tahu kenapa kita melakukan apa yang kita lakukan. Tujuan berubah jadi angka, relasi berubah jadi data, eksistensi berubah jadi konten. Inilah krisis eksistensial kolektif yang sedang membayangi dunia modern—krisis yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan update sistem, tapi butuh arah baru.
Ketika Diri Menjadi Data: Identitas Manusia di Era Digital | Kapitalisme

Kita hidup di zaman yang semuanya bisa diukur, ditampilkan, dan disimpan sebagai data. Tapi justru di saat kita paling “terlihat”, kita makin sulit mengenal diri sendiri. Identitas yang dulunya terbentuk lewat pengalaman, nilai, dan relasi mendalamhari ini dibentuk dari luar: jumlah views, likes, komentar, dan validasi digital.
Banyak orang sekarang lebih kenal versi diri mereka di Instagram dibanding versi diri di cermin. Kita jadi ahli membangun “persona”, tapi bingung saat diminta menjawab pertanyaan paling dasar: “Siapa kamu sebenarnya?”
Sherry Turkle, profesor di MIT dan penulis buku Alone Together, menyebut kondisi ini sebagai bentuk keterasingan modern. Kita selalu terkoneksi, tapi makin kesepian. Di layar, kita punya banyak interaksi. Tapi di luar itu, kita mulai kesulitan menjalin relasi yang benar-benar dalam dan hadir. Kita jadi takut pada keheningan, karena di keheningan itu kita bisa merasa hilang arah.
Tekanan untuk punya pendapat di media sosial, untuk terlihat cerdas, untuk tampil lucu, untuk selalu update — semua itu membuat identitas jadi performa. Orang merasa harus membentuk citra, bukan mencari keaslian. Kita bukan lagi menjadi, tapi membangun tampilan tentang siapa yang ingin dilihat.
Zygmunt Bauman menyebut ini sebagai bagian dari “masyarakat cair”—semua berubah cepat, termasuk cara kita memandang diri sendiri. Di era sekarang, identitas bisa berubah dalam semalam, mengikuti tren, algoritma, atau tekanan komunitas. Kita bisa ganti persona sesuai suasana. Satu sisi ini fleksibel, tapi di sisi lain, kita makin sulit menemukan keutuhan diri. Kita jadi rentan, karena fondasi personalnya rapuh.
Fenomena ini makin terasa di generasi muda Indonesia. Di Twitter dan TikTok, kita bisa lihat bagaimana “jadi sarkas” atau “jadi dark” dijadikan gaya bicara—bukan karena refleksi diri, tapi karena takut dibilang cupu. Banyak yang merasa perlu ikut arus komentar, walau nggak tahu apa yang sebenarnya dibela. Konten opini diburu, meski kadang dibuat hanya demi validasi atau naik engagement. Di sisi lain, tekanan untuk jadi relatable bikin orang menghapus sisi asli mereka—takut beda, takut nggak lucu, takut dianggap terlalu serius.
Algoritma membentuk selera, dan itu perlahan membentuk identitas. Kita scroll TikTok dan tahu tren baru, tapi nggak tahu sebenarnya kita suka atau cuma ikut. Kita edit foto sesuai tone viral, tapi lupa wajah asli kita yang dulu.
Jonathan Haidt, psikolog sosial asal AS, menunjukkan bagaimana sosial media mempercepat krisis identitas remaja. Mereka tumbuh dalam ruang yang terus menilai, menuntut, dan membandingkan. Banyak anak muda yang tahu apa yang trending, tapi bingung menjawab “gue sebenarnya siapa?”
Byung-Chul Han melengkapi gambaran ini dengan kritik bahwa kita hidup dalam tekanan menjadi “subjek yang bisa dijual”. Di media sosial, semua harus dikemas: wajah, suara, opini, gaya hidup—semua bisa jadi aset branding. Identitas pun dikomodifikasi. Tapi makin kita berusaha tampil sempurna, makin kosong rasanya di dalam.
Krisis ini bukan sekadar fenomena psikologis. Ini gejala sistemik. Ketika identitas tidak lagi dibangun dari dalam—dari pengalaman, relasi, nilai—tapi dikurasi dari luar, kita kehilangan orientasi dasar sebagai manusia.
Dan kalau manusia tak lagi tahu siapa dirinya, tak tahu apa yang diyakini, dan tak bisa membedakan antara yang otentik dan yang dipoles, maka kita sedang menghadapi sesuatu yang lebih dalam dari sekadar “disrupsi teknologi”.
Kita sedang masuk ke fase baru dari krisis modern: krisis kehilangan diri.
