Rooma21 Blog

Belum login? Masuk untuk akses penuh

Pencarian

Akun

Login Daftar
Iklan
Iklan

Coliving & Remote Work: Cara Anak Muda Bertahan di Sistem yang Usang

17 August 2025
421 views
Coliving & Remote Work: Cara Anak Muda Bertahan di Sistem yang Usang

Dunia Lama yang Tidak Lagi Masuk Akal

Rooma21.com, Jakarta. Untuk waktu yang lama, hidup dianggap sukses kalau seseorang bisa punya rumah sendiri, kerja tetap di kantor & punya tabungan untuk pensiun. Model kehidupan ini diwariskan dari generasi ke generasi, dianggap sebagai jalur aman menuju masa depan yang mapan. Namun, sejak hadirnya remote work dan fleksibilitas kerja digital, pola tersebut mulai bergeser. Kini, banyak orang yang tidak lagi terikat pada kantor fisik, melainkan bekerja dari mana saja. Mereka tetap berusaha mewujudkan impian memiliki rumah dan masa depan finansial yang stabil.

Tapi hari ini, realitanya sudah jauh berbeda. Harga rumah naik berkali-kali lipat, sementara kenaikan gaji tak pernah bisa menyusul. Di kota-kota besar, untuk mencicil rumah kecil di pinggiran saja, butuh lebih dari 1 dekade penghasilan. Itu pun belum termasuk biaya hidup harian yang makin tinggi.

Coliving & Remote Work : Cara Anak Muda Bertahan di Sistem yang Usang

Kerja tetap pun tidak lagi seaman dulu. Banyak pekerjaan kantoran sekarang berbasis kontrak, fleksibel di luar, tapi rapuh di dalam. Jaminan sosial menipis, PHK bisa datang tiba-tiba, dan tekanan kerja justru semakin tinggi. Alih-alih stabil, banyak dari kita justru hidup dalam ketidakpastian permanen.

Dan ketika semua aspek kehidupan makin mahal, dari pendidikan, makanan, hingga transportasi, gaya hidup lama perlahan kehilangan maknanya. KPR 20 tahun, mobil pribadi, gaya hidup konsumtif; semua itu bukan lagi simbol kesuksesan, tapi seringkali jadi beban panjang yang menyandera.

“Di titik inilah banyak anak muda mulai berpikir ulang: Apakah memang harus hidup seperti ini? Jika sistem lama tidak memberi ruang untuk tumbuh, kenapa kita tidak cari cara baru untuk hidup?”

Remote Work : Arah Baru yang Dibentuk oleh Keterbatasan

Coliving & Remote Work: Cara Anak Muda Bertahan di Sistem yang Usang

Banyak gaya hidup baru yang sekarang dianggap “keren” atau “inspiratif” sebenarnya lahir dari situasi yang serba terbatas. Pilihan-pilihan yang diambil generasi muda hari ini seringkali bukan soal tren, tapi soal bertahan.

Misalnya, di Jakarta, tren tinggal di coliving seperti Cove, Rukita, dan Bobobox Living makin berkembang. Bukan sekadar ikut-ikutan gaya hidup “anak Jaksel”, tapi karena harga sewa kos individu dengan fasilitas memadai sudah tidak masuk akal. Coliving menawarkan solusi lebih realistis: kamar privat, dapur & area komunal bersama, internet cepat, serta komunitas. Semua dalam satu paket dengan harga yang masih terjangkau untuk pekerja muda atau freelancer.

1. Coliving dan Transformasi Gaya Hidup Urban

“Tren coliving memang lagi naik daun di kota-kota besar. Tapi penting untuk dipahami: tidak semua coliving itu sama. Ada perbedaan mencolok dari sisi konsep, fasilitas, sampai segmen pasar yang disasar.”

Bobobox muncul dari kebutuhan akomodasi praktis dan murah, terutama untuk pelancong, mahasiswa, atau pekerja harian. Konsepnya mirip capsule hotel, dengan teknologi IoT, QR code untuk akses, dan desain futuristik. Fokus utamanya: efisiensi ruang dan biaya. Banyak ditemukan di dekat stasiun, terminal, atau pusat kota, cocok buat mereka yang butuh tempat tidur nyaman tapi nggak perlu ruang besar.

Cove menyasar segmen young professional urban, yang ingin kenyamanan seperti apartemen tapi dengan fleksibilitas sewa bulanan dan komunitas. Cove biasanya menyewa unit-unit di apartemen yang sudah jadi, lalu mereka renovasi, kurasi isinya (sudah dipilih, diseleksi, dan ditata dengan standar tertentu) dan disewakan kembali secara stylish. Targetnya: anak muda yang kerja di kota, ingin tempat tinggal layak, bergaya, tapi nggak mau repot urus sewa tahunan dan beli furniture.