Selalu Online, Tapi Makin Sendirian: Krisis Relasi di Era Digital

Kita hidup di era di mana semua orang terkoneksi. Chat bisa dibalas dalam hitungan detik, video call tinggal klik, status orang lain bisa kita lihat bahkan tanpa diminta. Tapi di tengah banjir koneksi ini, makin banyak orang yang justru merasa sendirian.
Relasi hari ini jadi makin cepat, makin praktis, tapi makin dangkal. Kita terbiasa ngobrol lewat layar, tapi kikuk saat harus duduk berhadapan. Kita bisa menyapa siapa saja secara online, tapi makin sulit menjaga koneksi yang konsisten dan bermakna.
Sherry Turkle, dalam pengamatannya tentang manusia dan teknologi, menyebut fenomena ini sebagai “alone together” — kita bersama, tapi sendirian. Di grup WhatsApp rame, story Instagram berderet, tapi nggak tahu siapa yang bisa diajak ngobrol tanpa basa-basi. Kita jadi akrab dengan “hubungan 3 detik”: like, emoji, DM iseng—tapi jarang ada yang cukup kuat buat diajak diam bareng tanpa canggung.
Zygmunt Bauman pernah bilang bahwa dalam masyarakat cair, hubungan jadi mudah dibentuk… dan mudah dilepas. Tidak ada ikatan yang benar-benar dalam, karena semuanya bergantung pada kenyamanan sesaat. Kita lebih cepat ‘move on’, tapi juga lebih cepat kehilangan rasa.
Di budaya digital sekarang, ghosting bukan cuma istilah. Itu jadi standar. Ganti circle, ganti platform, unfollow, leave group—dan semuanya bisa dilakukan tanpa tanggung jawab emosional. Banyak dari kita jadi terbiasa membangun relasi tanpa keintiman, tanpa kerentanan.
Di Indonesia sendiri, tren ini makin nyata. Anak muda sekarang punya 3–5 grup nongkrong berbeda, tapi nggak yakin siapa yang bisa dimintai tolong jam 2 pagi. Banyak yang punya “teman collab” tapi nggak punya “teman hidup”. Di dating apps, swipe dan match bisa puluhan kali, tapi ketemuan malah canggung. Percakapan lebih mudah dibuka dengan filter atau meme dibanding tanya kabar sungguhan.
Hal ini juga merembet ke keluarga. Banyak orang tua yang tinggal serumah dengan anak, tapi jarang benar-benar ngobrol. Waktu kumpul, semua sibuk dengan layar masing-masing. Kedekatan fisik tidak menjamin kedekatan emosional. Kita tahu banyak tentang dunia luar, tapi makin asing dengan orang terdekat.
Di media sosial, kita saling lihat tapi tidak saling dengar. Kita saling tahu tapi tidak saling hadir. Relasi jadi performa: siapa yang paling harmonis di feed, siapa yang punya “bestie goals”, siapa yang kompak di konten. Tapi di balik itu, banyak relasi yang rapuh, penuh tekanan, dan minim ruang jujur.
Dan ketika manusia kehilangan relasi yang autentik, dia kehilangan tempat berpijak. Karena sejauh apapun kita belajar mengenal diri sendiri, pada akhirnya kita butuh cermin: bukan cermin di layar, tapi cermin dalam bentuk manusia lain yang bisa bilang, “Gue di sini. Gue dengerin lo.”
Inilah krisis relasi yang hari ini membayangi banyak orang: kita selalu online, tapi makin kesepian. Kita punya banyak kontak, tapi sedikit koneksi. Kita dekat secara teknis, tapi jauh secara emosional.
Ini bukan sekadar masalah komunikasi. Ini adalah bagian dari krisis yang lebih besar: saat sistem, teknologi, dan gaya hidup modern membuat manusia makin jauh dari satu sama lain, bahkan dari dirinya sendiri.
Agama Ramai, Tapi Jiwa Sepi: Spiritualitas Menurut Para Pemikir Zaman Ini

Spiritualitas dalam masyarakat modern menjadi salah satu topik penting yang dibahas banyak pemikir besar dunia. Di satu sisi, kita melihat agama tetap hidup, bahkan berkembang. Di sisi lain, kita juga menyaksikan bagaimana banyak orang merasa kehilangan kedalaman, kehilangan arah, bahkan kehilangan hubungan personal dengan nilai-nilai tertinggi yang dulu menjadi pusat kehidupan manusia.
Charles Taylor, filsuf asal Kanada, melihat era modern sebagai era di mana manusia “tidak lagi hidup dalam tatanan spiritual yang terberi.” Dalam bukunya A Secular Age (2007), Taylor menjelaskan bahwa manusia modern tidak hidup dalam satu kerangka kebenaran absolut. Sebaliknya, kita hidup dalam zaman pilihan, relativitas, dan eksposur terhadap ribuan narasi hidup. Akibatnya, banyak orang tidak benar-benar keluar dari agama, tapi juga tidak merasa sepenuhnya “di dalamnya”. Mereka percaya, tapi tidak yakin. Mereka beragama, tapi terus mencari.
Contohnya bisa kita lihat dari banyak generasi muda hari ini yang tetap beragama secara administratif, tapi merasa jauh secara emosional. Misalnya, ikut salat atau misa rutin, tapi merasa kosong; atau mengisi kolom agama di KTP, tapi bingung saat ditanya, “Apa nilai tertinggimu sebagai manusia?”
Karen Armstrong, sejarawan agama yang banyak menulis lintas tradisi, mengingatkan bahwa sejak awal, agama bukan sekadar dogma, melainkan praktik transformasi batin. Dalam The Case for God (2009),
Armstrong menjelaskan bahwa spiritualitas sejati berakar pada welas asih, keterhubungan dengan sesama, dan keheningan kontemplatif. Tapi dalam masyarakat yang serba cepat dan digital, dimensi itu kerap hilang. Agama bisa jadi ramai, tapi keheningan batinnya menghilang.
Misalnya, kita lihat gerakan amal dan kemanusiaan kadang lebih ramai di kalangan komunitas non-agamis atau independen, padahal akar agama justru mengajarkan welas asih. Atau banyak yang aktif dalam kegiatan keagamaan, tapi merasa kewalahan mengelola emosi, trauma, atau rasa bersalah—karena tidak ada ruang dialog yang cukup aman untuk membicarakan itu.
Byung-Chul Han, dalam tulisannya The Disappearance of Rituals (terbit 2019, versi Inggris 2020), mengkritik bagaimana budaya modern telah mengikis struktur simbolik yang menyatukan makna hidup manusia. Ia menyebut bahwa kita kehilangan ritus, kehilangan kedalaman. Segalanya kini diburu dalam bentuk visual, interaktif, dan terfragmentasi. Han menyiratkan bahwa dalam masyarakat digital, agama pun bisa terdorong untuk menjadi “konten” — bukan lagi ruang hening dan pencarian.
Contohnya bisa kita lihat dari bagaimana tradisi seperti mudik, buka puasa bersama, atau Natal jadi ajang foto dan postingan. Simbol tetap ada, tapi makna batinnya kerap tertinggal. Kita rayakan “momen”, tapi kehilangan “kedalaman”.
Fenomena ini terasa di berbagai belahan dunia, termasuk di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin. Ketika agama bertemu dengan sistem kapitalisme dan budaya internet, banyak praktik spiritual mengalami transformasi bentuk. Ritual tetap ada, institusi tetap jalan, tapi esensi sering bergeser ke arah simbolik, sosial, bahkan performatif. Identitas keagamaan hadir sebagai ekspresi luar, tapi belum tentu menembus ke wilayah batin yang paling sunyi.
Zygmunt Bauman menyebut bahwa dalam masyarakat cair, agama pun menjadi pilihan yang bersifat konsumtif. Gagasan tentang masyarakat cair (liquid modernity) dikembangkan Bauman sejak awal 2000-an — terutama dalam bukunya Liquid Modernity (2000), Liquid Love (2003), dan Liquid Fear (2006). Orang bisa “beralih” dari satu komunitas ke komunitas lain sesuai kenyamanan. Tapi hal ini tidak selalu menyelesaikan pencarian makna — justru bisa memperpanjang fase “pencarian tanpa kedalaman.”
Contoh konkretnya, seseorang bisa ikut pengajian atau retret spiritual satu bulan, lalu pindah ke komunitas yoga atau meditasi digital berikutnya. Pencarian makna jadi seperti “window shopping” — cepat ganti, tapi tak pernah menetap.
Dalam konteks ini, kita tidak sedang menyalahkan agama—melainkan sedang melihat bahwa manusia modern butuh cara baru untuk berelasi dengan keyakinan, nilai, dan spiritualitas. Bukan sekadar mengikuti, tapi mengalami. Bukan hanya tahu, tapi merasa. Hanya hafal, tapi terhubung.
Krisis spiritualitas modern bukan karena agama hilang, tapi karena hubungan manusia dengan dimensi spiritualnya menjadi retak, terpisah, atau terdistraksi. Dan ketika manusia kehilangan kontak dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya, dia kehilangan arah—tak lagi tahu bagaimana mengartikan hidup, penderitaan, atau tujuan keberadaannya.