Rukita posisinya di tengah-tengah. Mereka menawarkan kost eksklusif modern yang sudah dipilih, diseleksi, dan ditata dengan standar tertentu, lengkap dengan jasa kebersihan, laundry, internet, dan bahkan event komunitas. Cocok buat mahasiswa atau pekerja muda yang ingin tinggal di tempat “kayak apartemen” tapi tanpa harga yang bikin sesak. Rukita juga lebih aktif mengembangkan properti dari awal (bukan sekadar sewa ulang unit yang sudah ada).

Singkatnya: Bobobox = praktis, efisien, cocok traveler dan short stay Rukita = kost modern, layanan lengkap, semi-komunal Cove = apartemen stylish, fleksibel, privat tapi tetap urban

Di sisi lain, banyak yang resign dari kantor konvensional dan pindah ke freelance atau remote job. Alasannya sederhana: kantor memberi gaji tetap tapi burnout tiap hari, sementara kerja lepas memberi waktu lebih fleksibel walau pemasukan tidak pasti. Platform seperti Upwork, Fiverr, dan LinkedIn mulai jadi “kantor virtual” yang lebih mereka andalkan.

2. Dari Remote Job hingga Frugal Living: Adaptasi Generasi Baru

Gaya hidup frugal living juga makin umum. Bukan berarti pelit, tapi karena banyak yang sadar: membeli baju baru setiap minggu atau ngopi tiap sore nggak relevan kalau cicilan numpuk dan tabungan nol. Ada yang pakai aplikasi budgeting, ada yang tinggal bareng teman untuk hemat sewa, bahkan ada yang jual mobil dan beralih ke transportasi online karena lebih efisien dan minim komitmen jangka panjang.

Contoh lainnya adalah para digital nomad asal Indonesia yang pindah ke kota seperti Yogyakarta, Ubud, atau bahkan keluar negeri seperti Chiang Mai dan Ho Chi Minh City. Mereka tetap kerja remote untuk perusahaan luar, tapi tinggal di tempat yang biaya hidupnya lebih masuk akal, bisa punya waktu istirahat yang layak, dan lingkungan sosial yang lebih suportif.

“Jadi, banyak dari yang disebut “gaya hidup alternatif” hari ini lahir dari kondisi sosial ekonomi yang berubah. Bukan gaya-gayaan, tapi adaptasi atas realita.”

Dunia yang Belum Siap Berubah | Remote Work

Coliving & Remote Work: Cara Anak Muda Bertahan di Sistem yang Usang

Meskipun anak-anak muda mulai bergerak, membentuk gaya hidup baru yang lebih selaras dengan realita, sistem di sekitar mereka belum banyak berubah. Dunia masih beroperasi dengan cara lama dan seringkali malah jadi penghambat.

Contohnya, masih banyak kebijakan yang mendefinisikan layak beli rumah berdasarkan rumus-rumus lawas: cicilan maksimal 30% dari penghasilan, tenor panjang, dan DP minimum. Tapi di lapangan, anak muda dengan penghasilan Rp7–10 juta per bulan justru nyaris tidak punya pilihan hunian di Jakarta, kecuali mengambil KPR di luar kota dengan waktu tempuh 3 jam pulang pergi.

Di sektor perbankan, freelancer dan digital nomad masih sulit mengakses kredit. Meskipun punya pemasukan yang konsisten dari luar negeri lewat platform seperti Upwork atau Fiverr, mereka tetap dianggap “tidak tetap” karena tak punya slip gaji konvensional. Hasilnya, mereka terpaksa hidup tanpa akses pembiayaan jangka panjang.

Sementara itu, pengembang properti masih berlomba membangun apartemen menengah atas dengan harga Rp40–60 juta per meter, jelas bukan untuk first jobber atau pasangan muda. Alih-alih mengembangkan konsep hunian berbasis komunitas, efisiensi ruang, atau sewa jangka menengah, pasar tetap terpaku pada paradigma lama: “beli untuk ditempati atau disewakan”.

Bahkan di dunia kerja, banyak perusahaan masih mengukur loyalitas lewat jam kerja panjang dan kehadiran fisik harian. Padahal anak muda hari ini justru menunjukkan produktivitas lebih tinggi saat diberi ruang dan fleksibilitas. Mereka tidak sedang malas, tapi sedang menolak sistem kerja yang membuat hidup terasa seperti robot.

“Jadi meskipun permukaan terlihat berubah, dari cara tinggal, bekerja, sampai mengelola keuangan, struktur besar di bawahnya belum cukup gesit untuk ikut beradaptasi. Dan itu membuat hidup terasa berat, meski semua serba digital.”

Co-working & Coliving: Harapan yang Tumbuh dari Bawah

Meskipun sistem besar belum berbenah, bukan berarti semua gelap. Justru dari keterbatasan inilah muncul berbagai bentuk harapan yang tumbuh organik, bukan dari kebijakan atas, tapi dari gerakan kecil, kesadaran kolektif, dan keberanian anak muda untuk bikin jalur baru.

Komunitas Mandiri: Dari Coliving hingga Literasi Keuangan

Contohnya, di kota-kota besar mulai muncul komunitas coworking dan coliving skala kecil yang dibentuk secara mandiri. Bukan hanya ruang untuk kerja dan tinggal, tapi juga jadi tempat belajar bersama, berbagi keahlian, bahkan saling support secara mental. Ada yang bentuknya rumah bersama, ada juga yang dikonversi dari bangunan tua yang tidak terpakai.

Di sektor keuangan, makin banyak anak muda belajar mengatur uang sendiri lewat komunitas budgeting, aplikasi pencatat keuangan, bahkan grup diskusi soal FIRE (Financial Independence, Retire Early). Mereka saling berbagi pengalaman, gimana hidup minimalis, investasi dengan realistis, dan tetap bisa punya quality of life walau nggak mapan secara konvensional.

Remote Work: Jalan Global dari Kamar Sendiri

Bahkan dalam hal pekerjaan, tren kerja remote lintas negara makin kuat dan jadi salah satu jalan keluar dari keterbatasan ekonomi lokal. Banyak anak muda Indonesia yang kini bekerja untuk perusahaan asing tanpa perlu pindah ke luar negeri. Mereka tetap tinggal di Indonesia, di Bandung, Yogyakarta, Surabaya, atau Bali, tapi klien atau perusahaannya berasal dari Singapura, Jerman, Australia, bahkan Amerika Serikat.

Misalnya, seorang desainer grafis dari Bandung bisa mengerjakan proyek branding untuk agensi digital di Melbourne. Seorang data analyst dari Yogyakarta sekarang menangani dashboard bisnis untuk startup fintech di Singapura. Seorang front-end developer dari Bali bekerja full-time secara remote untuk perusahaan teknologi di Berlin, dengan bayaran euro. Ada juga virtual assistant dari Bekasi yang tiap pagi mengatur jadwal dan laporan penjualan toko online milik pebisnis di UK. Bahkan seorang copywriter dari Surabaya kini menulis konten sosial media untuk brand lifestyle di Kanada.

Semua pekerjaan itu dilakukan dari kamar, coworking space, atau bahkan kedai kopi, dengan koneksi internet stabil dan tools komunikasi seperti Slack, Notion, atau Zoom.

Model kerja ini membuka realitas baru: kita bisa go global tanpa jadi TKI, tanpa harus pindah negara. Cukup dengan keterampilan digital, kemampuan komunikasi, dan manajemen waktu yang baik, banyak anak muda kini punya kesempatan menghasilkan penghasilan dolar sambil hidup dengan biaya rupiah.

Dan tren ini juga mulai mengubah cara negara-negara maju memandang tenaga kerja. Mereka tidak perlu lagi mendatangkan pekerja asing secara fisik, cukup membuka akses outsourcing digital, efisien dan scalable. Masa depan kerja jelas mulai digeser: bukan soal di mana kamu bekerja, tapi apa yang bisa kamu hasilkan.

Gaya Hidup Baru, Dunia Baru

Coliving & Remote Work: Cara Anak Muda Bertahan di Sistem yang Usang

Apa yang kita lihat hari ini bukan sekadar pergeseran tren. Tapi perubahan mendalam soal cara manusia ingin hidup, bekerja, dan bermakna di dunia yang semakin kompleks.

Generasi muda mungkin terlihat “berbeda” di mata sistem lama, tidak membeli rumah, tidak punya mobil, tidak kerja kantoran. Tapi di balik semua itu, mereka sedang membangun definisi baru soal hidup yang layak: lebih ringan, lebih sadar, lebih jujur pada batas dan harapan diri.

Dan dari pergeseran ini, masa depan baru sedang disusun. Pelan-pelan, dari bawah, tapi pasti.

“Ikuti terus pembahasan mendalam lainnya seputar transformasi gaya hidup, hunian, dan dunia kerja generasi masa kini hanya di blog kami : 👉 www.rooma21.com/blog

Visit www.rooma21.com: kami lebih dari sekadar platform properti, rumah ideal dimulai dari referensi yang tepat, rooma21.com: referensi real estate, mortgage & realtor di Indonesia, hadir untuk millenial dan genzie mewujudkan gaya hidup impian.

Iklan
Bagikan:
Avatar Djoko Yoewono
Djoko Yoewono
Penulis Rooma21 185 artikel
Lihat Profil
Djoko Yoewono
+

Komentar

Memuat komentar...

Jangan Ketinggalan Info Properti Terbaru!

Dapatkan berita, tips, dan penawaran eksklusif langsung ke email Anda.