🌍 Ketika Bumi Menjerit dan Manusia Masih Mengejar Pertumbuhan
Di dunia yang katanya semakin modern dan canggih, satu hal terasa makin nyata: bumi sedang sakit.
Suhu global meningkat, laut naik, cuaca makin ekstrem. Hutan terbakar, es mencair, dan spesies punah tiap hari. Tapi ironisnya, di tengah semua ini, manusia masih bicara soal pertumbuhan ekonomi—seakan semua itu tidak punya batas.
Inilah wajah nyata dari krisis abad ini: ketika planet kita yang satu-satunya ini mulai sekarat, sistem ekonomi kita justru terus mendorong konsumsi dan produksi tanpa henti. Seolah pertumbuhan adalah kebenaran absolut, dan segala hal lain—termasuk ekosistem—hanya pelengkap.
Jason Hickel, ekonom dan penulis buku Less Is More (2020), menyebut bahwa krisis iklim bukan semata-mata soal emisi karbon, tapi soal sistem ekonomi yang memang dibangun untuk tumbuh terus-menerus. Ia menyebut sistem ini sebagai “engine of extraction”—mesin yang tidak bisa hidup tanpa mengambil terus dari alam.
Menurut Hickel, pertumbuhan ekonomi di dunia saat ini tidak hanya menciptakan ketimpangan sosial, tapi juga mempercepat kehancuran ekologis. Ia mengusulkan pendekatan baru yang disebut “degrowth” — bukan berarti stagnasi, tapi pertumbuhan yang tidak lagi bergantung pada eksploitasi sumber daya alam.
Naomi Klein, jurnalis dan aktivis lingkungan asal Kanada, dalam bukunya This Changes Everything (2014), bahkan menyebut bahwa sistem kapitalisme pasar bebas adalah lawan langsung dari solusi iklim. Karena selama keuntungan jadi tujuan utama, maka eksploitasi dan polusi akan terus dijustifikasi sebagai “efisiensi”.
Masalahnya, dalam banyak kebijakan pemerintah dan narasi bisnis, pertumbuhan masih dijadikan tolok ukur keberhasilan. Produk domestik bruto (PDB) dianggap sakral. Bila naik: sukses. Bila turun: panik. Padahal, PDB bisa naik karena penebangan hutan, ekspansi tambang, atau pembangunan beton yang merusak ruang hidup—apakah itu bisa dibilang kemajuan?
Bruno Latour, filsuf dan sosiolog Perancis, menyebut bahwa manusia modern hidup dalam ilusi bahwa kita terpisah dari alam. Padahal, realitanya kita hidup di dalam ekosistem, bukan di atasnya. Dalam esainya Facing Gaia (2017), Latour mengajak kita berhenti bersikap seperti penguasa bumi, dan mulai belajar sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri.
Contoh krisis ini bukan lagi hal yang jauh. Indonesia sudah merasakannya:
- Banjir Jakarta makin parah
- Cuaca makin tak menentu
- Wilayah pesisir seperti Demak dan Tegal mulai tergenang air laut secara permanen
- Petani gagal panen karena perubahan musim
- Polusi udara Jakarta jadi salah satu yang terburuk di dunia
Di sisi lain, narasi “green economy” atau “hijau berkelanjutan” seringkali hanya jadi topeng. Banyak korporasi bicara soal sustainability, tapi tetap membuka lahan sawit, membangun kawasan industri, atau mendorong konsumsi besar-besaran lewat iklan yang membius. Kita sering ganti kemasan, bukan sistemnya.
Bumi tidak sedang butuh kita jadi sempurna. Tapi bumi butuh manusia yang sadar bahwa waktu kita makin sempit. Butuh generasi yang berani mempertanyakan: apakah pertumbuhan ekonomi yang kita puja itu masih layak diperjuangkan, kalau harus menghancurkan rumah tempat kita hidup?
Catatan : “Artikel ini merupakan bagian dari seri Trend Perubahan Dunia Baru, yang dipublikasikan secara bertahap di blog Rooma21.com.”
Selanjutnya, baca artikel berjudul: “Dunia 2025: Di Persimpangan Perubahan Sosial dan Ekonomi.”
Visit www.rooma21.com: kami lebih dari sekadar platform properti, rumah ideal dimulai dari referensi yang tepat, rooma21.com: referensi real estate, mortgage & realtor di Indonesia, hadir untuk millenial dan genzie mewujudkan gaya hidup impian.

Komentar